Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kenaikan BBM; Ganti Kebiasaan Lama dengan Kebiasaan Baru

Tepat pada jam 12.00 tanggal 24 Maret 2018 telah terjadi kenaikan BBM jenis Pertalite sebesar Rp. 200,- menjadi Rp. 7.800,- per liter. Hal ini tentunya membuat masyarakat banyak yang bertanya, kenaikan ini secara diam-diam padahal setiap kenaikan seharusnya diumumkan terlebih dahulu untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Setiap kenaikan BBM tentunya akan menyebabkan efek domino kepada sektor yang lain karena BBM merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Setelah BBM naik akan diikuti dengan penyesuaian biaya produksi, penyesuaian harga jual, penyesuaian biaya operasional dan lain-lain. Sehingga tidak mengherankan biaya kehidupan akan semakin meningkat terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan tetap seperti karyawan dan PNS. 

Ilustrasi kenaikan harga BBM, sumber: Lipuran6.com

Kita semua tidak memungkiri bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang devisit anggaran karena biaya pembangunan infrastruktur dan belanja pegawai. Selain itu hutang Indonesia sendiri mengalami peningkatan sebesar 10% menjadi Rp. 4.915 Triliun pada bulan ini, besarnya hutang ini menjadi beban yang sangat berat karena kewajiban membayar hutang itu sendiri dalam bentu valuta asing (dolar), lebih diperparah nilai tukar Rupiah juga mengalami penurunan yang begitu besar diangka Rp. 13.782 - 14.000 per 1 Dolar Amerika pada bulan Maret ini.

Apabila ada dari rekan-rekan yang berfikir adanya pengangkatan PNS besar-besaran, Pegawai Honorer akan segera diangkat, gaji karyawan akan segera dinaikan, kesejahteraan akan ditingkatkan sepertinya kita harus lebih bersabar karena saat ini fokus pemerintah dan swasta lebih kepada efisiensi dan bagaimana menyelesaikan permasalahan ekonomi. Kita semua harus bersabar menunggu geliat ekonomi yang didukung kebijakan pemerintah dan swasta yang tepat untuk memenangkan pasar. 

Sebagai masyarakat yang terkena dampak kebijakan pemerintah selayaknya kita bersabar dan memanage kondisi keuangan kita saat ini. Keluhan tidaklah menyelesaikan masalah, apalagi dengan kebijakan pemerintah lainnya yaitu akan menaikan tarif dasar listrik selama periode Januari - Maret 2018, kenaikan tol, dan gas yang akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan perekonomian global. Hal ini tidak akan selesai sampai kapanpun karena kebijakan pemerintah akan terus dilakukan untuk mengatur roda perekonomian negara. Lantas harus menyalahkan pemerintah? Tidak juga karena pemerintah sendiri posisinya bingung untuk menutupi pembangunan, seperti kita sedang terpepet yang bisa dilakukan adalah pinjam sana-pinjam sini, contoh lain ketika kita kepeleset apapun kita raih untuk berpegangan tidak melihat duri atau ranting yang penting bisa menyelamatkan diri. Atau haruskah demo? Tidak juga demo karena akan menghabiskan waktu dan tenaga —- kecuali menemukan harta karun proyek e-KPT yang tercecer...hahahaha (mimpi di siang bolong).

Solusinya yaitu beradaptasi. Manusia dari dulu merupakan mahluk yang paling sukses beradaptasi di dunia untuk bertahan hidup, namun esensi adaptasi yang betul-betul saat ini pengertiannya lebih luas. Adaptasi tidak hanya untuk mempertahankan hidup, melainkan mampu menyesuaikan posisi kita sesuai dengan tempat yang selayaknya (termasuk dengan kebijakan pemerintah). Kita akan fokus membahas adaptasi untuk memanage keuangan keluarga. Mengapa ini yang sangat penting saat ini? Karena hal ini merupakan tantangan tersulit di era globalisasi dan digital. Segala sesuatu kita bisa lihat, rasakan, pelajari, bandingkan, dan tiru. Kondisi ini apabila tidak ada kontrol dan management yang kuat akan merubah masyarakat Indonesia “Pandai Berkamuplase” yaitu perilaku diluar batas wajar mereka. 

Kebiasaan buruk yang sudah menjalar dan menjadi kebiasaan hidup masyarakat Indonesia salah satunya yaitu Budaya Konsumtif. Kita ingin ganti-ganti baju, sepatu, HP, motor, mobil sesuai dengan trend yang berkembang sedangkan nilai manfaat yang benar-benar kita butuhkan diabaikan. Kondisi ini tidak lah menjadi masalah apabila berhadapan dengan orang yang memiliki pendapatan besar atau punya usaha yang selalu untung. Hal sebaliknya apabila berhadapan dengan mereka yang berpendapatan pas-pasan, kurang kontrol, tidak bisa memanage keuangan —- yang dilakukan adalah “Kamuplase” gali lobang tutup lobang dahulukan entertainment dan penampilan urusan keuangan yang mendasar digencet seirit-iritnya. Inilah PR kita masing-masing apabila merasakan hal yang demikian.

Kembali kepada pokok bahasan kita mengenai tingginya biaya hidup, hal ini dirasakan apabila tidak dapat menyesuaikan pendapatan kita dengan keinginan kita (bukan kebutuhan). Solusi yang paling cepat adalah merubah kebiasaan, mulai dari diri sendiri dech, lanjut ke keluarga, dan menciptakan budaya hemat. Kalau hanya menunggu perubahan yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan prosesnya akan lama dan membutuhkan  waktu yang panjang. Kebalikan dari sifat kamuplase di atas sebaiknya hal yang harus didahulukan adalah kebutuhan pokoknya seperti sekolah, makanan, dan bayar utang sedangkan untuk hal-hal yang mungkin tidak urgent seperti jalan-jalan, nongkrong, makan di cafe, pulsa internet, ganti-ganti HP, ganti-ganti baju, alangkah bijaknya apabila dikurangi dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Langkah yang baik seperti lagunya SlankHidup sederhana tak punya apa-apa asal banyak cinta, hidup bermewah-mewahan punya segalanya tapi sengsara ...jeng...jeng...jeng...seperti para koruptor”. Jangan sampai hidup mewah tapi korupsi, tampil beda tapi hutang banyak, bisa jalan-jalan tapi uang sekolah anak tidak dibayar tepat waktu, makan enak tapi utang gak di bayar sama kawan, mobil mewah tapi pajak nunggak, hepi-hepi di luar tapi berantam sama istri dan anak-anak....(ups kebanyakan dech nanti masuk ke ranah sensitif). 

Perubahan adalah suatu kepastian, kebijakan berganti-ganti dan kadang memberatkan hal yang harus kita hadapi dengan bijak. Lakukan hal sederhana dari diri kita pribadi untuk bisa beradaptasi dengan baik minimalnya dapat memanage urusan rumah tangga. Ini tidak terlalu sulit, tetap membutuhkan proses namun waktunya lebih cepat dan tidak membutuhkan effort banyak. Apabila menginginkan perubahan yang besar itu pun bisa, jadilah pejabat, politikus, dan pemegang kekuasaan yang visioner, bijak, amanah namun hal ini tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. Tentukan sikap rekan-rekan situasi mana yang paling memungkinkan bisa lakukan. 

Inilah Indonesia, negeri yang kita cintai. Kita dilahirkan dan dibesarkan disini, suatu hari nanti saat ajal menjemput tentunya kita akan kembali ke tanah Indonesia. Hadapi segala sesuatunya dengan bijak, lakukan yang terbaik untuk keluarga, lingkungan, dan masyarakat sesuai dengan profesinya masing-masing semoga Alloh SWT memberikan jalan bagi kita semua. Aamiin!

Post a Comment for " Kenaikan BBM; Ganti Kebiasaan Lama dengan Kebiasaan Baru"

Berlangganan