Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

GMBI, Saya Malu

Setelah sekian lama memperhatikan, gatel juga ini untuk berkomentar tentang GMBI ini. Apalagi menyangkut-nyangkut Orang Sunda yang anarkis, saya sendiri sebagai orang Sunda malu loh...begitu juga rekan-rekan Sunda lainnya yang telah mengamati dengan seksama akan sependapat dengan saya.

Berorganisasi itu baik, apalagi yang berdampak positif terhadap masyarakat. Hal sebailknya apabila organisasi itu negatif, menciptakan kegaduhan, perpecahan, bahkan menimbulkan korban. Ini pelu dikaji ulang dengan seksama, mulai dari tujuan utama dibentuk sampai nilai kebermanfaatannya.
Mencintai sesama, sumber: www.elevate.com
Kalau menilik beberapa informasi, foto, dan video GMBI...nnyyyesss saya langsung berkonotasi negatif. Mulai dari penambilan sampai sikap yang ditunjukannya itu loh. Apalagi saat ini sedang hangat-hangatnya bersitegang dengan FPI. Ketika kawan-kawan bertanya, "Loe yang jelas dong jadi orang, jika harus memilih mending GMBI atau FPI?".

Inshaallah saya berpihak kepada FPI, walaupun sekarang sedang santer banyak yang menginginkan untuk dibubarkan. Organisasi ini sudah jelas visi dan misinya bagi saya. Ketika Islam difitnah dan disudutkan, mereka yang akan berada di garis paling depan untuk membelanya.

Ketika rekan-rekan ada yang beranggapan, mereka makar. Justru mereka akan berjuang habis-habisan untuk keutuhan NKRI. Bahkan kalau sama-sama seluruh ormas diuji, siapa yang berani mati untuk membela NKRI...saya yakin FPI salah satu yang berada di garda paling depan. 

Tentunya kita sepakat, berbicara bermasyarakat dan negara di atas segala-galanya. Mau apa pun tanpa negara tidak akan berjalan sesuai dengan harapan. Bahkan hal yang paling mendasar sekali pun seperti makan dan buang air saja akan sulit. Apalagi masalah yang terkait dengan harmony dan kebijaksanaan.

Apa kabar dengan GMBI, apakah demikian? Atau mungkin sedang sibuk dengan urusan menghaluskan kulit tanpa tattoo dan memusiumkan senjata perangnya sebagai bukti militansi untuk anak cucunya kelak?. Mudah-mudahan demikian --- damai itu indah. 

Seperti tulisan sebelumnya, salah satu kunci kontrol dalam kehidupan itu yaitu rasa malu. Kita tahu saat ini rasa malu menjadi barang langka, karena semakin hari semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Mari kurangi malu-maluin, perbesar rasa malu. Imam Al-Ghazali, menyebutkan 10 rasa malu yang perlu dipertahankan: 
  • Malu karena berbuat salah
  • Malu karena terdapat keterbatasan diri
  • Malu karena kita sebagai hamba Tuan YME yang selalu bergantung kepadaNya.
  • Malu karena kehalusan budi pekerti seperti yang diajarkan oleh Rosullullah SAW.
  • Malu karena kesopanan orang lain terhadap kita.
  • Malu karena merasa diri hina akibat berbuat dosa/maksiat atau merugikan orang lain.
  • Malu karena cinta, sebagai fitrah yang perlu dipertahankan kesuciannya.
  • Malu karena perasaan takut, kususnya atas perbuatan dosa atau dzolim dan segala sesuatu di dunia ini akan dipertanggungjawabkan. 
  • Malu karena kemuliaan seseorang (akhlak, ilmu dan pengetahuannya), kita dapat belajar banyak kepadanya.
  • Malu terhadap diri sendiri, sebagai kontrol dan evaluasi sudah sejauh mana kita bersikap dan berperilaku, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan rizki yang dimiliki. Apabila kita berada lebih dari orang lain bersyukur dan tidak sombong, apabila masih dibawah orang lain belajar dan tidak putus asa. 

Sekali lagi berorganisasi itu baik, tentunya yang bermanfaat bagi masyarakat. Mari kita sama-sama jaga keutuhan bermasyarakat dan bernegara, perbesar rasa malu dan kurangi malu-maluin.

2 comments for "GMBI, Saya Malu"

Berlangganan