Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membangun Etika Politik Dari Masjid

Islam merupakan way of life bagi penganutnya, Islam mengatur semua aspek kehidupannya baik yang besar maupun yang kecil, baik yang halal maupun yang haram.

Baik yang wajib dijalankan maupun dilarang dijalankan, baik urusan pribadi maupun urusan masyarakat banyak, dan seluruh aktivitas dalam kehidupan kita lainnya.

Islam tidak melarang penganutnya untuk berpolitik, bahkan dianjurkan selama menegakan hukum-hukum Islam dan untuk kepentingan orang banyak.

Politik yang dilarang dalam Islam adalah untuk mendapatkan kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara sehingga merugikan banyak pihak. 

Menurut Al-Ghazali bahwa tidak dapat dipisahkan antara etika dengan politik Islam, keduanya merupakan saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menentukan nilai baik-buruk atau salah-benar dari setiap tindakan yang diinginkan oleh masyarakat. 

Mesjid Al Mashoen - Medan, sumber: KSMTour.com

Salah satu tempat Umat Islam untuk membangun etika politik yang baik adalah Masjid. Mesjid merupakan tempat bersatunya umat yang dilakukan setiap hari selama 5 kali. 

Di masjidlah tempat dimana tidak ada pembeda antara orang kaya-miskin, berpendidikan-tidak berpendidikan, orang tua-muda, pejabat-bukan pejabat, ras, suku bangsa, golongan semuanya bersatu tidak ada yang diunggulkan, semuanya sama berserah diri hanya kepada Allah SWT. 

Ketika ada pernyataan bahwa jangan ada politisasi di masjid, atau jangan satukan antara agama dengan politik. 

Ini merupakan pernyataan yang bertentangan dengan prinsip Islam itu sendiri, jangankan hanya politik bahkan mati pun agama itu dibawa dan dipertanggungjawabkan. 

Umat Islam jangan mau mengikuti aturan liberal yang memisahkan antara agama dengan politik, setiap umat Islam berhak atas suara politiknya, para Ustadz wajib terjun untuk membangun politik yang Islami. 

Politik yang dibangun dari masjid akan lebih beretika dan bermoral karena sudah dilandasi oleh dasar keimanan dan panduan utamanya sudah jelas adalah Al-Quran dan Hadis. 

Apabila ulama yang menyampaikan ceramahnya berbicara tentang masa depan umat, itu baik, itu dianjurkan karena umat Islam tidak menginginkan pemimpin yang tidak amanah. 

Lain halnya apabila yang masuk ke mimbar bukan ulama melainkan dari utusan partai tertentu itu kita wajib berhati-hati, mungkin saja yang disampaikannya adalah mengkampanyekan sesuatu yang belum tentu Islami.

Al-Quran sudah jelas mengatur etika berpolitik yang Islami dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan bertanggungjawab atas realita kehidupan. 

Menurut Drs. Fauzi Abubakar, M.Kom.I - Dosen STIKES Muhammadiyah Lhoksemawe (dalam www.aceh.tribunnews.com: 2014) menyatakan bahwa nilai-nilai berpolitik yang Islami berdasarkan Al-Quran mengandung 4 prinsip utama, yaitu:

1. Prinsip Musyawarah (Syura)
Dalam Islam tidak hanya dinilai dari prosedur pengambilan keputusan yang direkomendasikan, tetapi juga merupakan tugas keagamaan. 

Seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan oleh para Khulafaur Rasyidin. "...dan bermusyawarahlan dengan mereka dalam urusan itu..." (QS. Ali Imron: 159).

2. Prinsip Persamaan (Musawah)
Dalam Islam tidak mengenal adanya perlakukan diskriminatif atas dasar perbedaan suku bangsa, harta kekayaan, status sosial, dan atribut keduniaan lainnya. 

Perbedaan seseorang di hadapan Allah SWT hanya kualitas ketakwaannya. "...sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (QS. Al-Hujarat: 13).

3. Prinsip Keadilan
Menegakan keadilam merupakan suatu keharusan dalam Islam, terutama bagi para penguasa. Islam memerintahkan  untuk menjadi manusia yang lurus, bertanggung jawab dan bertindak sesuai dengan kontrol sosialnya sehingga mewujudkan keharmonisan dan keadilan hidup.

 "...dan janganlah sekali-kali kebenicanmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kami kerjakan". (QS. Al-Maidah: 8).

4. Prinsip Kebebasan (Al-Hurriyah)
Kebebasan menurut Islam adalah suatu perilaku yang mengarah kepada ma'ruf dan kebaikan. "...dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain". (QS. Al-An'am: 164).  

Masjid merupakan salah satu tempat terbaik untuk membangun politik yang Islami dan beretika, jangan pisahkan agama dengan politik, jangan pisahkan agama dari kehidupan. 

Tingkatkan solat berjamaah di masjid, perdalam Al-Quran dan Hadis di masjid, kuatkan tali silaturahmi antar umat muslim di masjid, dan mulai bicarakan urusan kemaslahatan umat di masjid. 

Semoga Allah SWT meridhoi usaha kita, aamiin. 

Post a Comment for "Membangun Etika Politik Dari Masjid"

Berlangganan