Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perayaan Tahun Baru 2018

Sebentar lagi tahun 2017 akan segera berakhir, kita akan menyambut tahun baru masehi 2018. Seperti yang kita ketahui tahun-tahun sebelumnya perayaan tahun baru ini dirayakan dengan berbagai kegiatan yang menjadi budaya umat di seluruh dunia. Kegiatan yang selalu menghiasi tahun baru ini adalah meniup terompet, pesta kembang api, pertunjukan musik dan aneka aktivitas lainnya yang mencerminkan kebahagiaan dan harapan akan datangnya tahun baru.


Kita telusuri lebih dalam perayaan tahun baru masehi ini pertama kali dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Acara ini dilaksanakan di Romawi pada zaman kekaisaran Roma yang dipimpin oleh Julius Caesar. Kekaisaran Romawi menyusun kalender masehi yang berjumlah 365 hari dalam setahun, dimulai dari Januari sampai dengan Desember,
dan dalam setiap bulannya terdapat 28-31 hari.

Perayaan tahun baru setiap tanggal 1 Januari ini dianggap salah satu hari suci bagi umat Keristen, namun seiring berjalannya waktu Kaum Sekuler pun merayakan hal yang sama menyambut tahun baru dan menjadikan tanggal 1 Januari itu menjadi hari libur nasional. Saat ini kita tidak hanya melihat umat Keristen dan sekuler saja yang merayakan tahun baru, umat Islam pun melakukan hal yang sama. Pertanyaan kita apakah umat Islam boleh melakukan hal yang sama dengan mereka?

Tentu jawabannya adalah tidak! Mengapa demikian karena hal ini terkait perayaan ritual keagamaan Non-Muslim. Sehingga ritual keagamaan kita harus murni dijalankan sesuai dengan syariat Islam tanpa ada campur dengan ritual/budaya agama lain. Dalam hadis sahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, Al Haqim: Nabi Muhammad SAW mengatakan: “Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian yaitu hari Idul Adha dan Idul Fitri”.

Kembali lagi kepada kebiasaan sebagian umat Islam yang masih ikut tahun baruan, meniup terompet, sulut petasan, harus berhati-hati karena mereka akan di golongkan dengan golongan tersebut. Sesuai dengan hadits dari Abdullah bin Amr, RA: “Barang siapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari rayanairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Maka dia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat”. (Sunan al -Baihaqi IX/234).

Setelah kita mengetahui apa yang harus kita lakukan untuk menyambut tahun baru masehi 2018, kita cukup berdoa dan sholat khusyu di rumah saja tanpa ikut meramaikan kegiatan tersebut. Sebagai orang tua yang memiliki anak yang penasaran dan ingin ikut meramaikan kegiatan tersebut, sebaiknya dari kecil sudah diberitahukan bahwa kita memiliki hukum dan aturan yang berbeda dengan agama lain. Sebagai seorang muslim yang baik, perayaan yang harus kita rayakan secara besar-besaran yaitu hari kemenangan kita yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Apabila saat ini Anda (khsus Umat Islam) memiliki rizki yang baik dan sudah merencanakan merayakan kegiatan menyambut tahun baru 2018 ini sebaiknya uang tersebut dimanfaatkan untuk infaq shodaqoh dan digunakan untuk membantu saudara-saudara muslim yang sedang kesulitan dan ditimpa bencana. Semoga tahun 2018 ini kita memiliki identitas sebagai seorang Umat Islam sejati yang menjalankan kehidupan sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadis. Sehingga saat kita meninggal nanti dibangkitkan dengan orang-orang sholeh dan bisa bertemu dengan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, aamiin.

Post a Comment for "Perayaan Tahun Baru 2018"

Berlangganan