Rupanya Orang Aceh Lebih Dulu Naik Kereta Api Dibanding Orang Medan

Flashback kereta api Aceh - Medan
Monumen Kereta Api Banda Aceh

Hari minggu yang cerah saya manfaatkan buat jalan pagi, selain udaranya segar juga lumayan buat menggerakan badan yang biasanya hanya bergerak sesekali saat duduk di kursi WFH. Rute mulai dari Jl. Raya Banda Aceh Medan hingga Jl. Muhammad Jam.

Tanpa direncanakan akhirnya mampir di Monumen Kereta Api - Banda Aceh. Monumen ini berada di Jl. Muhammad Jam, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Kurang lebih 500 meter dari Masjid Baiturrahman.

Bangunan monumen ini berada di komplek Swalayan Barata, sebelah kiri dari arah Jl. Muhammad Jam. Saat pandemi Covid-19 mulai masuk Aceh, Swalayan ini beberapa saat tutup sehingga lokasi ini terasa lebih sepi dari biasanya.

Atjeh Tram | Steemet

Monumen kereta api ini sebagai bukti sejarah perkeretaapian di Provinsi Aceh. Dulu pernah jaya, namun saat ini masih perlu perjuangan dan perhatian khusus untuk mengembalikan eksistensinya kembali bagi masyarakat Aceh.

Lokomotif

Monumen kereta api ini ada dua bagian yaitu lokomotif dan 1 gerbong barang. Lokomotif ini bernomor BB 84. BB menunjukkan jenis lokomotif yang memiliki dua bogie (sasis). Untuk masing-masing bogie ini memiliki tiga gander penggerak. 

Gander juga banyak disebut sebagai tuas penggerak. Angka 84 dibelakangnya menunjukkan tahun operasional dari lokomotif yaitu tahun 1984. Lokomotif ini merupakan produk dari Nippon Sharyo Jepang yang diproduksi tahun 1962. (Wikipedia).

Kondisi Monumen Kereta Api

Kondisi monumen kereta api ini perlu perhatian khusus karena beberapa bagian sudah terlihat lapuk dan keropos baik bagian lokomotif maupun bagian gerbongnya. Tidak dapat dipungkiri lokomotif telah aus dimakan usia.

Antisipasi pengelola monumen sudah cukup baik, karena pagar lokomotif ini dikunci agar tidak ada orang yang masuk ke dalam monumen untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan akibat kondisi lokomotif yang sudah tua. 

Di sisi lain yang harus menjadi perhatian bersama yaitu masalah kebersihan. Terdapat sampah bekas makanan dan daun-daun kering dari pohon sekitar yang belum dibersihkan. Baik pihak pengelola monumen maupun masyarakat harus bersama-sama menjaga aset berharga ini. 

Atjeh Tram

Awal mula didirikan kereta api di Aceh pada saat dipimpin oleh Gubernur Jenderal James Loudon. Rencana ini akibat KNIL (Tentara Belanda) mulai terpukul akibat mengalami perlawanan serius dari para pejuang Aceh. 

Tentara Belanda (KNIL) membangun kereta api di Aceh pada tahun 1876. Belanda menyebutnya Atjeh Tram. Pembangunan kereta api dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Koetaradja (Banda Aceh saat ini). Jalur kereta api yang dibangun dengan lebar sepur 1067.

Kereta api di aceh disebut dengan Atjeh Tram yang dikelola oleh Burgelijke Openbare Werken (BOW). BOW melakukan pembangunan dan pengelolaan kereta api yang dibangun di Aceh dari tahun 1876 hingga tahun 1916.

Mengangkut Senjata Perang

Pada awal didirikan kereta api di Aceh bertujuan untuk mengangkut senjata militer Belanda yang dibawa melalui jalur laut. Sebelum di bangun senjata tersebut diangkut melalui darat dengan menggunakan mobil dan binatang (gajah dan kerbau). 

Proses pengangkutan tersebut sangat lama dan membutuhkan banyak biaya. KNIL akhirnya  memutuskan untuk membangun kereta api. Lokomotif didatangkan dari Inggris melalui jalur laut ke Pelabuhan Ulee Lheue. Besi banyak didatangkan dari Singapura, sedangkan kayu untuk bantalannya didatangkan dari Malaka (Malaysia).

Senjata berat seperti meriam, amunisi, dan peralatan perang sangat mudah dibawa setelah kereta api ini dibangun. Selain daripada kereta api ini pun sangat diminati oleh orang-orang Belanda yang ada di Aceh.

Banyaknya peminat kereta Api mendorong BOW melakukan pembangunan kereta api yang berkelanjutan di Aceh. Pada tahun 1884 mulai dibuka Jalur Koetaradja - Ketapang Doea (Banda Aceh - Ketapang Dua).

Pembangunan periode 1882 - 1889 ini BOW mampu membuka jalur dan melayani angkutan umum mulai dari jalur Koetaradja - Ketapang Doea, Koetaradja - Lam Joeng, Ketapang Doea - Lam Djamee, Ketapang Doea - Lam Reng, Lam Baroe - Lam Joeng, Lam Baroe - Lam Reng, Lam Tehoe - Lam Reng.

Perjuangan Teuku Umar

Jalur kereta api merupakan salah satu sasaran Teuku Umar dan para pejuang Aceh lainnya. Banyak sekali jalur kereta api yang dibongkar baik rel maupun bantalannya untuk memutus distribusi senjata dan logistik Belanda.

Perjuangan Teuku Umar dimulai tahun 1897 hingga tahun 1903. Strategi yang digunakan Teuku Umar sangat merepotkan pihak Belanda. Untuk menjaga jalur kereta api agar tidak menjadi sasaran Teuku Umar, pihak Belanda pun banyak membangun pos pertahanan sepanjang jalur kereta api.

Berkat taktik perang gerilya yang diterapkan oleh Teuku Umar, Belanda sangat terpukul dan banyak mengeluarkan biaya untuk menjaga kereta api ini agar tetap dapat dipergunakan. Taktik yang sulit dipatahkan Belanda adalah penyerangan yang dilakukan dari tempat yang berbeda-beda dan tidak terduga.

Kereta Keranda Mayat

Hal yang unik dari kereta api Aceh (Atjeh Tram) yaitu tahun 1892 menyediakan fasilitas gerbong untuk mengangkut pasien dan jenazah. Gerbong ini secara khusus untuk mengangkut militer Belanda yang sakit atau meninggal.

Rute kereta api ini yaitu Panteh Merah - pemakaman militer Peutjoet. Gerbong ini dinamakan dengan E1 yaitu kereta api berupa Rumah Sakit Militer yang memiliki rute khusus.  E1 disebut juga dengan "Perjalanan Tunggal".

Gerbong Jenazah, Wikipedia

Desain (bentuk) gerbong ini mirip dengan keranda mayat dengan hiasan kain yang menutupi bagian pinggir-pinggirnya. Jenazah yang sudah dikemas dalam peti mati akan disusun dengan rapi di gerbong ini. Sedangkan bagi orang sakit akan diletakan dengan kursi roda atau tempat tidurnya langsung.

Tidak diketahui dengan pasti mekanisme penggunaan gerbong jenazah ini apakah dapat dipakai oleh masyarakat Aceh atau tidak. Pada umumnya penjajah Belanda sangat membatasi akses dengan penduduk setempat. 

Atjeh Staats Spoorwegen (ASS)

Sejak Atjeh Tram dibangun tahun 1876 terus melakukan pembangunan dari Pantai Ulee Lheue sampai dengan Pangkalan Susu (1916). Pada tahun 1917 pengelolaan telah diambil alih oleh Atjeh Staats Spoorwegen (ASS) merupakan perusahaan swasta yang melayani transportasi massal.

Sebelum perang dunia kedua jalur Aceh - Medan ini sangat aktif digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Tercatat pengguna layanan kereta api Aceh - Medan ini mencapai 9.000 orang setiap harinya.

Pembangunan jalur kereta api oleh Belanda mencapai panjang jalur 528 Km membentang dari Pantai Ulee Lheue ningga Medan. Biaya yang dikeluarkan diperkirakan sekitar 20 juta gulden. 

Orang Aceh Lebih Dulu Naik Kereta Api

Transportasi masyarakat dan distribusi barang dari Aceh ke Medan pada saat itu sangat aktif. Jika ditarik ke belakang pembangunan jalur kereta api di Aceh lebih dahulu jika dibandingkan dengan Medan. 

Atjeh Trem di Bangun pada tahun 1876 sedangkan kereta api Medan Deli Spoorweg Maatschappij dibangun Pada 1883. Kereta api Medan dibangun lebih kepada kebutuhan transportasi massal dan kebutuhan bisnis.

Bukti sejarah ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sebetulnya lebih dahulu menggunakan transportasi massal kereta api dibandingkan dengan masyarakat Medan. Namun saat ini kereta api Medan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kereta api di Aceh.

Transportasi massal kereta api rute Aceh masih memiliki harapan, perlahan-lahan jalurnya terus dibangun. Jika didukung oleh pemerintah dan seluruh elemen masyarakat kejayaan jalur kereta api Aceh - Medan akan kembali.

Kereta Api Masa Penjajahan Jepang

Setelah Belanda kalah perang melawan Jepang, pada tahun 1942 seluruh wilayah jajahan Belanda diambil alih. Dalam hal ini termasuk pengelolaan kereta api Aceh. Kurun waktu yang singkat Jepang menguasai Indonesia mereka tidak fokus untuk melakukan pembangunan kereta api.

Mereka hanya memanfaatkan fasilitas kereta api yang sudah tersedia peninggalan Belanda. Fungsi kereta api pada masa pendudukan Jepang lebih diutamakan untuk kepentingan militer. Mereka menggunakan untuk fasilitas distribusi senjata dan logistik untuk pertahanan perang.

Pada masa perang kemerdekaan jalur kereta api Aceh banyak yang sengaja di bumi hanguskan oleh para pejuang kemerdekaan. Khususnya jembatan yang lebih mudah dihancurkan dibandingkan dengan jalur biasa.

Jalur kereta di wilayah Idi, Lhokseumawe, Bireuen, Pidie, Aceh Besar menjadi sasaran para pejuang kemerdekaan untuk memutus jalur kereta api Aceh - Medan. Selain jalurnya banyak jembatan juga lokasinya lebih sepi dibandingkan dengan kota-kota besar di Aceh.

Saat Jepang menyerah, jalur kereta api Aceh-Medan banyak mengalami kerusakan. Saat jalur kereta api ini diambil alih oleh PJKA tahun 1945 hingga 1976 jalur ini membutuhkan perbaikan yang memakan biaya yang cukup besar.

Pengelolaan Kereta Api oleh PJKA

Pengelolaan kereta api oleh PJKA dimulai setelah Jepang menyerah. Kereta api jalur Aceh - Medan dikelola dengan inventaris kereta api dari Atjeh Tram baik lokomotif maupun jalur yang dipergunakan. 

PR (Pekerjaan Rumah) PJKA pada awal pengelolaan kereta api Aceh - Medan adalah membangun kembali jalur rel kereta api yang banyak mengalami kerusakan pasca perang kemerdekaan.

Lokomotif, gerbong dan peralatan kereta api masih mempertahankan yang sebelumnya Belanda wariskan. Kereta api Aceh - Medan sejak tahun 1942 hingga 1975 masih aktif beroperasi.

Pada tahun 1976 terjadi banjir bandang di Kabupaten Pidie yang memutus jalur kereta api Sigli - Banda Aceh. Jalur ini sebetulnya dapat diperbaiki, akan tetapi karena masalah finansial akhirnya jalur ini putus dan terbengkalai.

Sejak tahun 1976 hingga tahun 2012 jalur kereta api Aceh - Medan resmi ditutup. Beberapa faktor penyebabnya adalah masalah finansial, kereta api bukan prioritas pembangunan, adanya konflik di wilayah Aceh. 

Pembangunan Jalur Aceh - Medan

Pada tahun 2005 PT. Kereta Api Indonesia melakukan kerjasama dengan Societe Nationale des Chemins de fer Francais (SNCF) yaitu lembaga peneliti perkeretaapian dari Francis. Mereka melakukan penelitian jalur kereta api Aceh - Medan warisan Atjeh Tram. 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa jalur tersebut apakah masih layak dibangun kembali untuk transportasi massal kereta api Aceh - Medan. 

Berdasarkan penelitian tersebut SNCF menyatakan bahwa jalur kereta api Aceh - Medan masih layak dibangun kembali. Pembangunan tersebut dapat disesuaikan dengan jalur rel dan lokomotif dengan lebar sepur 1.435 mm. Sehingga kecepatan kereta api meningkat hingga 50%.

Hasil penelitian ini juga terangkum dalam film dokumenter "Travelogues of Sumatra". Film ini menceritakan susur sejarah jalur kereta api yang ada di Sumatra, salah satunya yaitu jalur kereta api Aceh - Medan.

Kereta Api Aceh Kini

Berdasarkan hasil penelitian dari SNCF ini akhirnya pembangunan kembali jalur kereta api Aceh - Medan dengan perlahan kembali dibangun. Salah satu bukti nyata pembangunan kereta api Aceh adalah jalur kereta api Krueng Mane - Krueng Geukueh Aceh Utara yang membentang sejauh 11,3 Km.

Jalur kereta api ini merupakan jalur perintis pembangunan kereta api Aceh dengan menggunakan lokomotif hasil karya anak bangsa yaitu buatan PT. Inka. Kereta api ini juga diberi nama Cut Meutia sebagai kebanggaan masyarakat Aceh.

Kereta Api Cut Meutia, redigest.web.id

Kereta api Cut Meutia resmi beroperasi pada tanggal 1 Desember 2013. Kereta api ini dikelola oleh Divisi Regional 1 Sumatra Utara dan Aceh. Pada awal pembukaan, jalur ini hanya diberikan tarif Rp. 1.000 per penumpang.

Jalur perintis ini merupakan jalur uji coba baik dari infrastruktur maupun minat masyarakat dalam menggunakan transportasi massal kereta api. Jalur ini tetap beroperasi hingga saat ini sambil menunggu pembangunan jalur kereta api Aceh - Medan terhubung. 

Kita pun patut bangga atas karya PT. Inka yang telah berhasil membangun kereta api yang tidak kalah kualitasnya jika dibandingkan dengan perusahaan lain dari luar negeri. Bahkan beberapa proyek kereta api di luar negeri yang sedang dikerjakan oleh PT. Inka diantara di Madagaskar dan Kongo.

Tantangan 

Kereta api merupakan transportasi massal yang sangat baik untuk mengatasi banyaknya jumlah penumpang, jumlah muatan, ketepatan waktu dan kenyamanan. Namun hal ini akan kembali kepada fokus pembangunan dan minat masyarakat itu sendiri.

Jika pembangunan kereta api menjadi fokus utama pemerintah maka jalur kereta api Aceh-Medan akan segera terealisasi. Realita saat ini pembangunan jalur kereta api dalam proses pembangunan, akan tetapi di satu sisi akan bersaing ketat dengan mobil angkutan umum. 

Tidak dapat dipungkiri jalan lintas Aceh kondisinya sangat baik, kondisi aspal halus, badan jalan lebar, 70% jalurnya lurus dan bebas macet. Selain daripada itu jenis bus dan kendaraan umum lainnya kondisinya sangat baik dan nyaman.

Akan semakin menantang ladi jika jalur tol lintas Sumatra (Aceh - Medan) sudah terealisasi. Transportasi darat akan semakin lancar dan nyaman. Ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi kereta api Aceh - Medan jika tidak berbenah.

Melihat karakteristik masyarakat Aceh yang mengutamakan kenyamanan, ini merupakan kunci utama untuk memenangkan pasar. Kereta api pun akan menjadi pilihan utama masyarakat Aceh jika kualitas pelayanan lebih baik dibandingkan dengan transportasi darat lainnya.

Semoga transportasi massal di Indonesia semakin baik lagi!