Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membangun Dunia Pendidikan Melalui "Indonesia Wajib Mengajar"

Tidak terasa liburan Semester 1 2018/2019 sebentar lagi akan usai, tersisa waktu dua hari lagi. Bahkan anak-anak sudah menanyakan "Libur Kita tinggal 2 hari lagi ya Ayah?" --- "Ya tinggal 2 hari lagi, yuk kita siapkan sekolah hari Senin, 7 Januari 2019!".

Waktu begitu cepat, tidak terasa liburan bersama anak-anak selama dua minggu semester pertama ini terasa singkat. Hari Senin lusa mereka sudah kembali menyongsong masa depannya melalui bangku sekolah.

Dunia pendidikan tidak henti-hentinya menarik untuk dibahas, kompleks, simultan, dan banyak keterkaitan satu dengan yang lain. Tri Sentra pendidikan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Apakah itu terkait dengan peserta didik, pendidik, atau pemerintah (regulator / pembuat kebijakan).
Ilustrasi coaching kepada anak-anak
Hal menarik saat ini yang sering dibahas oleh para praktisi pendidikan maupun pengamat dunia pendidikan yaitu mitos NEM, IPK, dan Rangking yang tidak 100% berbanding lurus dengan pekerjaan atau kesuksesan seseorang. (Tulisan Prof. Agus Budiyono - tulisan FB, Prof. Jajang W. Mahri).

Prof. menjelaskan bahwa faktor yang menjadi modal dasar kesuksesan seseorang yaitu berkaitan dengan:
1. Kejujuran (Being honest with all people)
2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
3. Mudah bergaul (Getting along with people)
4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
5. Kerja keras (Working harder than most people)
6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving my career/business)
7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)
9. Hidup teratur (Being very well - organised)
10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products).

------

Dipikir-pikir, diresapi...betul 10 point di atas merupakan soft skill yang sangat dibutuhkan untuk menyongsong kesuksesan seseorang. Pertanyaanya "Tri Sentra Pendidikan di Indonesia sudah memiliki siswa (mindset keluarga), pengajar, wadah, regulasi yang mengarah kepada 10 point tersebut di atas belum?"

Saya meyakini saat ini pendidikan Indonesia baru .... akan menuju ke arah sana tapi waktunya belum dapat dipastikan apakah 5, 10, 15...tahun lagi. Saat ini yang saya rasakan masih seperti siklus dulu saat-saat saya sekolah, nemun baju dan kemasannya yang beda.

Saat ini sekolah sudah menerapkan sistem rayon, namun sekolah favorit / unggulan masih berlaku walaupun tersamarkan oleh sistem tersebut. Sistem NEM, IPK, dan rangking masih berlaku juga. Bahkan sistem CPNS, perusahaan, atau tempat kerja yang lain masih mempertimbangkan usia, IPK, jurusan, atau pengalaman yang pernah dijalani.

Perubahan untuk menilai secara objektif mengenai soft skill seseorang (seperti 10 point di atas) perlahan mulai di gaungkan, namun faktanya cara-cara dahulu seleksi melalui NEM, IPK, atau kriteria lain masih berlaku dan dominan di Indonesia saat ini.

Cara-cara tersebut masih efektif untuk memfilter kandidat yang diinginkan oleh sekolah, organisasi, atau perusahaan. Bisa dibayangkan kalau kriteria tersebut dibebaskan, semua lapisan masyarakat / golongan menyerbu setiap posisi yang kosong, panitia sudah siap belum? Sistem sudah siap belum? Bisa transfaran gak? Untuk saat ini sepertinya belum siap.

------

Mengkritisi, mengomentasi, bahkan menjelekan suatu sistem atau fenomena yang terjadi sebetulnya sangat mudah. Bahkan kalau lihat komentar para Netizen, terlihat canggih-cangih, bahkan seperti profesor yang sangat ahli dibidangnya. Ini lah era digital, semua serba transfaran, apabila kita mau jeli tentunya ada kiritk dan saran yang baik untuk kemajuan ---- dominan yang nyinyirnya...hehehe.

Ada baiknya kita membahas mengenai solusi bukan membahas mengenai kelemahannya aja, kurangi nyinyir perbanyak inisiatif, ide/gagasan. Posisi saat ini wajib kita syukuri karena bisa seperti saat ini pun berasal dari sistem pendidikan Indonesia yang kita cintai ini. Pertanyaannya agar lebih baik lagi, bagaimana dan seperti apa?

Walaupun sulit, kita berandai-andai saja ---- banyak negara di dunia yang "Wajib Militer", seluruh warga negaranya yang dewasa sehat jasmani dan rohani wajib ikut pendidikan militer (bela negara). Salah satu negara favorit Generasi Millenial adalah Korea Selatan.

Korea Selatan mewajibkan seluruh penduduknya untuk wajib militer / pendidikan bela negara selama 1-2 tahun. Mulai dari artis, konglomerat, rakyat biasa wajib mengikutinya. Setelah selesai masa wajib militer tersebut, mereka akan kembali kepada profesinya masing-masing. 
Ilustrasi "Lead by Example", suri tauladan
Bagaimana contoh tersebut diterapkan oleh Indonesia namun dalam bidang pendidikan, "Indonesia Wajib Mengajar". Mulai dari artis, pengusaha, PNS di luar guru, TNI/Polri, atau rakyat biasa yang sudah masuk kriteria mengajar wajib mengajar di sekolah atau kampus-kampus yang ada di Indonesia.

Kok bisa, mengapa, ah gak mungkin? Saya yakin akan mungkin pada waktunya...jika semesta mendukung (mestakung)..heheh. Mengapa wajib mengajar itu penting, jawaban mendasar adalah memberikan "warna baru" oleh para praktisi langsung kepada sistem pendidikan yang ada di Indonesia.

"Warna" tersebut akan masuk ke dalam sendi-sendi pendidikan, yang akan menjadi energi baru untuk menggerakan peserta didik agar lebih termotivasi untuk maju. Hal ini bukan mengesampingkan guru atau dosen, melainkan menciptakan pengalaman / suasana baru yang lebih faktual.

Contoh ketika berbicara ekonomi, saat guru atau dosen yang menerangkan akan berbeda dengan Chairul Tanjung (CT) yang menerangkan, akan memiliki pengalaman / insight berbeda bagi peserta didik. Ketika guru menerangkan sejarah pertempuran akan berbeda dengan Pak Gatot Nurmantyo yang berbicara, akan mendapatkan sensasi yang luar biasa bagi peserta didik.

Contoh lain ketika guru / dosen menerangkan ekonomi kerakyatan, akan berbeda ketika disampaikan oleh abang-abang atau mpok-mpok pelaku di pasar. Ketika guru / dosen menerangkan mengenai dunia entertainment akan berbeda ketika Raffi Achmad yang menjelaskan. Ketika guru / dosen menerangkan era digital akan berbeda ketika yang berbicara Nadiem Makarim.

Ketika pemerintah menetapkan "Indonesia Wajib Mengajar" kepada seluruh masyarakat Indonesia, saya meyakini akan membawa iklim positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Siswa / mahasiswa yang ingin jadi TNI / Polri ketika yang mengajar TNI / Polri seluruh panca indranya menangkap figur TNI / Polri yang diinginkan, termotivasi dan belajar sungguh-sungguh.

Siswa / mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha ketika belajar bersama Sandiaga Uno, akan termotivasi dan mengejar cita-citanya dengan baik. Ketika siswa / mahasiswa ingin menjadi artis belajar bersama Chelsea Islan akan termotivasi untuk belajar dan meraih masa depannya dengan sungguh-sungguh.

Begitu juga bagi mereka yang ingin menjadi ustadz atau mendalami agama ketika pengajarnya Ustadz Abdul Somad atau Ustadz Adi Hidayat, siswa / mahasiswa akan merasakan pengalaman yang luar biasa, mereka akan termotivasi untuk menyongsong cita-citanya tersebut.

Proses belajar tersebut terus menerus dilakukan secara konsisten mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Saya ulangi ---- yakin akan membawa aura / dampak positif terhadap pendidikan di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, 10 soft skill di atas dengan mudah akan diperoleh oleh setiap peserta didik di Indonesia.

-----

Guru / dosennya kemana, mau diapakan? Guru / dosen tetap menjabat profesinya masing-masing. Profesinya tidak akan tergantikan oleh mereka yang ikut "Indonesia Wajib Mengajar", saat ada peserta Indonesia Wajib Mengajar datang, guru / dosen mendampingi kegiatan belajar-mengajar tersebut.

Guru / dosen juga saat ada peserta Indonesia Wajib Mengajar dapat mengambil esensi dari setiap pertemuan untuk dijadikan bahan referensi untuk proses kegiatan belajar-mengajar berikutnya dari para ahli dan praktisi diluar profesinya (sebagai guru / dosen).

Kegiatan Indonesia Wajib Mengajar ini tidak usah muluk-muluk tahunan, cukup hanya sebulan saja (dibagi menjadi 1 minggu di SD, 1 minggu di SMP, 1 minggu di SMA, dan 1 minggu di kampus). Peserta Indonesia Wajib Mengajar ini akan rotasi tempat mengajarnya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, sehingga setiap jenjang pendidikan tersentuh.

Metode mengajarnya pun dapat disesuaikan, tidak wajib masuk kelas masing-masing melainkan dibuat seperti kuliah umum. Untuk SD pesertanya adalah kelas 4 - 6 saja, SMP pesertanya kelas 8 / 9, SMA 11 - 12, kuliah mungkin hanya untuk tingkat 2 (semester 3 / 4).

Para pengajar Indonesia Wajib Mengajar siapa yang bayar? Ini adalah pengabdian kepada negara Bung, kapan lagi mau berbuat baik untuk anak cucu kita, demi masa depan Indonesia yang lebih baik.  Ini peratuan negara loh, ini ada undang-undangnya loh, ini negara yang mewajibkan. Seperti lagu "Padamu Negeri" ....."Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami...".

Setelah selesai Indonesia Wajib Mengajar seluruh peserta didik akan diberikan sertifikat dari masing-masing pengajar. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan motivasi kepada peserta didik bahwa masa depan Indonesia ada pada mereka, baik-buruknya Indonesia ditentukan oleh mereka.

Apabila perlu tulisan dalam sertifikat itu diseragamkan kurang lebih seperti ini: "Masa depan Indonesia ditentukan oleh kalian generasi penerus bangsa, jadilah manusia yang amanah, belajar sungguh-sungguh, raihlah cita-citamu setinggi mungkin, tegakan kedisiplinan dan kejujuran, jangan menjadi koruptor, kelola asset bangsa dengan baik, dan junjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa".

Biarkan sertifikat itu menjadi pengingat siang dan malam, masuk ke dalam relung hati yang paling dalam. Mempengaruhi alam bawah sadar mereka, dan menggerakan alam sadar mereka untuk menjadi generasi tangguh penerus bangsa.

------

"Indonesia Wajib Mengajar" hanya sebatas ide atau saran untuk Pendidikan Indonesia yang lebih baik. Kita sadar bahwa Generasi Millenial atau Generasi Z mereka lebih meyakini informasi faktual bahkan Gadget (ponsel) dibandingkan hanya informasi.

Mereka butuh sesuatu yang konkret, apabila mereka dihadapkan dengan praktisi langsung (akhlinya) mereka akan paham dan meyakini orang tersebut. Contoh kecil saja, panutan saat ini adalah Selebgram atau Youtuber (....informasi lebih nempel dari mereka dibandingkan dari gurunya - fakta anak saya).
Kesuksesan ditentukan oleh dirimu sendiri
Apabila Guru / Dosen tidak dapat mengimbangi informasi update dari data terkini, Selebgram, Youtuber, atau informasi lainnya, mereka akan sulit diterima di kalangan Kaum Millenial atau Generasi Z. Generasi Millenial atau Generasi Z dengan mudah akan membandingkan dengan informasi atau data terbaru yang mereka dapatkan.

Salah satu cara untuk mengimbangi globalisasi informasi dan teknologi yang diyakini oleh Kaum Millenials dan Generasi Z adalah "Seorang Praktisi" di bidangnya masing-masing. Seorang praktisi tidak akan kalah informasi dan pengalaman dari sudut manapun. Sekalipun mereka dihadapkan dengan informasi update, Selebgram, Youtuber, dan lain-lain. Praktisi adalah ahli di bidangnya.

Praktisi akan menjadi panutan bagi Generasi Millenial atau Generasi Z yang dapat menggantikan kuatnya pengaruh dari Selebgram, Youtuber, atau endorser. Apalagi ada wadahnya dan dilakukan dengan positif. Peserta didik termotivasi, diberikan contoh oleh praktisi, bisa dilihat penampilan, cara berbicara, berperilaku, pengalamannya, dan tidak kalah pentingnya yaitu kesuksesannya (*harta /asset dan investasinya).

------

Selamat berakhir pekan, walaupun hanya ide / gagasan semoga "Indonesia Wajib Mengajar" dapat terealisasi.

Post a Comment for "Membangun Dunia Pendidikan Melalui "Indonesia Wajib Mengajar""

Berlangganan