Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Mau Diadu Domba

Sejak Januari 2018 beberapa kasus penganiayaan dan kriminasilsasi ulama terjadi di Indonesia. Bahkan di Bandung Brigade Persis Ust. Prawoto telah meninggal akibat dianiaya oleh orang gila dengan menggunakan besi. Kondisi ini memang sulit diterima dengan nalar sehat dan kasusnya cenderung ganjil. Orang gila yang menyerang orang-orang tertentu adalah mereka yang memiliki nalar baik, terlatih, dan punya tujuan tertentu.

Kita sebagai Umat Islam jangan terpropokasi dan langsung menyimpulkan apa dan siapa dibalik kasus ini. Kita harus tetap waspada mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan berikutnya. Baru-baru ini juga ada orang yang mengganggu Imam Mesjid di Aceh saat melaksanakan solat, kesimpulan sementara orang yang mengganggu tersebut merupakan orang gila juga. Di Sleman 11 Februari 2018 telah terjadi penganiayaan Jemaat Greja yang sedang melakukan ibadah di Gereja. Pastur yang menjadi korban adalah St. Lidwina di Jl. Jambon Trihanggo, Gamping Sleman.


Berdasarkan informasi yang beredar pelaku bernama Suliyono, pria kelahiran 16 Maret 1995 merupakan warga Pesanggrahan Banyuwangi Jawa Timur. Dia menyerang pelaku dengan sebilah pedang, pelaku sendiri saat ini berhasil diamankan oleh Polsek Sleman. Polisi dapat melumpukan pelaku dengan timah panas, informasi saat ini pelaku sedang menjalani perawatan di RSU Sleman dengan penjagaan ketat.

Penyerangan ulama dan pendeta, hal ini sangat sensitif terhadap unsur SARA. Hal ini akan diperparah apabila kasus-kasus ini mengarah kepada golongan atau agama tertentu yang bersalah. Dampak negatif yang memungkinkan muncul adalah sikap saling membenci antar umat yang bersangkutan. Sejak dahulu Zaman Kolonial politik Adu Domba sudah dijalankan untuk menghancurkan umat, jelas hal ini jangan terulang lagi di Indonesia. Semua pihak harus menahan diri, berfikir secara jernih, tenang, jangan menyimpulkan berdasarkan subjektif. Hal yang wajib dan paling penting untuk kita semua yaitu selalu waspada dan berhati-hati, lindungi keluarga kita, ulama kita, dan sudara-saudara kita yang seakidah.

Banyak orang yang menyimpulkan bahwa terjadinya kriminalisasi ulama dan pembunuhan mereka terkait dengan isme PKI (Partai Komunis Indonesia) yang menganggap agama adalah candu (racun), maka untuk memuluskan tujuannya yaitu dengan menghabiskan para ulama, dan menjadikan masyarakat bodoh. Untuk menciptakan chaos di kalangan masyarakat, maka berbagai fitnah dilontarkan. Saat fitnah sudah mewabah maka masyarakan akan dikelompokan menjadi dua golongan. Setelah terpecah maka dengan mudah untuk dibenturkan. Saat terjadi kerusuhan dan benturan, maka akan muncul tokoh yang menjadi pahlawan untuk memperjuangkan golongan tertentu.

Keberadaan PKI sangat sulit dideteksi, namun begitu besarnya arus pemberitaan dikuatkan dengan pernyataan para ahli kemungkinan mereka memang ada dan eksis sampai saat ini. Kita sebagai masyarakat yang mengutuk kekejaman mereka tentunya tidak menginginkan hal itu terulang lagi. Kita tidak ingin keluarga, anak-cucu, ulama, dan umat no-muslim warga negara Indonesia menjadi korban akibat politik busuk/kotor ini untuk diadu domba. Kita menginginkan situasi Indonesia yang kita cintai ini tetap kondusif, aman, dan tentram karena dari sinilah kita dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Jangan mau menjadi domba, jangan mau diadu domba! Kita selalu waspada dengan kondisi saat ini, persiapkan diri kita dengan situasi terburuk apapun. Tidak ada suatu kekuatan yang dapat menolong kita kecuali Allah SWT. Berfikir positif, selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian, pikirkan terlebih dahulu dampak positif dan negatifnya, perkuat keimanan kita kepada Allah SWT, semoga kita terhindar dari fitnah akhir zaman. Keluarga, anak-cucu, saudara, tetangga kita semoga selamat sampai akhir hayat.

Post a Comment for "Jangan Mau Diadu Domba"

Berlangganan