Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Upaya Membangun Budaya Antri Dari Hal Kecil Di Sekeliling Kita

Hari ini 18 Juli 2016 merupakan hari pertama masuk sekolah untuk tahun ajaran baru 2016/2017. Saya hari ini kebetulan mendapatkan tugas membeli sebagian perlengkapan sekolah anak-anak.

Toko Buku yang saya tuju adalah Toko Buku Gapura, toko ini nota bene merupakan tempat yang paling laris dan lengkap diantara toko buku di daerah saya (Kelurahan Sei Sikambing - Medan). Wooow rupanya situasi di toko sangat ramai. Hampir sulit bergerak, ibu-ibu dan anak-anak memadati toko ini untuk berbelanja.

Saat mengantri belanja
Situasi ini adalah tantangan yang cukup berat, karena saya sudah cukup lelah bekerja seharian. Tapi sebagai orang tua yang belajar bertanggung jawab harus memenuhi janji sama anak-anak untuk membelikan perlengkapan sesuai dengan kebutuhan sekolahnya. Apalagi untuk urusan sekolah, tentunya saya sangat senang dan bersemangat sekali.

Sekolah menurut saya meupakan bagian investasi yang paling penting untuk anak. Karena hitung-hitungan sederhana kalau barang diberikan kepada anak mungkin manfaatnya tidak akan dibawa sampai akhir hayat dia. Tapi apabila yang diberikan itu ilmu (pendidikan) dan kasih sayang, saya yakin itu akan menjadi bekal anak yang tidak akan pernah sirna sampai kapan pun.

Kembali ke Toko Buku Gapura, kondisinya memang sangat sumpek dan gerah harus berdesak-desakan di dalam ruangan untuk memilih barang yang diinginkan. Saya pun harus berusaha dengan kondisi yang ada untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Setelah semua barang yang dibutuhkan sudah saya dapatkan, sekarang saatnya menguji kesabaran yaitu antri untuk membayar. Seperti saya sampaikan di atas di ruangan saja sudah padat, apalagi posisi antrian sangat panjang dan mengular.

Setelah melihat antrian tanpa sadar saya senyum-senyum sendiri, harus berapa lama lagi saya harus membayar?. Saya berusaha sadar dan dalam hati saya memaki diri sendiri "antri saja susah, apalagi kalau harus berkorban untuk hal yang lebih besar".

Ini adalah sebagian dari realita kehidupan budaya bangsa, salah satu parameternya bisa ditentukan dari kesadaran antri. Saya harus membuktikan diri, menjadi masyarakat yang berbudaya baik di sini. Saya biasa menulis, membuat postingan, membuat status sosial media mengenai budaya antri. Saat ini lah saya sedang menghadapinya ---- saatnya tidak "Nato bin Omdo".

Cerita selain budaya antri nich, pengalaman saya selama di Sumatera memang setiap daerah punya keunikan tersendiri mengenai kebiasaan masyarakat. Sejak tahun 2009 saya memasuki daerah Sumatera Utara yaitu di Kota Padangsidempuan dan pernah berkeliling ke kota-kota di Sumatera Utara lainnya dan Banda Aceh, alhamdulillah banyak pengalaman yang berharga dan kadang-kadang lucu kalau dikenang.

Salah satu sudut Jl. Gatot Subroto - Medan
Sebagai seorang pekerja lapangan, sering saya perhatikan adalah budaya berlalu lintas. Ini bukan mau menjelekan daerah atau kota-kota di Sumatera, tapi ini lah yang saya temukan. Cerita dari Padangsidempuan, Sibolga, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Medan, Lhokseumawe, Banda Aceh. Kurang lebih sama, kita akan terbiasa dengan suara klakson yang nyaring, ngebut, saling mendahului, dan kadang-kadang terobos lampu merah.

Namun dari sekian banyak daerah yang kurang tertib di jalan yaitu Medan tercinta ini. Di sinilah surganya bagi pengendara yang suka rusuh (riweuh di jalan). Sebagian besar masyarakat kalau di jalan pada gak sabar, membunyikan klakson sesuka hati. Dikemacetan siap-siap ada tiga lapis kendaraan dalam satu lajur (sekalipun jalan sempit). Mobil pribadi di tengah, kanan dan kiri angkot yang memaksa masuk selama ada celah yang kosong.

Kebiasaan lain kalo berkendara di lampu merah, beberapa sepeda motor dan angkot sengaja jalan melipir untuk menghindari antri lampu merah. Mereka mancuri moment untuk bisa jalan sekalipun itu melanggar aturan. Kadang-kadang ini membuat sumber kemacetan dan lebih parah lagi salah satu sumber kecelakaan apabila tidak hati-hati. Budaya di jalan ini merupakan salah satu fenomena antri yang paling sering kita hadapi.

Kembali lagi membahas antri, antri disini meliputi seluruh kegiatan. Budaya antri memiliki nilai-nilai positif yang luar biasa berguna. Bakhan pendidikan di luar negeri antri merupakan syarat wajib siswa sebelum mempelajari pelajaran yang wajib lainnya. Negara-negara yang menerapkan budaya antri sebagai fondasi pendidikan diantaranya di Finlandia, Swiss, Australia dan negara-negara maju lainnya.

Anak-anak pendidikan dasar apabila belum dapat mengantri di sekolah tidak akan dikatakan baik, dan tidak akan diberikan materi yang lebih banyak. Mereka harus dinyatakan lulus berbudaya antri untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Antri adalah pembentukan mental dan moral anak.

Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam budaya antri ini. Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah:
  • Kedisiplinan dan manajerial waktu
  • Melatih kejujuran dan kesabaran
  • Budaya menghormati dan toleransi terhadap sesama
  • Menciptakan budaya berkompetisi dan pantang menyerah
  • Meningkatkan kreatifitas dan menghindari kejenuhan (selama antri akan diisi dengan kegiatan positif, seperti membaca dll)
  • Belajar bersosialisasi dan bekerjasama dengan individu maupun kelompok/group
  • Menghargai usaha dan proses baik individu maupun kelompok/group

Melihat betapa pentingnya nilai-nilai dari budaya antri ini, saya sangat setuju dengan pernyataan "belum dikatakan maju seseorang atau negara apabila masyarakatnya tersebut belum bisa berbudaya antri dengan baik".

Tentunya sebagai seorang yang dewasa, tidak serta merta parameter tersebut dianggap mutlak. Itu adalah sebagian dari hasil proses pendewasaan dan belajar yang terus-menerus. Banyak sekali pelajaran yang mengajarkan nilai-nilai disiplin/antri. Bahkan saya katakan nilai-nilai tertinggi pedoman kedisiplinan adalah Agama. Agama manapun, ini berlaku loh.

Setelah penjang dikali dengan lebar saya bercerita, mari kembali ke antri di Toko Buku Gapura. Akhirnya penantian panjang untuk membayar pun sampai juga, setelah berdiri kurang lebih 1,5 jam menunggu. Antri saya ini mungkin sebagian kecil saja apabila dibandingkan dengan perjuangan rekan-rekan sekalian, namun yang ingin saya tekankan adalah pentingnya budaya antri. Pengertian antri disini sangat luas ya...meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk menunggu jodoh.

Karena tantangan kekinian mancari jodoh sangat berat, yang perempuan untuk mendapatkan pasangan laki-laki harus bersaing dengan perempuan juga laki-laki loh...heheh, --- begitu juga sebaliknya. Akhir kata mari kita sama-sama belajar terus untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat, salah satunya dengan budaya antri.

Post a Comment for "Upaya Membangun Budaya Antri Dari Hal Kecil Di Sekeliling Kita"