Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rantauprapat, Sampai Berjumpa Lagi

Beberapa hari yang lalu mengulang masa-masa indah perjalanan Medan - Rantauprapat dengan mengendarai Kereta Api Sribilah Utama. Tepatnya 8 bulan yang lalu terakhir kalinya saya mengendarai Kereta Api yang sama. Dulu hilir-mudik seperti ini merupakan rutinitas pada saat ditempatkan di Rantauprapat. Selama 1,3 tahun saya menikmati dan menjadi bagian dari warga Rantauprapat. Apa dan bagaimana Rantauprapat? Di bawah ini merupakan sepenggal pengalaman yang diperoleh saat-saat berada di sana.

Kereta Api Sribilah Utama jurusan Rantauprapat, sumber: www.flicker.com/maulana
Rantauprapat merupakan Ibu Kota Kabupaten Labuhanbatu (atau orang lokal menyebutnya Labuhanbatu Induk). Labuhanbatu merupakan Kabupaten yang sangat luas seperti Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara) atau Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat), namun sejak tahun 2008 Kabupaten Labuhan Batu dipecah menjadi 3 bagian yaitu Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel). Kabupaten Labuhanbatu memiliki semboyan "IKA BINA EN PABOLO" yang artinya "Ini dibangun itu diperbaiki" dalam pengertian luasnya yaitu bekerjasama dan bergotong-royong membangun dan memperbaiki sesuai dengan fungsi dan kemampuan masing-masing sehingga terwujud cita-cita masyarakat Labuhanbatu. (Kemendagri.go.id, 2016).

Kabupaten Labuhanbatu merupakan salah satu Kabupaten terjauh dari Medan selain Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Jarak tempuh Medan - Rantauprapat 365 KM, ditempuah dengan Mobil sekitar 8 Jam, ditempuh dengan Kereta Api sekitar 6 Jam. Kalau urusan transportasi jangan khawatir karena kendaraan ke Rantauprapat cukup banyak. Kereta Api ke Rantauprapat memiliki jadwal terpadat dibandingkan dengan kota lain di Sumatera Utara.
Foto: Mesjid Raya Rantauprapat - google.com
Luas wilayah Labuhanbatu 2.156,2 Km2, jumlah penduduknya 500.494 jiwa dengan 9 Kecamatan, 23 Kelurahan dan 75 Desa. Jauh sebelum masa penjajahan Belanda sistem pemerintahan di Labuhanbatu ini menganut sistem Monarki, yang dipimpin oleh seorang Raja dan dibantu oleh Bendahara kerajaan. Awal mula perkembangan Labuhan batu ini awal mulanya berkembang dari Pantai Labuhan Bilik, pantai Timur Sumatera Utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Labuhan Bilik ini merupakan tempat persinggahan kapal niaga yang melintas Sungai Barumun untuk menyalurkan komoditas ke padalaman Pulau Sumatera. (Kemendagri.go.id).

Kedatangan Belanda pertama kali ke Labuhan Batu tahun 1862 dibawah pimpinan Bevel Hebbe. Belanda membangun perkampungan yang sering disebut "Pelabuhanbatu", seiring perkembangan zaman nama tersebut berubah menjadi "Labuhanbatu". Selanjutnya Pemerintah belanda membentuk afdeling Asahan "Gouvernement Bisluit" Nomor 2 Tahun 1867 Tanggal 30 September 1867 yang meliputi 3 area:
  • Onder Afdeling Batu Bara Dengan Ibu Kota Labuhan Ruku. 
  • Onder Afdeling Asahan Dengan Ibu Kota Tanjung Balai. 
  • Onder Afdeling Labuhanbatu Dengan Ibu Kota Kampung Labuhanbatu.
Secara administratif Labuhan Batu merupakan bagian dari Afdeling Asahan dengan ibu kota pertamanya di Kampung Labuhanbatu, kemudian dipindahkan ke Labuhan Bilik tahun 1895, dipindahkan ke Marbau tahun 1924, dipindahkan ke Aek Kota Batu 1928, dan kembali dipindahkan tahun 1932 ke Rantauprapat yang menjadi ibu Kota Labuhanbatu sampai sekarang.

Pada masa penjajahan Jepang, Labuhanbatu merupakan salah satu kota incaran Jepang untuk mendapatkan hasil kekayaan alam (tanaman Karet). Jepang masuk ke Labuhan Batu tanggal 3 Maret 1942 melalui jalur Pelabuhan Tanjung Balai. Selama masa 4 tajun menjajah, Jepang tidak merubah sistem pemerintahan Labuhanbatu yang bersifat monarki, Jepang hanya mengganti nama-nama dengan bahasa Jepang saja. Seiring dengan Kemerdekaan RI tahun 1945, Jepang secara perlahan meninggalkan wilayah Indonesia (termasuk Labuhan Batu).

Sejak Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia dibagi menjadi 8 propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Sunda Kecil dan Maluku. Propinsi Sumatera pada tanggal 2 Oktober 1945 ditetapkan PPKI Mr. Teuku Muhammad Hasan sebagai Gubernur Propinsi Sumatera. Pada tanggal 17 Oktober 1945 ditetapkan Abdul Rahman menjadi Kepala Pemerintahan Labuhan Batu. Labuhanbatu sampai saat ini terus berkembang sebagai sebagai Kota Persinggahan dan Niaga dengan komoditas utamanya Sawit dan Karet.

Selama 1,3 tahun di Labuhanbatu saya menetap di Kecamatan Rantau Selatan. Kecamatan ini sebagai inti Kota Labuhanbatu yang memiliki sejarah panjang perkembangannya sampai saat ini. Kabupaten Labuhanbatu memiliki 9 kecamatan yaitu:
  • Kecamatan Bilah Barat
  • Kecamatan Rantau Utara
  • Kecamatan Rantau Selatan
  • Kecamatan Bilah Hulu
  • Kecamatan Pangkatan
  • Kecamatan Bilah Hilir
  • Kecamatan Panai Hulu
  • Kecamatan Panai Tengah
  • Kecamatan Panai Hilir 
Kecamatan yang paling jauh yaitu Panai Hulu (berbatasan dengan Kabupaten Labuhanbatu Utara) dan Bilah Hilir (berbatasan dengan Kabupaten Labuhanbatu Selatan).Perlu rekan-rekan ketahui Kota Rantauprapat memiliki perkembangan industri Niaga dan Jasanya cukup maju apabila dibandingkan dengan Kabupaten lainnya. Berbeda tipis dengan Kota Pematang Siantar. Pusat pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu berada di Jl. SM. Raya - Rantau Selatan. Untuk Hotel, terdapat 3 Hotel yang paling besar yaitu Hotel Permata Land, Hotel Platinum dan Hotel Suzuya Plaza. Sedangkan untuk tempat belanja keluarga terdapat 3 tempat belanja yang paling besar yaitu Suzuya Mall, Brastagi Swalayan, dan Suzuya Plaza.

Soal kuliner juga cukup banyak pilihan jenisnya, pusat kuliner malam Rantauprapat berada di Pajak Lama Jl. A. Yani, Jl. Gatot Subroto, dan Jl. Urif Sumodiharjo. Bagi pecinta Kopi, Rantau Prapat juga memiliki Kopi yang keberadaannya cukup lama yaitu Kopi Akur, usianya cukup lama loh 88 tahun. Ciri khas dari Akur ini yaitu Kopi Robusta, Roti Bakar Selai, dan telur ayam kampung setengah matang. Untuk rekan-rekan yang suka nongkrong di Cafe juga ada loh, silahkan mampir di FO Cafe (orang Rantau menyebutnya Cafe Puncak). Disini berbagai jenis makanan tersedia (menu nasional dan internasional).

Untuk yang suka makanan khas silahkan rekan-rakan berkunjung ke Holat Afifah, disini menjual makanan khas Tapanuli Selatan yaitu Holat. Holat adalah ikan yang dibakar (biasanya ikan mas atau ikan nila), cara penyajiannya ikan bakar tadi akan diberikan air bumbu khas dari pohon Pakat yang rasanya segar. Makannya dicelup ke air tersebut kemudian di makan. Kalau kurang gurih dan segar, silahkan memesan sambal Tuk-Tuk. Ya ini salah satu sambal yang cukup pedas dan gurih karena dicampur ikan asin dalam proses pembuatannya.

Bagi yang suka berbelanja sayuran dan kelontong di pasar tradisional silahkan rekan-rekan mengunjungi Pasar Glugur. Sembako lengkap disini dari mulai sayuran, ikan asin, sampai dengan pakaian. Ayo belanja di pasar tradisional, borong sayurannya, borong ikannya, borong tempenya....INGAT jangan DITAWAR. Kok jangan ya, ini salah satu bentuk berbagi yang tidak tampak, kita dapat meringankan ekonomi mereka yang berprofesi sebagai petani dan pedagang kecil. Namun mata kita juga jangan lengah ya, hati-hati juga pada saat membeli jangan sampe dikurangi timbangannya atau buah yang dibeli sekejap ditukar dengan buah yang jelek.

Berbicara perekonomian, Rantauprapat ini kaya akan hasil alam bahkan dalam logo pemerintah Kabupaten Labuhanbatu dicantumkan 3 jenis komoditas utama unggulan yaitu Pohon Karet, Ikan Terubuk, dan Buah Kelapa. Komuditas yang masih bertahan sampai saat ini dan jumlahnya masih besar yaitu Karet sedangkan Ikan Terubuk dan Buah Kelapan komoditasnya semakin berkurang bahkan tergantikan dengan Kelapa Sawit. Daya beli masyarakat Labuhanbatu khususnya Rantauprapat cukup tinggi, dapat dilihat dari standard harga menu nasi rata-rata Rp. 25,000,- /porsi dengan menu ikan dan sayur (belum minuman jus/teh manisnya). Daya beli masykarakat di sana sangat dipengaruhi oleh komoditas Karet dan Sawit, apabila harga Karet dan Sawit baik, kisaran Karet Rp. 4,500 - 7,000 dan Sawit Rp. 1,200 - 2,500 per Kg. Dapat dipastikan posisi keuangan masyarakat baik, hal ini dapat dilihat dari pusat belanja ramai, sembako laris, tempat hang out penuh. Namun sebaliknya apabila kondisi harga Karet dan Sawit dibawah harga tadi, secara otomatis berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang cenderung menurun.

Masyarakat Rantauprapat sudah modern dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Pendidikan di Rantauprapat sudah lengkap mulai dari TK dampai Perguruan Tinggi. TK yang terkenal diantaranya Yayasan Panglima Polem Rantauprapat (PPR) dan TK Al Azhar. Untuk SD nama yang banyak disebut yaitu SD Negeri Jl. A. Yani Rantauprapat, untuk Pendidikan Setara SMA/SMK yaitu Yayasan Panglima Polem Rantauprapat dan SMK 1 Rantauprapat. Sedangkan untuk Perguruan Tinggi ada 2 universitas yang paling terkenal di Rantauprapat yaitu Universitas Lahuhanbatu (ULB) dan Universitas Al Washliyah.
Foto: Siswa PPR - www.koran-sindo.com
Membahas lebih dalam pendidikan di Rantauprapat, ada sekolah yang berdiri sejak penjajahan Belanda loh --- yaitu Yayasan Panglima Polem Rantauprapat (PPR), sekolah ini berdiri sejak tahun 1937. Yayasan ini didirikan oleh masyarakat keturuan Tionghoa Labuhanbatu, pertama berdiri pendidikannya setara dengan SR (Sekolah Rakyat/SD). Pendiri yayasan ini tidak diketahui sampai saat ini karena keterbatasan informasi dan dokumentasi di PPR pada saat awal mula berdiri. Seiring perkembangan zaman PPR mengembangkan tingkat pendidikannya mulai dari TK sampai dengan SMA. Alamat sekolah ini berada di Jl. Cut Nyak Dien - Rantau Prapat.

Kita sudah banyak membahas mengenai kenangan, sejarah, tempat hang out, ekonomi dan pendidikan. Dipenghujung tulisan ini rasanya tidak afdol kalau tidak membahas objek wisata yang ada di Kabupaten Labuhanbatu. Berbicara Labuhanbatu memang objek wisatanya tidak se-fantastis Danau Toba atau Berastagi, namun Labuhanbatu memiliki tempat-tempat khas yang dapat rekan-rekan kunjungi diantaranya:
Air Terjun Linggahara
Air Terjun Linggahara, kebanyakan orang Rantauprapat menyebutnya Air Terjun Kembar dan Air Terjun Baru. Lokasinya cukup dekat dari pusat kota yaitu 20 menit melalui Jl. By Pass masuk ke Kelurahan Lobusona Kec. Rantau Selatan. Retribusi masuk ke tempat ini dikenakan tarip Rp. 8,000 per orang. Lokasinya masih alami karena berada di deretan hutan lindung Bukit Barisan. Tempat ini juga menyediakan arena bermain anak-anak dan joglo-joglo untuk beristirahat. (Foto: Air Terjun Linggahara/Kompasiana.com).
Tempat wisata Aek Buru
Wisata Air Aek Buru, ini juga merupakan lokasi wisata alami yaitu pemandian air sungai yang masih alami dan jernih. Lokasinya hanya menempuh waktu selama 25-30 menit dari Rantauprapat. Masuk ke lokasi ini tidak dipungut biaya retribusi, namun karena tidak ada penjagaan parkir kita harus teliti untuk mengunci kendaraan. Disini juga disediakan ban pelampung untuk bermain air, tarif sewa ban kecil Rp. 10,000,- dan ban besar Rp. 15,000,-. Lokasi pemandian ini juga sederetan dengan Air Terjun Linggahara yang berada di kaki Bukit Barisan. (Foto: Aek Buru/pariwisatasumut.net).
Pemandian Banyuwangi
Pemandian Banyuwangi, merupakan tempat wisata buatan yang terletak di Kelurahan Aek Paing. Saya tidak asing lagi dengan lokasi wisata ini, hampir tiap hari saya melintasinya pada saat bekerja. Sekitar tahun 2012 - 2013 lokasi ini memang sangat hits di kalangan masyarakat Rantauprapat, namun saat ini lokasi ini tidak seramai dulu. Saat ini lokasi ini lebih dominan dipergunakan sebagai tempat pemancingan saja, sedangkan wisata airnya mulai sepi ditinggalkan masyakarat. (Foto: Banyuwangi/pariwisatasumut.net).
Pemandangan Pulau Sikantan
Pulau Sikantan, ini merupakan pantai yang berada di lintasan muara sungai barumun. Pulau sikantan ini terkenal dengan kekayaan ikannya, sehingga lokasi ini menjadi lokasi favorit bagi para pemancing. Lokasi pulau ini berada di Kecamatan Panai Hilir, pulau ini menurut penduduk setempat merupakan pulau yang terbentuk akibat kutukan kepada anak yang durhaka kepada orang tuanya, tidak diketahui dengan pasti orang tua dan anak siapa yang telah dikutuk tersebut (ini merupakan mitos yang berkembang di masyarakat lokal). Bentuk pulau ini sangat unik menyerupai kapal selam. Pemandangan paling indah yaitu kisaran jam 16.00 -18.00, disekeliling terlihat hampatan air biru, di atas awan berwarna orange, melihat ke kaki pulau terlihat hijau pohon bakau seolah-olah kita sedang berada di tengah-tengah perahu yang sedang berlayar.
(Foto: Pulau Sikantan/www.negerikuindah.com)

Demikian penggalan pengalaman yang menjadi kenangan selama 1,3 tahun di Rantauprapat. Betapa kayanya Indonesia dan betapa besarnya kasih sayang Tuhan yang telah diberikan kepada Kita. Kita patut bersyukur dan bangga menjadi warga negara Indonesia, mari sampaikan informasi tentang kekayaan Indonesia sehingga setiap daerah menjadi informasi masyarakat dunia.

Post a Comment for "Rantauprapat, Sampai Berjumpa Lagi"

Berlangganan