Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lhokseumawe, Loen Na Kisah

Loen Na Kisah, kurang lebih dapat diartikan saya punya cerita tentang Lhokseumawe. Sekitar 2 minggu yang lalu saya berkunjung lagi ke Lhokseumawe salah satu kota kecil yang kental dengan Syariat Islamnya, walaupun 2 malam namun cukup berkesan dengan budaya dan kopi yang begitu nikmat. Memang sebelumnya tahun 2012 yang lalu saya pernah menginjakan kaki ke sini, namun tidak sedetail perjalanan kali ini.

Perjalanan ke Lhokseumawe sangat mudah baik darat maupun udara. Berbicara transportasi umum ke Lhokseumawe/Banda Aceh saya acungi dua jempol dech, saya yakin ini merupakan transportasi darat terbaik se-Indonesia loh. Kondisi Bisnya baru-baru semuanya, bahkan ada yang menggunakan Double Decker seperti di luar negeri loh.


Jalur darat Medan – Lhokseumawe sejauh 337 KM dapat ditempuh selama ± 6 jam. PO Bis jalur ini sangat banyak dari Medan, salah satunya PO Simpati Star yang Pole-nya tepat di depan rumah kontrakan saya. Saya sendiri sering melihat bagusnya bis ini dengan accessories lampu warna-warni seperi aquarium, masing-masing kursi ada TV, selimut, dan wifi gratis. Tiket Bis Medan – Lhokseumawe/Banda Aceh berkisar di harga Rp. 100,000 – 150,000 per orang.

Melalui Pesawat Medan – Lhokseumawe ditempuh selama ± 50 menit saja. Selama ini hanya 2 maskapai yang melayani rute Medan – Lhokseumawe yaitu Garuda Indonesia dan Wings Air. Pesawat yang digunakan berjenis ATR 72-600 dengan tarif tiket berkisar di harga Rp. 500,000 – 1,500,000 per orang.

Lhokseumawe berasal dari Bahasa Aceh yaitu “Lhok” dan “Seumawe”. Lhok dapat diartikan dalam, palung laut, teluk. Seumawe dapat diartikan air yang berputar-putar atau pusat mata air sepanjang lepas Pantai Banda Sakti. Orang Lhokseumawe terdiri dari suku Aceh, Toba, Jawa, Tionghoa dan Minangkabau. Bahasa yang digunakan pada umumnya adalah Bahasa Aceh dan komunikasi formal menggunakan Bahasa Indonesia. (Lhokseumawe, Wikipedia 2016).

Kalau bicara pejuang, Indonesia memiliki segudang pejuang tangguh tidak terkecuali Lhokseumawe yang merupakan bagian dari wilayah perang Aceh. Pejuang besar seperti Panglima Polim, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, sampai dengan Teungku Fakinah. Sejak tahun 1873 memperjuangkan tempat kelahirannya agar tidak dikuasai oleh Belanda (± 30 tahun). Sejak tahun 1903 perlawanan pejuang Lhokseumawe mulai melemah dan daerahnya mulai dikuasai oleh Belanda. Inisiator kekalahan para pejuang Aceh adalah ajaran sesat dari Seorang Dr. Christian Snouck Hurgronje yaitu dengan melumpuhkan kaum ulama dengan cara gerilya dan mambunuhnya. Tahun 1942 Belanda meninggalkan Indonesia dan posisinya digantikan oleh Jepang. Jepang pun meninggalkan Indonesia pada tahun 1945, sisa peninggalan Jepang di Lhokseumawe berupa Goa Jepang di daerah Aceh Utara. (Perang Aceh, Wikipedia 2016).

Bagi orang awam (termasuk saya) mendengar kata Lhokseumawe/Banda Aceh sebelum mengetahui lebih dekat tentunya sedikit waswas dengan maraknya pemberitaan mengenai GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tahun 1977-2005. Bahkan kabar yang masih hangat ditelinga 29 Desember 2015 lalu pimpinan eks kombatan GAM Din Minimi telah menyerahkan diri dan resmi bergabung dengan NKRI. Tidak dipungkiri konflik antara Aparat dengan GAM ada tapi yakin masyarakat biasa seperti saya tidak terlalu berpengaruh, yang heboh kan awak media yang memberitakan sana-sini sehingga mencuci otak para pembacanya. Saya yakin kemanapun dengan niat yang baik, menjadi seorang yang tahu diri, dan tidak menjadi mahluk yang sombong kita akan diterima dan nyaman dengan masyarakat setempat.

Berbicara karakteristik orang Lhokseumawe/Aceh saya hanya akan membahas sekilas yang menonjol saja, sedangkan apabila rekan-rekan ingin memahami lebih dalam silahkan membaca Buku “Memahami Orang Aceh – Dr. Moh. Harun, M.Pd ; Ciptapustaka Media Perintis, April 2009”. 5 kakarteristik orang Lhokseumawe/Aceh yang menonjol yaitu Militan, Reaktif, Konsisten, Optimis dan Loyal.
  • Militan, Orang Lhokseumawe/Aceh memiliki semangat juang yang tinggi hal ini didasari dengan motivasi menjaga harga diri dan keluarga yang dianggap suatu nilai tinggi di masyarakat.
  • Reaktif, ini merupakan salah satu tindakan untuk melindungi diri akibat tidak ingin di usik dan tidak ingin menanggung malu di lingkungan masyarakat.
  • Konsisten, untuk memperjuangkan harga diri masyarakat Lhokseumawe/Aceh memiliki pendirian yang tegas, taat aturan, dan menjaga komitmen.
  • Optimis, bagi orang Lhokseumawe/Aceh segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin sesulit apapun pekerjaan itu harus dicoba dan dilalui dengan penuh perjuangan.
  • Loyal, orang Lhokseumawe/Aceh loyal terhadap pimpinan (terutama Para Ulama) karena Para Ulama mampu menjadi suri tauladan baik, jujur, dapat menghargai, dan tidak saling mencurigai.
Dapat disimpulkan bahwa Orang Lhokseumawe/Aceh memiliki value dan pride yang tinggi. Faktanya transpotrasi massal ke Aceh itu keren-keren, ekeltronik & gadget bermerek, dan tempat hang out (khususnya Kedai Kopi) sangat banyak dengan kualitas baik. Ayo para pebisnis atau perusahaan yang mau ekspansi usahanya di Lhokseumawe ciptakanlah produk-produk yang berkualitas, pelayanan yang ok, kenyamanan, memiliki brand awareness baik di masyarakat, soal harga tidak jadi masalah karena orang Lhokseumawe/Aceh memiliki daya beli yang tinggi.

Kalau yang ini saya berikan bonus informasi untuk para pemuda lajang, Aceh memiliki perempuan cantik yang bermata biru loh, ini dia penduduk keturunan Aceh Lamno (Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya). Orang Aceh Lamno merupakan keturunan Portugis, saat ini komunitasnya semakin sulit ditemukan karena bencana Tsunami 26 Desember 2004 telah merenggut sebagian besar dari mereka. Cantiknya mereka gimana sih? Ini curhat berdasarkan pengalaman saya ya, raut wajahnya sedikit ada tipe orang Arab/India, kulitnya putih dan berbulu alus, dan matanya biru (seakan retinanya menyala) --- ini cantik versi saya, Orang Sunda bukan Orang Bule ya…hehehe. Selain daripada itu hal positif memiliki istri orang Aceh yaitu pada umumnya perempuan Aceh memiliki sifat taat kepada suami, pekerja keras, dan pentang menyerah.

Sebagian besar masyarakat Lhokseumawe berprofesi sebagai wiraswasta, 25,34% lahan digunakan untuk perkebunan campuran (Kopi dan Palawija), 21% lahan pesawahan, 4% untuk profesi lain-lain (PNS, TNI/Polri dan Karyawan). Perusahaan yang paling terkenal di Lhokseumawe adalah PT. Arun (sayang sekali saat ini produktivitasnya semakin menurun, hanya 1 kilang gas saja yang beroperasi) dan PT. Pupuk Iskandar Muda.

Dalam hal politik Lhokseumawe/Aceh memiliki otoritas khusus yang memiliki partai local. Partai Aceh merupakan partai local yang mendominasi 40% suara, PAN dan Partai Demokrat 20% suara, 2% (Partai Gerindra, Nasdem, dan PKS), 1% (PKB, Partai Hanura, dan Golkar). Untuk partai yang berbau agama non Islam sangat kecil dan terfokus di pusat kota saja, sedangkan di daerah pinggiran tidak ada sama sekali.

Produk terkenal dari Lhokseumawe/Aceh adalah Kopi-nya. Saya sangat menyukai kopi Aceh, salah satunya Kopi Sanger. Uniknya Kopi Aceh ini kalau kita minum berapapun banyaknya (asalkan kuat ya) tidak menimbulkan kembung/masuk angin. Lain halnya apabila Kita buat sendiri atau beli di luar Aceh, satu gelas saja sudah terasa kurang enak di perut. Rupanya ada 2 rahasia kesuksesan kopi Aceh, pertama air untuk menyeduh Kopi Aceh ini dinyalakan mendidih selama Kedai Kopi itu buka (air dipertahankan terus dengan suhu 100 derajat). Kedua, kopi akan mengeluarkan aroma/cafein yang paling baik pada suhun 80-90 derajat sehingga orang Aceh menggunakan saringan untuk menarik kopinya beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Tempat nongkrong/Kedai Kopi yang paling mantap di Lhokseumawe salah satunya adalah D’Royal, UK Kupi, So Lom Kupi dan Kana Dapu Kupi. Selain Kopinya enak juga tempatnya nyaman untuk duduk berlama-lama. Karena Lhokseumawe menganut system Syariat Islam, jangan berharap pada Bulan Puasa ada rumah makan atau kedai kopi yang buka pada siang hari ya. Mereka akan membuka RM/CafĂ© nya setelah Solat Isa. Bagi rekan-rekan Non Muslim, kebutuhan makan dan minumnya masih dapat disediakan di hotel tempat mereka menginap atau makanan ringannya dapat dibeli di Indomaret dan Alfamart terdekat.

Untuk makanan sepertinya tidak ada yang menonjol selain Mie Acehnya. Mie Aceh dengan Kepiting Rajanya boleh rekan-rekan coba selain kenyang makannya juga harus bersabar karena harus menggunakan Tang untuk menghancurkan cangkan kepiting yang begitu keras. Selain itu bagi rekan-rekan yang suka ayam sudah tersedia Ayam Penyet Surabaya juga loh.

Penginapan di Lhokseumawe cukup banyak diantaranya Harun Square Hotel, Lido Graha Hotel, Plaza Samudera International Hotel, dan beberapa hotel lainnya. Untuk tempat wisata sendiri Lhokseumawe memiliki beberapa lokasi yang layak rekan-rekan kunjungi, diantaranya:


Pantai Rancong, merupakan Pantai Timur yang berbatasan dengan Selat Malaka. Pantainya dangkal dan memiliki ombak yang tenang. Para wisatawan dapat berenang dengan tenang dan dapat menyewa perahu yang tersedia di sekitaran pantai. (Foto: hananan.wordpress.com)


Waduk Pusong, inilah lokasi yang paling hits bagi para muda-mudi untuk melihat keindahan Kota Lhokseumawe di malam hari. Hamparan warna-warni Kota Lhokseumawe terlihat jelas dari waduk ini. Selain tempat wisata malam hari, pada pagi hari juga lokasi ini dijadikan tempat untuk lari dan tempat olahraga lainnya. (Foto: www.layarberita.com).

Bukit Goa Jepang, ini salah satu peninggalan Jepang di masa kejayaannya. Goa ini diperkirakan dibangun tahun 1943 sebagai basis pertahanan Tentara Jepang di Pantai Blang Panjang. Kompleks Goa Jepang ini memiliki pemandangan indah karena berhadapan lansung dengan dermaga PT. Arun. (Foto: koleksi pribadi, Bukit Goa Jepang).



Pulau Seumadu, lokasi ini berdekatan dengan Perumahan PT. Arun kurang lebih ditempuh sejauh 2 KM menyebrangi jembatan kayu yang menghubungkan daratan dengan pulau. Lokasi ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan untuk bermain air dan menikmati keindahan pantai. (Foto: www.pasirpantai.com).


Perumahan PT. Arun, pada dasarnya tempat ini bukanlah tempat wisata melainkan perumahan karyawan PT. Arun, namun perumahan ini memiliki tanaman dan kolam yang dibangun dengan megah. Pada masa kejayaannya PT. Arun (selama ± 41 tahun) daerah ini disebut kota dollar, dengan berbagai sarana dan fasilitas yang sangat baik. Banyak masyarakat Lhokseumawe menikmati hari libur berjalan-jalan ke daerah ini untuk mengirup udara segar. (Foto: www.skyscrapercity.com).


Demikianlah perjalanan seru ke Lhokseumawe, Lhokseumawe/Aceh seperti filosofi kopi. Secangkir kopi warnanya hitam legam, sepintas tidak ada unsur kenikmatan sama sekali. Tetapi setelah dicoba aromanya wangi, rasanya manis dan bikin ketagihan. Ayo datang ke Lhokseumawe/Aceh nikmati suasana disana, pulangnya jangan lupa membeli Kopinya yang berkualitas tinggi.

Post a Comment for "Lhokseumawe, Loen Na Kisah"

Berlangganan