Berhenti Sejenak Jangan Melaut Dulu
Angin meraung-raung seperti mau melumat apa yang dilewatinya. Air laut meninggi dan semakin keras menghantam karang. Maklum bulan Februari curah hujan masih tinggi, itulah yang dirasakan oleh nelayan di Kuala Bubon - Aceh Barat. Saat ini mereka tidak melaut, mereka memarkirkan perahunya rapi sambil menunggu esok hari yang lebih baik.

Ini bukan hal baru, sudah ratusan bahkan ribuan tahun silam nenek moyang mereka sudah melewatinya dengan baik hingga generasi yang saya saksikan saat ini duduk di kedai kopi, bercerita penuh semangat, sambil menunggu kabar baik esok hari.
Sudah dipastikan beberapa hari kedepan mereka bukan siapa-siapa, tanpa pendapatan, tanpa tangkapan ikan karena Angin Barat sedang mengamuk. Mereka di rumah, hanya ngopi, membetulkan jaring, menambal perahu yang bolong, atau menghabiskan waktu bareng keluarga.
Soal kebutuhan hidup tentunya bukan seperti kalangan profesional yang setiap bulannya menerima gaji, atau income harian yang luar biasa seperti para trader atau investor. Atas asas kepercayaan, kebutuhan harian mereka dijamin dengan selembar bon yang ditulis huruf kapital oleh pedagang sembako sebelah rumah.
Kondisi ini memang tidak berlaku bagi semua nelayan, bagi Tekong (kepala nelayan) atau pemilik kapal kondisi keuangan mereka lebih stabil dan sejahtera jika dibandingkan dengan sebagian nelayan kecil yang berada di Gampong Nelayan Kuala Bubon.
Sore hari nampak sebagian nelayan berkumpul di kedai kopi sebelah galangan tempat bersandar perahu mereka. Sebagian besar asik bercengkerama, sebagian lagi mengajak anak-anak mereka memancing ikan kecil yang ada di muara sungai.
Kehidupan mereka tampak sederhana tidak seperti kehidupan para pejabat elit yang sudah memiliki jadwal tetap harian. Itu baru cerita mereka saat darat, lain halnya saat mereka sedang melaut di tengah samudra yang begitu ganas.
Mereka adalah pejuang tangguh, tidak mengenal lelah, tidak takut kilat, badai, bahkan nyawanya sekalipun mereka pertaruhkan demi kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya di darat. Itulah perjuangan dari seorang nelayan yang berada di tengah misteri lautan yang membentang.
Saya sepakat, bulan ini kita parkirkan dulu perahu-perahu itu. Esok kita melaut kembali saat Angin Timur membawa berkah kehidupan yang lebih baik.
Posting Komentar