Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Vaksin Palsu, Kejahatan Kemanusiaan

Dua anak Saya saat ini berusia 5 & 6 tahun semuanya menggunakan vaksin, jujur Saya khawatir dengan vaksin yang telah diberikan apakah palsu atau bukan? Apabila palsu mudah-mudahan tidak berdampak pada kesehatanya sekarang dan yang akan datang. Seperti Kita ketahui baru-baru ini pihak Kepolisian telah berhasil membongkar sindikat pemalsuan vaksin yang beroperasi ± 13 tahun.

Foto: Koleksi Pribadi
Jenis vaksin yang dipalsukan ini diantaranya Vaksin Tuberkulin, Pediacel, Tripacel, Havrix dan Biocef. Vaksin tersebut banyak dijual di Jabodetabek. Anak Saya di vaksin di Padangsidempuan – Sumatera Utara walaupun jauh dari Pulau Jawa, tapi rasa khawatir tetap ada. Kalaupun Tuhan berkehendak lain anak Saya mendapatkan vaksin palsu, semoga saat dia besar nanti sehat dan tidak menjadi seorang penipu atau koruptor.

Vaksin Tuberkulin merupakan vaksin untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit TBC, Vaksin Pediacel merupakan vaksin impor yang merupakan kombinasi PBT, HIB, dan Polio. Digunakan untuk memberantas penyakit Polio. Sama halnya Pediacel Tripacel merupakan vaksin impor dari Prancis untuk penyakit Hepatitis B, Vaksin Havrix merupakan vaksin Hepatitis A. Sedangkan Biocef sebagai vaksin untuk mengobati saluran pernapasan, anti abdomen, Bakteremia dan salura kemih. (Vaksin, www.wikipedia.com & www.apotikantar.com).

Sindikat ini memanfaatkan moment kekosongan produk di dalam negeri, mereka menyamarkan produk buatannya dengan menggunakan botol & plastic bekas. Pemalsuan vaksin ini dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan loh, karena balita merupakan generasi penerus bangsa. Dengan harapan mereka kelak akan menjadi generasi yang cerdas dan berguna, namun apabila vaksin palsu ini berdampak negative malah sebaliknya generai muda akan mejadi beban orang tua dan bangsa.

Saat ini memang vaksin palsu ini baru diketahui peredarannya di Jabodetabek, bagaimana dengan daerah di luar pulau Jawa? Kita sedang menunggu ketegasan Pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya di seluruh wilayah Indonesia. Saya termasuk orang yang awam terhadap jenis obat-obatan, asalkan ada arahan dari Team Medis/Dokter berangkat ke Apotek ya itu lah obat yang dibeli. Selama ini Saya yakin kepada mereka (Team Medis/Dokter) mudah-mudahan memberikan obat yang tepat.

Pemalsuan vaksin ini melanggar Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 62 Juncto Pasal 8 Undang-Undang tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda 1,5 miliar. Bagi para pelaku baik produsen maupun pengedar siap-siap untuk mendapatkan hukuman ini. (www.bisnis.com).

Pemerintah (Dinas Kesehatan/POM) selama ini telah kecolongan karena sekian lama vaksin ini beredar, baru sekarang kasusnya terbongkar. Kita harus maklum Pemerintah selama ini belum focus kepada hal-hal yang lebih detail tentang masyakarat, karena pemerintah sendiri sibuk dengan urusan organisasinya, partainya, pembangunan infrastruktur, kedaulatan NKRI, sibuk mengurus masyarakat yang bandel dan cenderung munafik (masih banyak masyarakat yang belum move on seperti saling memojokan kubunya Jokowi vs. kubunya Praboro, menyalahkan & menganggap Pemerintah tidak mampu bekerja padahal mudik menikmati Tol Cikopo – Palimanan, atau urusan pemerintah daerah tentang Isu SARA atau “Teman Ahok yang saling Menohok”).

Masyarakat sendiripun sibuk dicuci otaknya oleh Media yang tidak bertanggungjawab, yang satu membahas kelebihan A, yang satu lagi membahas kelebihan Si B. Bahkan ada media cetak yang dengan jelas membandingkan kepemimpinan SBY dengan Jokowi dalam kasus Teluk Natuna, ini jelas provokasi yang bisa memecah belah masyarakat dan Saya bilang ini Wartawan/Admin kacangan. Seperti tulisan Saya sebelumnya fata di Media yang 100% bisa langsung diterima adalah berita kemalangan dan kematian/Duka Cita. Beginilah Indonesia tercinta, serunya tiada akhir.

Update terbaru pelaku pemalsuan vaksin ini menjadi buah bibir, bahkan social media banyak yang meng-upload foto “RA” dan “HT”. Mereka merupakan pasangan suami istri yang berprofesi sebagai produsen vaksin palsu. Sangat disayangkan ya mereka (berkerudung, cantik & ganteng, ramah, rajin solat, rizki melimpah namun moralnya rusak). Kita dapat memaknai kasus ini, melihat orang bukan dari tampak luar --- siapapun orangnya, penganut agama apapun, menggunakan atribut apapun, selama dia tidak memiliki moral tidak memaknai agama dan kitab sucinya, niscaya semua tindakan yang dilakukannya tersebut hanya sebatas kedok untuk mencapai tujuan tertentu.

Ilustrasi imunisasi, www.google.com
Ini pelajaran berharga buat Kita semua, mudah-mudahan kedepannya hal-hal seperti ini dapat diminimalisir bahkan dihilangkan. Pemerintah (Dinas Kesehatan/BPPOM) lebih jeli lagi dalam menguji laboratorium setiap obat dan makanan yang berkembang di masyarakat. Aparat penegak hukum mampu menegakan hukum seadil-adilnya dan melakukan tindakan preventive mengawasi peredaran obat dan makanan, dan masyarakat lebih cerdas dalam memilih dan menentukan vaksin/obat yang ditentukan serta mempu speak up menyampaikan hal-hal ganjil yang ditemukan di lingkungannya.

Saya mengajak para orang tua yang memiliki anak rentang usia 0-13 tahun sama-sama untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Bawa ke dokter untuk memastikan kondisi fisiknya, apakah mereka memiliki kekebalan tubuh terhadap polio, campak, hepatitis, dan TBC. Apabila terbukti tidak memiliki kekebalan tubuhnya bagi yang tidak fanatic terhadap vaksin segeralah divaksin kembali sesuai dengan kebutuhannya, tidak ada kata terlambat tentunya dokter akan mengetahui kebutuhan Sang Anak dan memberikan vaksin sesuai dengan ketertinggalannya. Semoga Tuhan selalu melindungi Kita semua, Aamiin.

1 comment for "Vaksin Palsu, Kejahatan Kemanusiaan"

Berlangganan