Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Singgah di Pasaman Barat

Kali ini kesempatan penulis mengunjungi sebuah kabupaten yang ada di Sumatra Barat, tepatnya menyusuri Kabupaten Pasaman Barat. Kabupaten Pasaman Barat merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Pasaman pada tahun 2003. Pejuang yang terkenal dari daerah ini yaitu Tuanku Imam Bonjol, seorang ulama yang menentang penjajahan Belanda di daerah Pasaman dan daerah Sumatra Utara bagian selatan. Perang ini kita kenal dengan nama "Perang Padri" pada tahun 1803-1838.

Saya sendiri menuju Kabupaten Pasaman Barat ditempuh dari Medan - Padang (menggunakan pesawat), Padang - Bukittinggi (angkutan darat), Bukittinggi - Pasaman Barat (angkutan darat). Perjalanan Medan - Pasaman Barat tidak dapat ditempuh dalam satu hari karena keterbatasan transfortasi dan jarak tempuh yang cukup jauh. Transfortasi menuju Pasaman, akan lebih efektif apabila menggunakan angkutan pribadi, karena angkutan umum biasanya beroperasi pada malam hari.

Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat
Jarak tempuh Padang - Bukittinggi sekitar 3 jam, Bukittinggi - Pasaman Barat sekitar 5 jam. Salah satu faktor yang memperlambat jarak tempuh ini adalah kondisi infrastruktur di daerah pegunungan jalan yang saya tempuh memiliki ruas yang cukup sempit. Harus diakui nich kondisi infrastruktur jalan di daerah Sumatra Barat cenderung lebih baik apabila dibandingkan dengan jalan yang ada di Sumatra Utara. 

Perjalanan ke Kabupaten Pasaman Barat ini memiliki pemandangan yang monoton, karena kanan dan kirinya hanya dipenuhi oleh perkebunan sawit dan sebagian karet. Hal ini menunjukan komoditas utama masyarakat di Pasaman adalah berkebun sawit dan karet. Selain sawit dan karet sebagian penduduk juga menanam jeruk, coklat dan pinang. Masyarakat di Pasaman Barat ini didominasi oleh penduduk Minang, Jawa, Mandailing dan Melayu. Bahasa yang digunakan adalah bahasa minang yang sudah berakulturasi dengan bahasa Mandailing. Di daerah ini juga ciri khas bangunan Minang (Rumah Gadang) tidak begitu dominan, hanya bangunan pemerintahan, sekolah, dan rumah sakit yang memiliki atap Minang, pada umumnya rumah penduduk menggunakan bangunan biasa.

Sate Padang - Khas Pasaman Barat
Hari pertama dan kedua saya menelusuri Desa Baru sampai perbatasan dengan daerah Kabupaten Mandailing Natal - Sumatra Utara. Daerah ini banyak lalu lintas perniagaan penduduk Mandailing Natal dengan Penduduk Pasaman Barat. Bahkan penduduk Mandaliling Natal (Madina) beberapa membeli kendaraan dari daerah Pasaman, sehingga kendaraan tersebut menggunakan Nomor Plat BA (Sumatra Barat). Begitu juga dengan komoditas hasil pertanian, sayuran, sandang, pangan dilakukan transaksi antar propinsi (Pasaman - Madina).

Makanan di daerah Pasaman Barat ini pada umumnya merupakan makanan Minang, namun ada beberapa rumah makan masakan Jawa namun rasanya sudah menyesuaikan dengan selera Minang yaitu cenderung asin dan dominan rasa cabenya. Saya sendiri belum menemukan makanan khas di Desa Baru ini, bahkan rumah makan pun berupa kedai nasi biasa yang berada di sekitar pasar Jorong Sidomulyo. Jorong Sidomulyo sendiri merupakan perkampungan orang Jawa, program transmigrasi Pak Harto sekitar tahun 1980-1985. Suasana Jawa masih terasa di sini, bahkan komunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa penduduk di sini masih fasih loh...(bersambung)...

Post a Comment for "Singgah di Pasaman Barat"