Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Karin Novilda, Refleksi Kehidupan Sang Jenius

"Neng Karin bade kamana?" ... Ini lah pertanyaan dalam hati saya setelah melihat berbagai pemberitaan saat ini. Karin telah berhasil menjadi selebriti yang menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Karin dulu (tahun 2013) dikenal sebagai siswa berprestasi dari SMPN 1 Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Prestasinya yaitu telah berhasil mendapatkan nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) hampir sempurna 37,9 dengan rata-rata nilai pelajarannya 9,5.

Karin dulu merupakan sosok yang terlihat masih lugu dan Islami. Bermodalkan prestasinya tersebut Karin bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta, sekolah yang dipilih adalah SMAN 58. Tiga tahun berselang Karin kembali menjadi buah bibir di media sosial dan suat kabar. Prestasinya kali ini bukan dari pencapain nilai seperti sebelumnya, melainkan prestasi merevolusi diri 360 derajat dari Karin yang dulu. (Saya batasi yang saya tulis hanya dari sisi individu dan keluarga saja ya, sisi negatif dari Karin---rekan-rekan bisa cari sendiri).

Karin sekarang telah berubah menjadi orang terkenal dengan jumlah pengikut instagramnya ± 700,000 follower dan video YouTube yang hampir mencapai ± 2 juta pengunjung, fantastis untuk level pendatang baru. Beberapa saat saya menerawang dan mengosongkan pikiran ----- saya sebagai orang tua yang memiliki anak, berfikir bolak-balik apakah jalur ini yang akan mereka (anak-anakku) tempuh atau jalur yang lebih bermanfaat?

Berrrr….serasa mimisan, jantung berdebar-debar ---- saya akui inilah “Baper” stadium 2 sebagai orang tua saya membayangkan anaknya kelak sudah besar mau jadi apa?. Hal yang dialami oleh Karin ini merupakan proses kehidupan dari keluarga dan lingkungannya. Namun saya yakin faktor keluarga lebih dominan sebesar 70% dalam pembentukan karakter anak, sisanya merupakan kontribusi lingkungan dan hasil dari proses belajar.
Ini bukan bertujuan untuk menghakimi tapi mari bersama-sama merefleksikan Karin, kira-kira selama ± 18 tahun ini seberapa besar perhatian dan kasih sayang orang tua? Seberapa jauh anak dibekali dengan Agama? Seberapa jauh orang tua memberikan suri tauladan yang baik? Seberapa sering komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak? Seberapa besar kepercayaan orang tua yang telah diberikan kepada anak? Bla…bla…bla…”Baper” lagi, kali ini stadium 3.

“Ya Alloh berikanlan kepada Kami kekuatan untuk menjadi orang tua yang baik, selalu berada di jalan Mu, menanamkan Agama-Mu, menjadi suri tauladan yang baik, menanamkan nilai-nilai akhlak dan moral yang baik, mampu memberikan rizki yang baik, kasih sayang dan perhatian yang mendewasakannya, jadikanlah anak-anak Kami menjadi manusia yang paling bermanfaat, dan tujukanlah jalan yang terbaik apabila saat ini Kami masih berada di jalan yang kurang diridhoi-Mu ya Alloh”. Aamiin ---- semoga doa saya ini mewakili keberkahan kepada rekan-rekan yang membaca tulisan ini.

Hal yang terjadi pada Karin mungkin bukanlah yang pertama, namun hal sebelumnya tidak menyeruak ke permukaan karena terbatas oleh ruang dan waktu. Karena saat ini zamannya globalisasi informasi, sehingga kasus Karin menjadi buah bibir saat ini. Namun perlu digaris bawahi disini Kita sama-sama untuk mengambil hikmah bukan menghakimi. Kenapa? ---- Kenapa Karin bisa melakukan hal seperti ini berarti ada alasan yang mendasari keputusanya tersebut, mungkin ada sisi kosong dalam dirinya dan berusaha Dia penuhi walaupun jalan yang ditempuhnya sesuatu yang kurang elok.

Mungkin butuh kasih sayang sehingga Dia menyandarkan diri kepada Gaga. Apapun diberikan untuk mendapatkannya, di sisi lain Gaga menganggap tidak ada masalah dengan kasih sayang sehingga dengan mudah dapat melepaskannya. Atau dari sisi laki-laki apabila mudah mendapatkan, maka barang tersebut kualitasnya dipertanyakan? (maaf…ini versi berfikir otak kadal).

Aukarin, foto: www.google.com
Atau mungkin Karin sebelumnya kurang mendaptkan apresiasi, sehingga sampai di Jakarta 1,001 cara dilakukannya untuk dapat aktualisasi diri. Dia bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan yang kurang tepat hasilnya cenderung menyimpang dari norma. Tentunya buah dari tindakanya tersebut tidak sedikit menuai pro dan kontra. Bagi yang pro berdasarkan para ahli biasanya didasari pada keyakinan bahwa panutannya (Karin) tersebut memiliki sejarah dan latar belakang yang sama.

Sebaliknya bagi mereka yang kontra merupakan suatu reaksi akibat ketimpangan atau ketidak sesuaian dengan perjalanan hidup Dia dan proses belajar dari norma-norma yang berlaku. Pro dan kontra tentunya jawabannya ada dalam hati rekan-rekan sekalian ya. Fakta berbicara seburuk-buruknya orang tua, menginginkan anaknya (generasi berikutnya) lebih baik dari apa yang Dia alami selama ini. Apakah Karin pun demikian ? Saya yakin YES.

Tidak usah panjang lebar saya berbicara mari Kita simpulkan point-point penting yang dapat diambil dari hikmah Karin Sang Jenius:
  • Anak merupakan cerminan dari perilaku orang tua, orang tua yang baik, keluarga yang utuh, keluarga yang beragama 70% mempengaruhi kepribadian anak (moral dan mentalnya).
  • Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua baik dan berhasil.
  • Cara mendidik anak merupakan ilmu terapan yang paling fleksibel mengikuti potensi anak dan perkembangan zaman.
  • Karin saat ini merupakan akibat, sebanya adalah latar belakang yang telah ia dapatkan dan lalui selama ± 18 tahun masa hidupnya.
  • Tidak ada orang tua/seseorang dibelahan dunia manapun menginginkan anaknya (generasi berikutnya) lebih buruk dari apa yang Dia alami.
  • Tiga faktor utama yang dapat merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik lagi yaitu Agama, Pendidikan (pendidikan dalam arti luas, tidak hanya pendidikan formal) dan Ekonomi. Ketiga faktor ini tidak dapat dipisahkan satu persatu, namun harus berjalan bersama-sama. Pendidikan membuka peluang ekonomi yang lebih baik, ekonomi akan menciptakan pendidikan yang lebih baik, pendidikan dan ekonomi akan baik apabila diikat oleh Agama. Ada apa dengan Karin? ---- mungkin ada salah satu faktor disini yang lemah/kurang.
  • Ilmu tanpa Agama akan buta, Agama tanpa ilmu akan pincang/lumpuh. Bagi mereka yang memiliki kecerdasan dan ilmu alangkah bersyukurnya apabila bermanfaat untuk orang lain.
  • Lingkungan yang tepat akan membawa dampak positif, apabila tidak maka akan sebaliknya. Sekalipun pengaruh lingkungan sangat besar namun dapat dimanage oleh mereka yang memiliki moral dan mental yang kuat.

Lalu solusinya mana? Sabar Om, Tante, Kakak, Adek ---- Solusinya adalah cukuplah menjawab 8 point di atas saja. Silahkan rekan-rekan menjawab dan lebih baik lagi langsung mempraktekannya. Akhir kata semoga anak-cucu, keluarga dan seluruh warga Indonesia diberikan rizki dan kehidupan lebih baik lagi oleh Tuhan YME, ini adalah hikmah yang dapat diambil oleh mereka yang berfikir. "Karin yang tersayang semoga Engkau menemukan jalan yang terbaik untukmu dan keluargamu".

Post a Comment for "Karin Novilda, Refleksi Kehidupan Sang Jenius"

Berlangganan