Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fenomena Nurrani, Bowo, dan Annisa Sabyan

Absen dulu ya, yang pertama kita ulas yaitu Nurrani. Tentunya rekan-rekan sudah mengenal gadis manjaaah dari Sulawesi. Itu loh istri sah Iqbal (Dilan)....nah kan diem-diem bae. Pokoknya itu dech.

Ya udah diingetin lagi dech siapa Nurrani itu, ini loh lagunya "Emang lagi manjaah, langi pingin di manjaah...pingin berduaan dengan dirimu Iqbal. Emang lagi syantiq, tapi bukan sok syantiq...syantiq, syantiq gini hanya untukmu Iqbal".

Lagi viral di sosmed loh, Instagramnya (@nurrani_r) sudah mencapai 841k dan hebatnya saat ini Nurrani sudah masuk TV loh...yeee selamat ya. Dengan gerakan manjaaah nya mengantarkan dia jadi selebriti.

Nurrani, Bowo, Annisa Sabyan, sumber: www.google.com
Nah sudah ingat kan! Mari kita lanjutkan ke selebriti yang kedua yaitu Bowo. Bowo pun sedang viral, menjadi idola baru bagi kaum Tiktokers. Sama juga diem-diem bae, ya udah tak kasih tahu juga.

Bowo merupakan bintang Tiktok yang pandai beracting --- lipsing dengan senyum khas gigi behel, seeet...tangannya dikibaskan, langsung dech berubah makin ganteng dengan menggunakan kacamata atau topi, seeet...kibaskan lagi tangannya, berubah lagi ....tapi muncul tulisan "Bayar Rp. 80.000 untuk meet and greet".

Bowo pun banyak diikuti oleh para fans garis kerasnya. Insagramnya (@bowo_alpenliebe) sampai saat ini mencapai 32k. Bowo pun mungkin sedang merintis agar bisa mengikuti jejak Nurrani agar bisa masuk TV.

Lanjut yang ketiga Annisa Sabyan, ayo nyanyi bersama "Hmmm...Kalla hadzil ard mataqfii masahah, Lau na’isibila samahah, Wanta’ayasna bihab, Lau tadiqil ardi naskan kalla kolb".

Annisa Sabyan, gadis mungil, berkerudung dan memiliki tai lalat di bibir atas. Suaranya merdu, cantik...lucu, dan periang. Sampai saat ini lagu "Deen Assalam - Cover by Sabyan" sudah ditonton sebanyak 5,7 juta.

Banyak Youtuber baik dari Indonesia maupun dari luar negeri memberikan tanggapan "Review and Reaction". Sebagian besar sepakat bahwa lagu tesebut baik dan mampu menyentuh jiwa mereka.

Annisa sendiri menjadi viral seperti fenomena Nurrani dan Bowo. Instagramnya (@nissa_sabyan) followernya mencapai 4,2m. Jangan ditanya sudah masuk TV, ini malah keseringan sampai-sampai saat konser di Mall Pramuka - Jakarta Pusat pingsan akibat kelelahan (2/7/2018).

======

Mari kita kelompokan ketiga selebriti ini menjadi dua grup, Nurrani dan Bowo merupakan selebriti yang viral karena aksi dan aplikasi, sedangkan Annisa Sabyan viral karena prestasi dan moment yang tepat. 

Jangan kaget seiring perkembangan teknologi dan aplikasi, selebriti seperti Nurrani dan Bowo akan banyak bermunculan. Saat ini mereka sedang naik, apabila suatu saat nanti mulai surut akan mucul kembali penggantinya (kita tunggu aja).

Mereka merupakan Generasi Z (Gen Z), sejak kecil sudah terbiasa dengan gadget dan internet. Mungkin tanpa kontrol orang tua, mereka berselancar bebas di dunia tanpa ada yang mendampingi. 

Menurut Pakar Parenting Internasional, Abah Ikhsan (Ikhsan Baihaki Ibnu Bukhari) mengatakan "Selama anak-anak dibiarkan punya alat keliling dunia sendiri (gadget). Padahal mereka belum cukup akil mentalnya. Itu ibarat anak usia SD menikah". 

Menurut Abah Ikhsan, apabila kita tidak mampu mendampingi mereka. Alternatif yang dapat ditempuh yaitu membuat aturan yang ketat, mereka hanya dapat diberikan HP dumphone (hanya untuk bisa berkomunikasi) sebelum usia 17 tahun. 

Alternatif lain menurutnya yaitu diberi pinjam ponsel pintar akan tetapi dengan menggunakan prinsip 3 D: Didampingi, Dibutuhkan dan Dipinjamkan.

Nurrani dan Bowo menjadi terkenal dan banyak followernya karena ada pasar yang sama disitu, pasar yang membutuhkan figur idola. Banyak ABG yang terjebak dengan liarnya gadget dan internet, melihat mereka berani tampil beda sehingga dijadikan panutan. 

Bagi orang tua yang faham mengenai dampak negatif dari gadget, internet, dan perilaku mereka menyayangkan sikap tersebut. Tidak sedkit dari mereka yang memberikan komentar nengatif tentang perilaku tersebut. Bahkan banyak yang menyalahkan aplikasinya.

Lain halnya dengan Nurrani dan Bowo, kini Indonesia memiliki Annisa Sabyan selebriti baru yang membawa aura positif karena ditengah-tengah lagu komersial dan kurang berbobot, Dia hadir dengan lagu religi yang sudah sekian lama vakum.

Pada tahun 1999 lagu religi sempat membuming di Indonesia dengan keluarnya album Cinta Rosul yang dinyanyikan oleh Hadad Alwi dan Sulis. Menyusul kemudian tahun 2005 Ustad Jefri Al Buchori mengeluarkan album Sepotong Kayu yang laris-manis di pasaran.

Semakin hari lagu religi mulai tergerus oleh lagu-lagu pop, rock, dan dangdut. Dari sekian banyak lagu muncul,  lagu dangdutlah paling banyak tercoreng oleh beberapa penyanyi yang hanya mengedepankan gerakan, keseksian, dan tren dibandingkan dengan pesan moral dan nilai-nilai.

Menjadi suatu tanggung jawab moral kita adalah lagu-lagu yang kurang berbobot tersebut lebih digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia termasuk anak-anak. Didukung oleh aplikasi, diendorse oleh artis, disebarkan oleh komunitas. Mulai dari Goyang Dumang sampai dengan Goyang Dua Jari...semuanya viral.

Di tengah maraknya lagu-lagu anak alay dan galau tersebut. Annisa Sabyan hadir dengan lagu-lagu religi, seakan-akan bagi masyarakat Indonesia sedang berada di gurun pasir mendapatkan air yang menyegarkan.

Aura positif tersebut menjadikan Annisa Sabyan menjadi idola baru bagi mereka yang membutuhkan figur positif. Selain memiliki kualitas suara yang baik, mereka juga sangat menjual di pasaran: entertainment - impression (cantik-cantik, ganteng-ganteng).

Ilustrasi, sumber: https://www.patrika.com
Dua kelompok ini lah yang saat ini muncul, figur membawa aura positif dan figur yang membawa aura negatif. Ada yang mengedepankan kualitas, ada yang mengedepankan aksi kontroversial. Jangan aneh ini adalah fenomena golbalisasi informasi dan teknologi.

Saya mengulang kembali --- jangan heran juga apabila suatu saat nanti mereka ini mulai surut kepopulerannya, akan muncul kembali tipe seperti mereka (Nurrani dan Bowo) dengan sedikit modifikasi (perubahan yang sudah menyesuaikan dengan zaman dan teknologi).

Ini tanggjung jawab kita selaku orang tua, mari ambil dan ikuti hal-hal positif tinggalkan yang negatif. Antisipasi, hindari, tinggalkan atau segera perbaiki hal-hal negatif apabila terlanjur sudah dilakukan.

Kok menjadi tanggung jawab kita? Ya mulailah dari dalam diri kita, keluarga kita, lingkungan, baru masyarakat yang lebih luas. Hal tersebut akan lebih mudah dibandingkan hanya mengandalkan pemerintah.

Saatnya membahas solusi mengenai dampak negatif internet dan gadget seperti yang kita lihat pada Nurraini dan Bowo. Baper jadinya --- membayangkan anak saya sendiri memperagakan adegan tersebut, sedangkan dibalik gadget dan aplikasi --- ngaji gak bisa, solat jarang, di sekolah nilainya 9 (namun kebalik), aktif di sosial media pas ngomong langsung bikin illfeel.

Mudah-mudahan gak demikian ya...aamiin.

======

Solusinya?


Merubah kebiasaan orang tua

Anak akan melihat figur orang tuanya, apabila setiap detik-setiap menit orang tuanya kagak lepas dari gadget. Otomatis anaknya pun akan melihat contoh dari orang tuanya.

Apabila rekan-rekan tidak pernah lepas dari gadget jangankan anak, orang lain yang ada di sekitar rekan-rekan pun akan merasa tidak nyaman.

Saatnya untuk meninggalkan kebiasaan tersebut, untuk lebih fokus kepada mereka. Mulai dari komunikasi langsung yang lebih inten, mengisi dengan berbagai kegiatan, dan memberikan contoh positif lainnya.


Batasi internet dan penggunaan gadget

Kadang lupa waktu apabila kita sudah nyambung dengan internet. Hal demikian pun dengan anak, mungkin saja mereka lebih parah dari kita. Walaupun mereka sejak kecil mengenal ponsel dan internet namun harus dibatasi penggunaanya.

Atur waktu internet harus mati, atur ponsel kapan bisa digunakan, kapan wajib ditinggalkan. Mendisiplinkan waku belajar, makan, mandi, olahraga, dan lain-lain.

Contoh yang paling sederhana yaitu saat mereka menggunakan internet dan gadget, cukup sembunyikan charger ponselnya lama-kelamaan baternya lemah dan akhirnya mati, mereka tidak dapat melanjutkan menggunakan internet dan gadget.

Apabila mereka rewel saat internet dan gadgetnya mati, kita isi dengan kegiatan positif lainnya seperti main bola, menggamba, jalan-jalan, dan lain-lain.


Enkripsi

Persulit mereka untuk dapat mengakses aplikasi dan situs yang kurang tepat bagi mereka. Lakukan pembatasan baik melalui aplikasi patenting maupun setingan di ponselnya atau wifi itu sendiri.

Setinglah enkripsi atau password tertentu yang dapat membatasi mereka. Jangan sekali-kali menginformasikan password atau langkah-langkah seting aplikasi tersebut kepada mereka, apabila mereka mengetahui lakukan segera penggantian dengan password baru.


Kehadiran

Kadang ponsel menggantikan peran orang tua. Agar anaknya tenang, tidak nangis, rewel dan lain-lain maka diberikan akses internet dan gadget.

Seperti yang Abah Ihsan sampaikan, akan celaka apabila mereka berselancar sendiri mengelilingi dunia tanpa diawasi dan dibimbing. Merka belum faham, hal-hal negatif mungkin akan masuk tanpa ada pembatasan.

Kewajiban kita untuk mengembalikan kodrat orang tua yaitu selalu hadir, membimbing, dan memberikan perhatian kepada anak. Ponsel tidak dapat menggantikan fungsi psikologis, emosional, dan perhatian.

Apabila kita hadir dan mengisi kehidupan anak, maka dapat dipastikan hal-hal negatif dari ponsel itu dapat diantisipasi dengan baik. Anak sudah memiliki pondasi dan jalur mana yang harus dipilih.


Membuat kesibukan

Disela-sela kesibukan kerja atau usaha. Orang tua wajib mengatur waktu untuk menyibukan diri dengan anak (waktu khusus untuk menyibukan anak). Contoh yang umum dapat dilakukan adalah anak di masukan les/privat, bermain sepeda, bermain musik atau mengajak anak untuk jalan-jalan.

Jangan biarkan mereka sendiri, berselancar di dunia maya. Nanti berjumpa dengan figur Alay dan galau. Mereka belum bisa melihat sisi positif dan negatifnya akhirnya mengikuti (identik) dengan golongan tersebut.


Jangan membandingkan

Hal sesderhana namun berpengaruh besar terhadap anak, apabila kita suka membandingkan entah itu hal positif maupun hal negatif anak kita dengan sesuatu atau orang lain. Suatu saat ini akan menjadi bumerang bagi kita, anak bisa saja  membalikan apa yang kita sampaikan.

Apabila kita arahkan untuk menginggalkan sesuatu, anak nantinya akan mencari alasan dengan perbandingan juga. "Kamu harus A, B, C...nanti anak akan menjawab Si X juga bisa, Si Y juga seperti itu", dan lain-lain.

Cara berkomunikasi yang paling efektif yaitu beri contoh yang baik (seperti point pertama di atas), kedua alihkan dengan hal lain yang lebih positif dan menyibukan anak. Contonya saat dia sedang asik dengan gadget, kita ajak bermain bola atau main sepedah di lapangan. Ajaklah sesuai dengan kesukaannya akan tetapi kegiatan tersebut harus membangun.

======

Anak adalah titipan dan investasi terbesar kita, semoga anak-anak kita menjadi orang yang baik, berkarya dengan sesuatu yang positif sehingga membawa kebaikan bagi orang lain. Aamiin.

Alhamduliah perhatian pemerintah pun sudah tampak, Tiktok saat ini sudah diblok oleh Kominfo. Tanggung jawab moral dan sosial dari aplikasi tersebut sedang diverifikasi oleh pemerintah. Konten yang negatif harus dibersihkan dulu, mungkin saja suatu saat nanti apliasi ini akan rilis kembali dengan konten yang lebih bertanggung jawab.

Post a Comment for "Fenomena Nurrani, Bowo, dan Annisa Sabyan"

Berlangganan