Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengintip Peta Politik 2019 Dari Sudut Kacamata Kuda

Ratusan bahkan ribuan tulisan yang mengulas mengenai Pilpres (Pemilihan Presiden) 2019, setiap orang memprediksi dan menjagokan masing-masing calon yang mereka anggap paling layak untuk memimpin Indonesia lima tahun berikutnya. Banyak survey yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga survey ataupun masyarakat untuk membaca peta politik 2019. Sumber informasi yang paling santer mengenai Pilpres 2019 ini adalah sosial media seperti Twitter, Instagram, dan Facebook.

Saat ini dua nama besar yang menjadi isu hangat menjadi kandidat kuat Pilpres 2019 yaitu Presiden Jokowi dan Prabowo. Kedua nama ini digadang-gadangkan akan bersaing kembali, setiap pendukungnya sudah mulai terlihat melakukan geraka bawah tanah untuk mengkampanyekan jagoan mereka masing-masing. Salah satu hal yang menarik adalah gerakan yang berkembang di masyarakat saat ini dan menjadi viral yaitu #2019GantiPresiden atau #Jokowi2Periode. Ini merupakan dua kekuatan besar di masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya pada Pilpres 2019 nanti. #2019GantiPresiden merupakan bentuk aspirasi rakyat yang menilai kinerja pemerintahan saat ini kurang tepat, mereka menginginkan hal yang baru yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Pilpres 2019, sumber: www.okezone.com

Mereka yang merasa meyakini bahwa pemerintahan Jokowi saat ini yang terbaik akan mengajukan bahwa Jokowilah yang paling tepat untuk 2019 nanti. Kampanye mereka pun muncul sebagai antitesa terhadap gerakan masyarakat yang menginginkan presiden baru melalui gerakan #Jokowi2Periode, #212UntukJokowi, dan masih banyak lagi. Hal ini sangat terasa di sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter dan Blog pribadi. Tidak ada yang salah dengan gerakan tersebut itu merupakan hak dan bersifat konstitusional di negara demokratis. 

Membahas Pak Jokowi, beliau memiliki nilai jual dari sisi pembangunan infrastruktur dan kebijakan untuk mempermudah iklim investasi di Inonesia. Banyak pembangunan infrastruktur yang telah diselesaikan oleh Jokowi, kususnya Indonesia bagian timur. Suatu hal menjadi nilai jual tinggi pada saat Pilpres 2019 nanti apabila seluruh infrastruktur yang dibangun Jokowi selesai pada tahun 2018. Hal sebaliknya apabila pekerjaannya mangkarak makan akan menjadi bumerang terhadap elektabilitasnya. 

Apabila kita ibaratkan Indonesia saat ini seperti sebuah keluarga —— keluarga yang memiliki anak banyak, tinggal di rumah yang luas, namun sarana dan fasilitasnya belum bagus. Dalam rumah ini masih banyak tikus sehingga apapun potensi yang ada digerogotinya, sehingga bangunan yang besar kokoh lama-lama keropos. Untuk membangun rumah yang megah alternatif yang ditempuh yaitu membangun sarana dan fasilitas ruma melalui pinjaman kepada  bank atau rentenir. Rumah dapat dibangun namun utang menganga. Seluruh anggota keluarga bisa berbangga dengan rumah barunya yang mentereng, namun saat menjelang malam dan akhir bulan pusing tujuh keliling bagaimana menutupi utang ke bank atau rentenir tersebut karena anak-anaknya sulit cari kerja dan masih sekolah. 

Iklim investasi di Indonesia saat ini lebih mudah dibandingkan dengan kebijakan sebelum Presiden Jokowi, namun investor dari luar negeri pun tidak begitu saja melepaskan peluang investasi di Indonesia untuk mempekerjakan tenaga kerja mereka. Pada tanggal 26 Maret 2018 Presiden Jokowi menandatangani Perpres 20 Tahun 2018 yaitu peraturan untuk mempermudah tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Peraturan ini akan berlaku pada Bulan Juli 2018. Peraturan ini apabila tidak dikelola denga bijak maka akan menjadi bumerang bagi Jokowi, terkait ketimpangan sosial saat ini yang terjadi di masyarakat. 

Hal lain yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) Pak Jokowi yang akan menjadi bumerang berikutnya yaitu penegakan hukum terkait kasus korupsi, narkoba, kriminalitas pejabat negara, kriminalitas ulama. Kasus korupsi menjamur dimana-mana, bahkan dari kasus tingkat RT/RW untuk membuat surat keterangan sampai dengan kasus e-KTP dan Kondensat yang nilainya triliunan. Indonesia dibombardir dengan kasus narkoba, ini merupakan salah satu upaya orang luar negeri yang memiliki kepentingan untuk menghambat Indonesia menjadi negara maju dan terus-menerus menjadi negara konsumen terbesar ke 4 di dunia. Penegakan hukum saat ini bagi pejabat negara yang tegas menegakan keadilan atau ulama yang bersebrangan dengan pemerintah kasusnya menggantung sampai saat ini seperti kasus Novel Baswedan dan para ulama yang dibunuh orang berpura-pura gila. 

Sisi lain Praboro sendiri tampil sebagai oposisi yang berpegang teguh kepada visi-misinya untuk membawa Indonesia menjadi negara maju menjawab tantangan yang terjadi saat ini masyarakat yaitu menyelesaikan masalah hutang luar negeri, penegakan hukum, menyelesaikan masalah korupi, kasus narkoba dan menjadikan Indonesia mampu swasembada pangan dan tidak bergantung kepada negara lain. Visi dan misi Prabowo ini sepertinya tidak akan mengalami perubahan jika maju di Pilpres 2019 nanti dan menjadi nilai jual tinggi bagi mereka yang kecewa dengan kebijaan Jokowi saat ini.

Baik Jokowi dan Prabowo ini merupakan “menu” lama yang ditawarkan oleh Indonesia. Bagaimana kalau masyarakat menginginkan menu baru? Biasanya kita makan dengan ikan asin setiap hari, pengen dong sekali-kali makan dengan daging rendang yang terkenal dengan kelezatannya! Ini merupakan hal yang wajar dan menjadi hak bagi setiap individu, tidak ada yang bisa melarang atau memaksanya. Pedagang nasi banyak yang menawarkan ikan asin, sayuran, dan menu lainnya semua punya kepentingan yaitu jualan nasi dan menghasilkan keuntungan. Apakah penjual nasi itu sudah memperhatikan kepentingan konsumen? jawabannya pasti YA. Pertanyaan berikutnya apakah penjual nasi itu sudah memperhatikan kandungan  gizi yang dibutuhkan konsumen? Jawabannya Belum Tentu. 

Tidak semua makanan yang enak dimulut itu bergizi dan baik bagi tubuh, namun sebaliknya makanan yang bergizi akan baik bagi tubuh walaupun tidak enak di mulut. Kembali ke Pilpres 2019 setiap kandidat akan berlomba-lomba untuk memenangkan simpati dan dukungan dari masyarakat. Banyak survey yang telah dilakukan oleh lembaga survey dan media cetak yang menyandingkan kedua kandidat kuat tersebut. Simpatisan Jokowi akan cinta setengah mati memperjuangkan Jokowi tetap menjadi presiden, bahkan mengharapkan Prabowo merapat untuk menjadi wakil presiden demi keamanan dan kelancaran umat (....katanya). Simpatisan Prabowo akan berjuang mati-matian bagaimana Prabowo menjadi orang nomor satu menggantikan Jokowi. 

Seandainya Jokowi dan Prabowo lagi yang menjadi calon Presiden RI, wakilnya yang cocok siapa? Banyak tulisan dan sumber dari media yang mencoba memilih pasangan yang tepat seperti Jokowi dengan AHY, Jokowi dengan Gatot, Jokowi dengan TGB, Prabowo dengan AHY, Prabowo dengan Gatot, Prabowo dengan TGB, bahkan Jokowi dengan Prabowo. Setiap orang sah-sah saja menjagokan idolanya masing-masing, penulis sendiri tidak terlalu tertarik dengan kedua tokoh di atas. Penulis akan memilih jalur  #2019GantiPresiden namun calonnya bukan Jokowi dan Prabowo. 

Seperti tulisan sebelumnya di atas penulis menginginkan sesuatu yang baru, fresh, memiliki visi dan misi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak usah janji-jani yang wangi, harum, semerbak bagaikan angin surga namun bukti nyata dari jejak karir yang bersangkutan. Nama-nama yang segar dan memiliki rekam jejak baik diantaranya TGB, Ahmad Heryawan, AHY, Gatot Nurmantio, Susi Pujiastuti. Ini merupakan “menu baru” saat kita jenuh setiap harinya makan dengan menu yang sama (jenuh —— eneg). Nama-nama di atas dapat menjadi alternatif lain bagi masyarakat selain Jokowi yang sudah pasti diusung menjadi calon Presidn RI. 

Semua hal mungkin aja terjadi, “Tidak ada lawan dan kawan yang abadi, melainkan kepentingan yang abadi” itu lah bahasa politik. Semua akan kembali kepada masyarakat sebagai pemegang kunci kedaulatan. Jadilah pemilih yang cerdas, jangan cinta buta, buta karena kepentingan/jabatan, tergiur oleh janji surga kampanye, sembako, uang tip, akan tetapi lihatlah rekam jejak dia yang telah diberikan kepada masyarakat. Sosok yang tegas, berpihak kepada rakyat, mampu menegakan hukum dengan baik, memiliki visi dan misi tidak hanya urusan dunia melainkan urusan akhirat, menjaga kewibawaan Indonesia di mata dunia, mampu mencipkatakan Indonesia swasembada dan tidak bergantung kepada negara lain. 

Semoga Allah SWT memberikan umur panjang bisa sampai di Pilpres 2019 untuk memilih presiden baru. #2019GantiPresiden. #2019PresidenBaru. 

Post a Comment for "Mengintip Peta Politik 2019 Dari Sudut Kacamata Kuda"

Berlangganan