Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tua Pasti, Dewasa Pilihan

Setiap mahluk yang baru dilahirkan ke dunia tentunya lucu, masih polos, bersih dari dosa. Kita membayangkan seorang anak (bayi) yang baru lahir dengan kulit yang kemerahan, meronta-ronta, dan sesekali menangis meminta minum susu. Kita yang melihatnya tentunya memiliki perasaan senang, bahagia, melihatnya lucu bahkan gemas ingin mencubit atau menggigitnya. Hal yang sama pun terjadi pada beberapa jenis binatang seperti anjing atau kucing, bayi mereka yang begitu comel bersuara, mukanya imut-imut, dan begitu lincah lari kesana-kemari bermain kita yang melihatnya merasa gemas ingin memegang, mengajak bermain, bahkan menciumnya.
Ilustrasi, sumber: www.angrybird.com
Di Indonesia usia dibawah 17 tahun dikatakan sebagai anak-anak. Mereka dalam seluruh aktivitasnya dilindungi oleh undang-undang perlindungan anak. Bahkan hal negatif sekalipun mereka akan diberi keringanan karena belum dewasa. Sifat umum yang telah kita ketahui dari anak-anak adalah keinginan belajarnya sangat tinggi, memiliki keakuan yang besar, mudah berkawan atau bertengkat akan tetapi mudah akur dan memaafkan, setiap orang menyukai mereka karena kepolosannya.

Sifat manusia itu sangat kompleks, bahkan seluruh sifat yang ada di dunia ini dimiliki oleh manusia. Sifat manusia akan berkembang sesuai usia ----- akan berubah mengikuti pengalaman, pandangan hidup (mindset), dan pengaruh lingkungan sehingga akan menciptakan perilaku dan kebiasaan baru sesuai dengan sifat yang dominan dan dipertahankan dalam diri individu tersebut. Peribahasa yang sangat menggelitik penulis adalah "Tua itu pasti, dewasa itu pilihan". Kalimat ini makjleb banget apabila kita sedikit saja memikirkan kondisi saat ini, apa yang telah kita lakukan, tujuan apa yang akan kita capai, kenapa kita dilahirkan, kemana kita akan kembali. Sebagai mahluk Alloh SWT kita bukanlah mahluk sempurna, tidak terlepas dari khilaf dan salah. Mungkin kita salah satu orang dewasa usianya tetapi dominan sifat kekanakan?

Saat ini kita dengan mudah melakukan aktualisasi diri melalui social media. Setiap hal yang dilihat dan dirasakan langsung diungkapkan sehingga menjadi rahasia umum. Dalam kondisi tertentu bahkan banyak yang bertentangan dengan realitanya. Hal tersebut semata-mata untuk mendapatkan pengakuan. Kejadian yang sangat mudah viral dan digoreng kemana-mana terkait SARA dan Politik. Sudah dapat dipastikan ada tiga kubu yang sama-sama mempertahankan keyakinan terhadap hal yang dibahas tersebut sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Kelompok pertama adalah mereka yang pro, kelompok yang kedua yaitu mereka yang kontra (anti), dan kelompok ketiga adalah mereka yang netral (sebagian orang menyebut mereka golongan abu-abu). Kelompok netral ini secara alami memang tidak menyukai, tingkat pemahaman kurang, atau tidak mau berbenturan dengan pihak pro dan kontra.

Benang merah untuk melihat mereka yang gencar mempertahankan persepsi atau tingkat keyakinan terhadap suatu hal yang diperdebatkan adalah mereka yang betul-betul paham dan mereka yang baru tau dan sok paham. Kita batasi khusus untuk Agama Islam sendiri, kita dihadapkan dengan mazhab dan dakwah dari masing-masing ulamanya. Sangat banyak sekali umat Islam satu dengan orang Islam yang lain (Syiah bukan Islam ya, karena tidak mengakui Nabi Muhammad) saling memojokan dan membidah-bidah kan. Sayang sungguh sayang, ini lah yang diinginkan oleh mereka musuh Islam untuk memecah belah ummat. Salah satu cara mereka ya politik adu domba seperti ini. Sebisa mungkin menggunakan daya dan upaya untuk menghancurkan Islam, apabila ini terjadi dalam diri Islam ---- sudah dapat dipastikan mereka akan senang dan menang.

Mereka yang keras mengejek, memojokan, membidah-bidah kan saudaranya sendiri pada umumnya masih belajar. Dengan ilmu yang baru didapat, pengalaman baru didapat, penampilan baru untuk mendapatkan aktualisasi diri sebagai seorang yang paham akhirnya menyampaikan hal-hal yang tidak sepatutnya. Sepeti pada pembahasan sebelumnya mereka ini seakan-akan anak kecil yang selalu mengaku apa yang dilihat adalah miliknya dan apa yang dilakukan orang lain tidak sesuai dengannya. Anak kecil yang melakukan hal tersebut dapat kita maklumi dan terlihat lucu, apabila orang dewasa yang melakukan tentunya akan menyebalkan dan akan mengganggu keharmonisan hubungan dengan pihak yang lainnya.

Mereka yang sudah dewasa yang memiliki sifat kekanankan sangat berbeda dengan anak-anak, anak kecil yang melakukan kesalahan akan mudah memaafkan dan menerima orang-orang yang berbenturan dengan dia. Lain halnya dengan orang dewasa, mudah memberikan label namun sulit memaafkan. Tentunya bagi orang yang dewasa (usia, pengetahun, dan pengalamannya) dapat memaklumi dan mengarahkan mereka ke arah yang sepatutnya. Manusia sebagai mahluk mulia dengan kekuatan otak dan hati selayaknya menggunakannya dengan baik tidak kalah oleh godaan setan dan nafsu. Apabila mendapatkan sesuatu pergunakan seluru panca indra untuk menganalisa yang diterjemahkan oleh otak dan hati. Apabila hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Agama, dikuatkan dengan dalil sahih, dan ditambah dengan penegasan para ulama selayaknya hal tersebut dapat kita laksanakan.

Umat Islam saatnya bersatu era khilafah sebentar lagi akan kita sambut, namun untuk mencapai kesana kita harus bersatu padu rapatkan shaf untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi dari mereka yang tidak menginginkan Islam bersatu. Kita yang sudah dewasa janganlah saling menyalahkan dan memojokan akibat beda niat, tahiat, bissmillah seperti sifat anak-anak. Pertanyaan besar kita adalah setelah mencap saudara kita bidah, tidak paham Islam, baru hijrah lantas ada jaminan masuk Surga? Sebagaimanapun tingkat keyakinan kita akan Agama Islam yang telah kita jalankan saat ini, masuk surga dan tidaknya sepenuhnya hak perogatif Alloh SWT.

Apabila memang benar-benar ada kesalahan terkait bacaan, makhorij, arti sebaiknya saling mengingatkan bukan memberikan label, saling membenci, saling menjauhi. Jadilah seorang yang dewasa usia, pengetahuan, pengalaman untuk menyongsong tegaknya bendera Islam. Sesama umat Islam adalah saudara, semoga Alloh SWT meridhoi usaha kita untuk menegakan Agama Islam yang kita cintai ini, aamiin.

Post a Comment for "Tua Pasti, Dewasa Pilihan"

Berlangganan