Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Upaya Untuk Menghindari Stress Pada Anak

Setiap orang sependapat bahwa anak merupakan titipan Tuhan sebagai investasi masa depan kita baik untuk dirinya pribadi maupun keluarga. Sejak dini orang tua mempersiapkan masa depan anak agar berkembang dengan baik sesuai yang diinginkan.

Mulai dari memilih jenis pendidikan, lingkungan sekolah, jenis les, ekstrakurikuler semuanya dicurahkan untuk kemajuan anak. Banyak orang tua yang fokus kepada pendidikan anak, mereka berinvestasi berapapun biaya yang dibutuhkan ia tempuh.

Ketika orang tua sudah fokus kepada pendidikan dan masa depan anak, bagaimana dengan anak itu sendiri? Apakah mereka juga merasakan hal yang sama, atau sebaliknya? Tidak semua orang tua atau anak memiliki pemahaman demikian, ketidak sesuaian atau masalah bisa saja terjadi. Semua ada resikonya.
Ilustrasi, sumber: https://cehdvision2020.umn.edu
Banyak kasus yang terjadi ketika sarana dan fasilitas yang diberikan oleh orang tua tidak dimanfaatkan dengan baik oleh anak. Banyak faktor yang mendasari hal ini terjadi, salah satunya yaitu anak stress sehingga tidak dapat menerima berbagai sarana dan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya tersebut.

Jika hal demikian terjadi orang tua harus segera mengevaluasi seluruh aktivitas yang terjadi dalam keluarganya, mengapa anaknya menjadi stress?

Tidak dapat dipungkiri saat ini banyak faktor yang menyebabkan hubungan di dalam keluarga tidak sekuat dulu. Faktor globalisasi teknologi & informasi, tingkat pendidikan, pekerjaan, lingkungan sosial dan demografi sangat menentukan hubungan keluarga seseorang.

Stress pada anakpun banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor keluarga, cacat fisik, peer (teman), lingkungan sekolah (termasuk jenis pendidikan yang dipilih), trauma (faktor internal & external, pengalaman pahit).

Keluarga merupakan faktor yang paling menentukan tingkat stress pada anak. Bahkan anak mendapatkan pengaruh sebesar 70% dari dalam keluarga, sisanya mereka dipengaruhi oleh hal-hal di luar keluarga.

Mengapa demikian? Sejak dini (hubungan suami-istri) membawa gen masing-masing, kemudian pola asuh (ditentukan oleh fungsi keluarga: pendidikannya bagus tidak, tingkat pemahaman agamanya bagus atau tidak, ekonominnya bagus atau tidak, fungsi afeksinya bagus atau tidak, fungsi sosialnya bagus atau tidak, dan fungsi seksualnya berjalan dengan baik atau tidak). Kondisi demikian sangat menentukan kondisi fisik dan psikis si anak.

Orang tua harus jeli melihat anaknya mengalami gejala stress, pada umumnya gejala yang muncul pada anak adalah:
(1). Anak sering mengeluh tetang sakit kepala, perut dan nyeri tertentu pada tubuhnya.
(2). Sulit tidur (insomnia) atau sering bermimpi buruk.
(3). Anak sulit makan atau sebaliknya terlalu banyak makan.
(4). Tidak fokus atau gelisah.
(5). Mudah tersinggung / cepat marah, atau cepat putus asa.
(6). Sulit berkonsentrasi atau memecahkan suatu masalah.

Jika melihat tanda-tanda tersebut, orang tua harus segera melakukan tindakan nyata untuk mengkaji lebih dalam mengenai kondisi keluarga maupun lingkungan tempat anak kita sekolah. Evaluasi dengan seksama setiap hal yang memungkinkan dapat mempengaruhi faktor fisik dan psikis si anak.

Menurut Wilcher seorang peneliti dari American Associations of School Psychology menyampaikan langkah-langkah untuk mengantisipasi stress pada anak. Langkah-langkah tersebut dilakukan dari dalam keluarga untuk menciptakan kondisi fisik dan psikis anak tersebut menjadi lebih baik.

Wilcher menuliskan langkah-langkah tersebut dalam sebuah artikel yang berjudul: "Grab a tiger by the Toe; Stress-Poor Your Child". Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Membantu anak agar bisa cukup tidur

Tidur adalah relaksasi alami yang tidak memerlukan terapis atau alat khusus. Tidur merupakan salah satu alternatif untuk menyembuhkan masalah fisik dan psikis. Tidurpun merupakan salah satu indikator untuk mengetahui bahwa orang tersebut dalam kondisi sehat atau tidak. Jika orang tidak bisa tidur mungkin ia sedang sakit (jasmani / rohani).

Anak-anak pada umumnya akan merasa nyaman ketika sebelum tidur mereka bisa ditemani oleh orang tuanya. Mulai dari cerita sampai dengan belaian, mereka sangat inginkan. Walaupun sederhana namun tindakan tersebut mampu membangun emosional antara orang tua dengan anak.

Sempatkan waktu kita untuk mendampingi anak tidur dan mengajaknya untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Jika anak sudah terbiasa tidur disiplin dan nyenyak, ini merupakan indikasi bahwa dirinya berada dalam kondisi yang fit / sehat.

2. Menyiapkan makan, olah raga, dan bermain dengan cukup.

Makanan bergizi tidak selalu yang mahal, enak di mulut, dan menawan (prestige), melainkan yang memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh (khususnya untuk anak). Pepatah mengatakan "Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat".

Setiap hari orang tua harus menyediakan kebutuhan gizi yang terkandung dalam makanan yang dibutuhkan oleh anak. Kita saat dulu mengenal "4 sehat 5 sempurna", saat ini mengenal "gizi seimbang", itu lah standar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita agar sehat dan kuat.

Tidak dapat dipungkiri saat ini ada sebagian orang tua lebih memilih sosialita dibandingkan dengan makanan bergizi / gizi seimbang. Budget keluarga lebih fokus dialokasikan untuk entertainment, pulsa, gadget atau hangout.

Selain makanan anak juga harus dilatih berolahraga. Langkah yang paling sederhana untuk mengajak anak berolah raga adalah jalan pagi. Anak-anak kita bekali dengan sepeda, kita joging mengikutinya dari belakang.

Jika anak kita sudah besar dan memilih olah raga yang lebih mandiri, kita dukung. Hal ini untuk kemajuan tumbuh kembang dirinya. Selain daripada itu jika serius untuk menggelutinya tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi athlete yang profesional dan dapat mengharumkan nama baik keluarga.

3. Membantu anak agar lebih tenang.

Kehadiran merupakan tindakan yang paling tepat untuk membuat anak kita tenang. Sebisa mungkin waktu kita ada untuk mereka secara pribadi seperti saat makan bersama, jalan ke sekolah, saat akan tidur atau saat mandi (saat anak sebelum dewasa). Hal sederhana namun efektif.

Saat itulah kita berkesempatan untuk membangun emosional dengan anak. Kita dapat menyuntikan enzim-enzim positif kehidupan, mereka dapat mencurahkan seluruh yang ia dapatkan. Kita tampung semuanya apakah itu manis - pahit, bahagia - sedih. Informasi tersebut sebagai data kita untuk mengetahui langkah-langkah selanjutnya untuk membangun mereka.

Sebisa mungkin kita (orang tua) menjadi apa yang diinginkan oleh anak. Mendapatkan cinta dan kasih sayang, sandaran untuk curhat, memecahkan masalah, membahas masa depan, dan lain-lain yang tidak ia dapatkan dari dunia luar (selain keluarga). 

4. Menjawab setiap pertanyaan dari anak.

Kadang pertanyaan anak itu unik, menggelitik, bahkan sangat kritis. Tanpa kita sadari mereka menanyakan sesuatu diluar nalar kita. Walaupun berat tetap kita harus menjawabnya, menjawab dengan versi yang dapat diterima oleh diri mereka. Menjawab sesuai dengan norma yang berlaku. Menjawab dengan tujuan positif dan membangun mereka.

Seperti paragraf di atas bahwa sebaik dan seburuk apapun pertanyaan dari anak harus kita tampung. Jangan biarkan mereka bertanya kepada orang lain sebelum punya pondasi jawaban dari diri kita. Mengapa? Hal ini untuk membangun kepercayaan diri orang tua dan anak dalam menyikapi suatu permasalahan.

Apabila anak sudah memiliki pondasi, walaupun kecil namun sudah bisa berdiri. Alangkah baiknya jika pondasi itu betul-betul kuat dari dalam keuluarga. Orang tua mampu menjawab seluruh pertanyaan anak dengan baik, ilmiah, tepat, akurat, dan sesuai dengan yang diinginkannya.

Akan menjadi suatu boomerang jika orang tua tidak mau mendengar atau sengaja menghindari pertanyaan dari anak. Mungkin menganggap hal itu tidak penting, sibuk, atau merasa orang tua lah yang harus bertanya dan memberikan perintah (seperti raja / otoriter). Mungkin saja anak tersebut akan segan untuk bertanya dan memilih orang lain untuk menjawab seluruh keluh kesahnya. Bahayanya jika orang tersebut adalah orang yang tidak tepat, anak kita bisa menjadi korbannya.

5. Membuka diri agar anak lebih terbuka.

"Saat membuka jendela, maka angin akan masuk", itu lah istilah yang dapat kita ambil hikmahnya dalam membangun hubungan antara orang tua dengan anak. Mulailah terbuka dari diri orang tua, maka anak secara otomatis akan mengikuti sikap dan perilaku terbuka orang tua.

Sejak dini anak dilibatkan dalam kegiatan keluarga, mulailah dari hal-hal kecil yang dapat mereka lakukan. Contoh kecil adalah memilih pakaian, kita percayakan kepada anak untuk bisa memilih pakaiannya sesuai dengan seleranya. Memilih makanan, memilih buku cerita, memilih sepatu, memilih jurusan, memilih kuliah dan lain-lain.

Jika hal tersebut sudah sesuai dengan kondisi diri mereka maka kita layak untuk mendukungnya. Hal sebaliknya jika tidak sesuai, sebagai orang tua dapat memutuskan bahwa hal tersebut tidak layak untuk dirinya. Sampaikan alasan mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan atau dipilih.

Pilihlah cara komunikasi yang efektif dan tepat. Apakah harus dilakukan secara pribadi, musyawarah keluarga atau menggunakan pihak lain seperti nenek, kakek, atau saudara-saudaranya. Silahkan orang tua dapat memilih alternatif tersebut sehingga pesannya tepat sasaran.

6. Mendukung pertemanan anak yang sehat.

Anak sangat membutuhkan teman baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun kegiatan lainnya seperti organisasi atau ekstrakurikuler. Kata kuncinya adalah "positif", kita tidak membatasi pergaulan mereka dimana arah dan tujuannya adalah positif.

Semakin banyak anak bergaul, maka anak akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Memiliki banyak teman akan menambah wawasan dan pengalaman. Hal yang lebih sensitif pun seperti mengenal lawan jenis (pacaran) orang tua harus terbuka. Itu adalah hal alami yang dialami oleh anak yang normal.

Namun hubungan lawan jenis ini sangat sensitif dan berbahaya jika tidak ada pondasi yang membentenginya. Pondasi yang paling baik adalah pemahaman agama. Jika anak sejak dini ditanamkan pemahaman terhadap agama dengan baik, maka dia akan memilih jalur yang telah diajarkan oleh agama karena ia tahu dampak yang ditimbulkan oleh perilakunya tersebut.

7. Menjadi contoh yang positif

"Satu perbuatan, dapat mewakili 1.000 kata-kata". Itu lah pribahasa yang mewakili bahwa perbuatan itu lebih dahsyat daripada kata-kata. Contoh / perilaku orang tua dapat mewakili 1.000 kata-kata untuk mendidik anak. Itulah yang dilihat, dirasakan, dan didengar oleh anak sehingga seluruh panca indranya menerima didikan / ajaran dari orang tuanya.

Jangan menyalahkan anak kita jika dia hobi pegang ponsel, jangan salahkan anak jika dia jarang solat dan mengaji, jangan salahkan anak jika tidak rajin belajar. Terlebih dahulu lihat bagaimana orang tuanya sering main ponsel di depan anak / istrinya, jarang melakukan solat dan mengaji di depan anak / istrinya, jarang membuka buku di depan anak / istrinya, dan masih banyak lagi.

"Sedikit berkata, banyak berkarya", itu lah harapan untuk memberikan suri tauladan yang baik bagi anak. 

8. Mencari alternatif pengobatan jika anak sudah terlanjur stress.

Apabila memang anak kita sudah terlanjur stress, apa mau dibilang saatnya kita memperbaiki kondisi kita dan anak kita. Tidak ada kata terlambat untuk suatu kebaikan. Sebelum memutuskan sesuatu sebaiknya telusuri terlebih dahulu akar permasalahannya, apakah dari diri kita (orang tua), diri si anak, atau dari lingkungan.

Setelah diketahui akar permasalahannya, berlanjut ke cara mencegah atau menyelesaikan permasalahan tersebut. Mungkin karena sikap orang tua yang terlalu arogan, otoriter, menyekolahkan di tempat yang jauh (sehingga anak cape / lelah), memiliki teman yang kurang baik, putus cinta, punya ambisi untuk membeli sesuatu, dan lain-lain.

Jangan ditampung sendiri, masalah dalam keluarga itu berat. "Kamu tidak dapat menerimanya sendiri". Komunikasikan dengan istri / suami, kondisi anak kita yang sesungguhnya. Injaklah ego yang sering menjadi unsur masalah, pergunakan pikiran yang jernih dan hati nurani yang tulus. Sama-sama pikirkan solusi apa yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anaknya (pembahasan point 9 - 10).

9. Melibatkan guru, wali kelas, dan teman di sekolah.

Guru atau wali kelas anak merupakan orang yang paling intent di sekolah untuk memantau perkembangan siswa (anak kita). Orang tua sebisa mungkin menjalin hubungan dengan guru / wali kelas dengan baik. Selain untuk kebutuhan anak kita, juga sebagai bentuk tanggung jawab pendidikan anak kita.

Konsultasikan dengan mereka mengenai perkembangan anak kita apakah ada kendala yang dihadapi selama di sekolah. Jika ada silahkan dapat didiskusikan dengan guru / wali kelas yang bersangkutan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan anak kita.

Informasi yang kita dapatkan dari guru / wali kelas merupakan data yang dapat kita verifikasi dengan anak yang bersangkutan. Data ini tidak serta merta menjadi suatu keputusan, melainkan hanya sebagai acuan dasar saja. Perlu adanya keselarasan yang terjadi sebenarnya pada anak kita. Orang tua tidak semata-mata mengambil data guru, atau sebaliknya dari anak. Melainkan harus berimbang.

Sebagai catatan, guru / wali kelas memiliki kesibukan dengan proses pengajaran dan mengawasi sebegitu benyak anak yang ada di kelas atau di sekolah. Tidak semua guru memiliki data yang akurat, begitu juga dengan anak kita. Anak kita tidak tidak serta-merta dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekolah atau temannya, mungkin saja ada hal-hal yang tidak sesuai bagi dirinya.

Selain guru / wali kelas kita juga dapat mencari informasi dari teman dekat anak kita. Mereka merupakan orang terdekat anak kita selama di luar lingkungan keluarga. Mereka dapat memberikan informasi berdasarkan versinya yang berhubungan dengan anak kita. Hal ini pun hanya sebagai data acuan saja, bukan menjadi keputusan mutlak.

Informasi atau data yang kita peroleh dari sekolah (guru / wali kelas), teman atau lingkungannya sangat bermanfaat sebagai data acuan mengenai perkembangan anak kita. Informasi atau data ini dapat dijadikan bahan untuk pengambilan keputusan terhadap anak kita.

10. Konsultasi dengan pihak Psikolog

Setelah kita mengetahui bahwa anak kita memang terindikasi stress, sebaiknya kita langsung berkonsultasi dengan pihak psikolog untuk menentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Sebaiknya kita (suami/istri) mengajak anak kita secara bersama-sama untuk berdiskusi / musyawarah keluarga. Sebelum datang ke psikolog sebaiknya kita membicarakan terlebih dahulu dengan anak itu sendiri, hal ini agar dipahami dan dimengerti oleh anak. Dalam keadaan terbuka seluruh permasalahan di hadapan psikolog akan mudah ditentukan solusi / jalan keluarnya.

Konsultasikanlah dari sisi pribadi orang tua maupun anak kepada psikolog. Ketahui dengan seksama letak permasalahannya dan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mengobatinya. Tidak menutup kemungkinan letak permasalahan tersebut berasal dari orang tua, dari anak itu sendiri, atau dari pihak luar.

Jangan pernah menanamkan dalam bawah sadar anak bahwa konsultasi kepada pihak psikolog ini merupakan beban, melainkan suatu solusi untuk menyelesaikan masalah pada anak dan keluarga.

Ikuti langkah-langkah yang dianjurkan oleh psikolog sampai tuntas. Jika masalah sudah selesai, jangan sungkan-sungkan untuk secara reguler melakukan konsultasi untuk mengetahui perkembangan anak dan keluarga.

Post a Comment for "Upaya Untuk Menghindari Stress Pada Anak"

Berlangganan