Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Selamatkan Anak Dari LGBT

Indonesia saat ini digegerkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP) tentang Zina dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) dimana MA tidak dapat menetapkan Zina dan LGBT tindakan yang dapat dijerat oleh hukum. Alhasil berbagai penafsiran pun berkembang di masyarakat, bahkan para pegiat LGBT menganggap bahwa keputusan itu sebagai angin segar atas legalitas mereka. Hal sebaliknya ulama, pakar ahli, psikolog, dan para orang tua sangat menyayangkan akan keputusannya tersebut, seakan-akan MA mendukung dilegalkannya Zina dan LGBT.

Tugu Peringatan Bajanegara, sumber: Sindonews.com
MA sendiri menjelaskan bahwa Zina dan LGBT merupakan ranah Lembaga Legislatif yang diatur dengan Undang-undang - KUHP. Walaupun sudah disampaikan demikian, namun penulis menyayangkan keputusan dari MA tersebut, seharusnya MA langsung menegaskan kepada Lembaga Legislatif bahwa Zina dan LGBT itu sangat berbahaya dan mengancam generasi bangsa. Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia sebaiknya melarang LGBT, karena bertentangan dengan kodrat manusi yang merendahkan kaum perempuan, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dapat memutus keturunan, dan pada akirnya akan mengundang murka Alloh SWT.

LGBT bahkan diidentikan dengan bencana yaitu Longsor, Gempa, Banjir dan Tsunami. Banyak orang yang menghubungkan setelah vonis MA tersebut maka Indonesia sebagian besar terkena bencana di atas ---- wallahu a'lam. LGBT ini sudah lama mucul, yaitu sejak zaman Nabi Luth AS di Negeri Sodom (bagian dari Kota Pentapolis) yang berada di lembah Yordan. Negeri Sodom (termasuk kota Pompeye) telah Allah SWT binasakan dengan letusan gunung berapi dan gempa yang sangat hebat. Betapa murkanya Allah SWT terhadap perbuatan seperti itu, sampai saat ini peninggalannya masih terjaga sebagai peringatan bagi orang-orang yang berfikir.

Di Indonesia sendiri kisah "Sodom - Gomorah" terjadi di daerah Bajanegara, tepatnya di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kejadian ini terjadi pada tanggal 16 April 1955 dimana terjadi longsor yang sangat besar sehingga menggerus bukit yang ada di balik desa kemudian menutup seluruh perkampungan. Kejadian ini merupakan kisah pilu yang terjadi akibat maraknya zina dan LGBT sehingga Allah SWT murka dan menurunkan azabnya.

Apabila mendengar aktivis LGBT untuk bertoleransi kepada kelompok mereka, hal ini sangat berbahaya karena seakan-akan kita membiarkan bencana tidak hanya akan terjadi pada mereka, melainkan lingkungan yang ada disekitarnya kemungkinan terkena bencana tersebut. Oleh karena bagi Umat Islam mari bersatu untuk menolak Zina dan LGBT karena hal ini akan mendekatkan kita dengan murka Allah SWT.

Penyakit ini menurut Elly Risman (Pakar Psikolog) merupakan penyakit ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan), penyakit ini dapat menular melalui lingkungan pergaulan atau budaya. Bagaimana dengan anak-anak kita agar tidak terjerumus masuk ke dalam kelompok ini? Berikut beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasinya:

1. Perkuat Keutuhan Keluarga dan Ukuah Islamiyah
Segala sesuatu berawal dari keluarga, maka perkuatlah keutuhan keluarga. Berilah cinta dan kasih sayang kepada anak, sehinga mereka tidak mencari figur dari orang lain yang belum tentu baik untuk mereka. Tanamkan nilai-nilai agama dan masuk/sentuhlah ranah afeksi, kognitif, dan konatifnya sehingga anak memiliki pandangan dan moral yang baik.

2. Menjaga Pergaulan Anak
Orang tua harus jeli melihat pergaulan anak, biasakan anak untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua dengan jujur dan transfaran. Bergaul dengan siapa saja tentunya boleh, asalkan tidak berdampak negatif. Orang tua harus peka dan selalu memonitor pergaulan mereka, jangan dibiarkan begitu saja. Berlakulah tegas untuk membatasi pergaulan mereka apabila berdampak negatif, lakukan dengan cara yang efektif dan dapat diterima oleh anak.

3. Menghindari Pornografi dan Pornoaksi
Teknologi merupakan tentangan yang cukup berat untuk membendung pornografi dan pornoaksi. Sosial Media banyak dijadikan alat untuk mencuci otak anak-anak dengan tampilan atau iklan yang menjurus kepada pornografi dan pornoaksi. Teknologi tidak dapat dihindari, namun orang tua harus membatasinya. Langkah yang dapat diambil untuk membatasi internet dan sosial media diantaranya dengan menggunakan aplikasi parental control untuk memblokir situs-situs porno .

4. Memberikan Pendidikan Sex Pada Anak
Bukan hal tabu membicarakan hal-hal seputar sex pada anak apabila mereka cukup dewasa. Jadilah guru atau sahabat yang dapat memberikan informasi dan jawaban kepada mereka tentang sex. Sebaik-baiknya anak bertanya kepada orang tua (termasuk psikolog dan dokter) mengenai hal ini, dibandingkan kepada teman atau orang yang tidak tepat karena akan berdampak negatif terhadap pemahaman mereka.

5. Memberikan Pengetahuan dan Pemahaman tentang LGBT
Orang tua harus menyampaikan informasi tentang LGBT baik gejala maupun dampaknya terhadap kehidupan. Apabila orang tua tidak cukup informasi dan pemahamannya, ajaklah anak-anak kita untuk mengikuti Kajian atau Seminar tentang LGBT. Pengetahuan dan informasi ini sangat penting untuk anak-anak agar dapat menentukan sikap apabila mereka berhadapan dengan situasi dan lingkungan LGBT.

Selain langkah-langkah internal di atas, kita juga selaku masyarakat dapat membantu mengantisipasi penyakit ini. Menurut Maria Nofanola (Pakar Psikolog) dalam tulisannya di forum Kompasiana.com "Bagaimana Menyikapi LGBT?" diantaranya adalah:
  • Memberikan bantuan tenaga, dana, fasilitas, serta sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan Jiwa para penyandang LGBT
  • Melaporkan adanya LGBT yang membutuhkan pertolongan kepada Dinas Sosial atau Lembaga Keagamaan penyedia Pembinaan dan Rehabilitasi
  • Melaporkan tindakan kekerasan yang dialami serta yang dilakukan LGBT
  • Menciptakan iklim yang kondusif bagi LGBT
  • Memberikan pelatihan keterampilan khusus kepada LGBT
  • Memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya peran keluarga dalam penyembuhan LGBT
  • Mengawasi fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan Jiwa.

Tugas orang tua belumlah cukup memberikan nafkah lahiriah kepada anak dan keluarga, melainkan harus seimbang antara jasmaniah dan rohaniah. Perhatian dan kasih sayang merupakan titik tolak (yang paling mendasar) untuk mengantisipasi anak dari penyakit LGBT. Lakukan tapah-tahap di atas dengan baik, apabila kita sudah berusaha maka serahkanlah segala sesuatunya kepada Allah SWT. Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan lah yang menentukan. Semoga anak-cucu kita terhidar dari penyakit LGBT, menjadi generai yang amanah dan tidak melampaui batas.

3 comments for "Selamatkan Anak Dari LGBT"

  1. na'uzubillahi min zalik,,,, jangan sampai indonesia ini menjadi seperti kaum luth,,,, ya Allah,,, kami mohon perlindungan Mu dari orang-orang perusak moral ini.....

    ReplyDelete
  2. mohon maaf, ada rubrik tentang pengelolaan bmd nggak….

    ReplyDelete
  3. BMD (Barang Milik Daerah) maksudnya ya Mas?

    ReplyDelete