Perjalanan Melintasi Daerah Banjir Aceh 26 November 2025
Table of Contents
Berbagai sumber informasi bertebaran membicarakan hal tersebut berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Terdapat banyak kesimpangsiuran informasi tersebut, perlu digali lebih cermat untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya. Salah satu alternatif yaitu terjun langsung ke lokasi tersebut.
Tanggal 26 Desember 2025 tepat 1 bulan pasca bencana, kami memulai perjalanan dari Banda Aceh menuju Medan. Tujuan kami ada dua yaitu berlibur dan ingin membuktikan seberapa valid informasi yang kami dapatkan saat ini mengenai bencana tersebut dari berbagai sumber yang saat ini kami terima.
![]() |
| Banjir Aceh | Detik.com |
Kami menggunakan kendaraan pribadi menuju Medan karena kendaraan umum yang beroperasi jumlahnya terbatas yang disebabkan oleh akses jalan alternatif yang masih terbatas untuk kendaraan < 20 ton. Beberapa jalur yang putus diantaranya jembatan Meureudu (Kabupaten Pidie Jaya) dan Kuta Blang (Kabupaten Bireuen).
Perlahan namun pasti kami lalui jalur tersebut dengan sejuta pertanyaan. Apakah aman dilewati? Apakah macet atau tidak? Bagaimana kondisi banjir tersebut? Apakah ada banjir susulan? Dan banyak lagi seputaran bencana tersebut, terutama diulang-ulang oleh istri saya sambil memeluk erat Si Kecil yang terus ngoceh.
Tentunya hal yang sama saya pertanyakan dalam hati, tapi tidak sampai keluar dari bibir ini. Selain untuk menguatkan seluruh anggota keluarga juga 100% tanggung jawab ini ada di genggaman saya. Dalam hati “Bismillah” kita lewati jalan ini dengan hati-hati “semoga semuanya berjalan baik. “Berangkat dengan kondisi baik, begitu juga pulangnya dengan kondisi yang lebih baik”.
Jam 10.00 kami mulai melangkahkan kaki menuju Medan. Perjalanan melintasi daerah terdampak bukan sekadar menyaksikan kerusakan, tetapi membayangkan betapa kerasnya mereka untuk menghadapi ujian terberat. Rumah hancur, makanan dan minuman sangat terbatas, listrik mati, bahkan harus merelakan orang-orang tercintanya dipanggil terlebih oleh Yang Maha Kuasa.
Teman-teman yang terdampak “Kalian Hebat, Kalian Kuat !”.
Jumlah Korban Jiwa dan Pengungsi
Bencana ini menimbulkan korban yang sangat besar, diperkirakan sekitar 433.064 jiwa atau 124.549 kepala keluarga terdampak dan 33.261 jiwa masih harus bertahan di tenda pengungsian. Sekitar 1.000 orang meninggal dunia, korban selamat dalam kondisi rentan yaitu 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lansia, dan 513 penyandang disabilitas.Korban tersebut tentunya sangat membutuhkan penanganan cepat dan tuntas dari pemerintah, swasta, organisasi kemanusiaan, dan individu untuk bahu - membahu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pasca bencana tersebut.
Jalan Penuh Rintangan
Akses transportasi darat yang vital terputus total akibat jembatan-jembatan yang hanyut. Upaya pemulihan dilakukan dengan membangun jembatan Bailey (rangka baja) sementara. Salah satunya di Gampong Teupin Reudep - Bireuen, yang menghubungkan kembali jalur Banda Aceh–Medan dan diresmikan pada 18 Desember 2025.Jembatan sementara ini hanya dapat dilalui satu arah bergantian dengan batas muatan 14 ton, sehingga diperlukan kesabaran bagi seluruh pengguna jalan. Selain daripada itu, jalur menuju Aceh Tamiang dari Medan juga baru dapat dilintasi terbatas pada awal Desember 2025.
Saat melewatinya, Kami membayangkan seperti melewati lorong waktu pasca Tsunami 26 Desember 2004 silam. Bedanya tsunami dulu berupa hantaman air yang cepat surut, sekarang lumpur yang tidak surut bahkan membentuk kontur tanah baru yang sulit ditata kembali.
Banjir bandang tidak hanya merendam, tetapi menghapus permukiman di beberapa daerah terdampak jika dilihat dari peta sebelum bencana. Data statistik menyebutkan sekitar 22 desa dan dusun di tujuh kabupaten lenyap terseret arus. Kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik pun sangat masif:
Bencana Aceh adalah peringatan keras tentang betapa pentingnya menjaga alam (hutan). Beberapa langkah strategis dan saat ini harus ditegakan bersama yaitu:
Dampak yang Parah
Memasuki daerah terdampak, kami melihat dengan kepala sendiri rumah-rumah rata dengan tanah, kondisinya porak-poranda, ada yang tertimbun 80% oleh lumpur. Beberapa jembatan putus, dinding sungai berjatuhan terbawa arus, jalan yang kami lewati sempit diapit oleh gunungan pasir setinggi 0.5 - 3 meter.Saat melewatinya, Kami membayangkan seperti melewati lorong waktu pasca Tsunami 26 Desember 2004 silam. Bedanya tsunami dulu berupa hantaman air yang cepat surut, sekarang lumpur yang tidak surut bahkan membentuk kontur tanah baru yang sulit ditata kembali.
Banjir bandang tidak hanya merendam, tetapi menghapus permukiman di beberapa daerah terdampak jika dilihat dari peta sebelum bencana. Data statistik menyebutkan sekitar 22 desa dan dusun di tujuh kabupaten lenyap terseret arus. Kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik pun sangat masif:
- Perumahan: 9.707 rumah rusak berat, 26.398 rusak sedang, 62.890 rusak ringan
- Infrastruktur Publik: 78 titik tanggul jebol, 59 jembatan rusak berat, 10 jembatan rusak ringan
- Pertanian & Perikanan: 11.929 hektare sawah puso, 10.660,78 hektare tambak terdampak
- Kesehatan & Ibadah: 5 Puskesmas rusak berat, 124 rumah ibadah rusak berat
- Kerugian Material total mencapai Rp1,1 triliun, termasuk Rp572,7 miliar di sektor infrastruktur
Doa dan Harapan
Semoga bencana ini menjadi pelajaran buat kita semua. Teman-teman yang terdampak diberikan kekuatan, yang telah mendahului kita diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Tidak hanya itu bagi pihak-pihak terkait menangani bencana ini dapat menyelesaikannya dengan baik.Bencana Aceh adalah peringatan keras tentang betapa pentingnya menjaga alam (hutan). Beberapa langkah strategis dan saat ini harus ditegakan bersama yaitu:
- Restorasi lingkungan: moratorium izin baru di kawasan hutan lindung dan penertiban pertambangan ilegal
- Penataan ruang berbasis mitigasi bencana dengan mempertahankan daerah resapan air dan tidak membangun di kawasan rawan.
- Penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan komunitas di semua level masyarakat.
- Dukungan berkelanjutan bagi korban, tidak hanya fase tanggap darurat, tetapi hingga mereka benar-benar mandiri kembali.

Posting Komentar