Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muhammad Ali, Sosok yang Fenomenal dan Kontroversial

Ketika mendengar kata “Ali” semua orang akan tertuju pada sosok legenda Tinju Dunia Kelas Berat dari Amerika Serikat. Bagi orang Islam kata “Ali” akan berkembang lebih luas yaitu mengenai sosok sahabat Nabi Muhammad SAW sebagai Khalifah Terakhir Khulafaur Rasidin yaitu Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad SAW dan menjadi orang pertama yang memeluk Islam. Ali bin Abi Thalib merupakan sosok yang gagah berani di usia 25 tahun beliau menjadi Pahlawan di Perang Badar, dan menjadi ahli strategi perang pada zaman Rasullulah sehingga dia mendapatkan julukan Abu Tarub.

Muhammad Ali, foto: www.google.com
Muhammad Ali dalah sosok legenda tinju dunia di abad ke-20 dimana akhir-akhir ini kembali mendunia karena tutup usia. Hampir seluruh media dunia memberitakan tentang kematian sang legenda, tidak ketinggalan kaum milineal mengupdate status media sosial mereka dengan berita yang sama. Muhammad Ali dan Ali bin Abi Thalib menyandang nama yang sama “Ali” juga memiliki kemiripan mental berperang/bertarung yang luar biasa.

Jujur saya sangat menyukai olah raga tinju selain Sepak bola. Muhammad Ali adalah salah satu petinju favorit saya, selain Ali saya juga mengidolakan sosok petinju Ortodox kelas menengah yaitu Gennady Golovkin (GGG) seorang petinju berusia 34 tahun asal Kazakhstan. Dia merupakan sosok petinju yang luar biasa sampai saat ini mempu memenangkan 35 pertarungan tanpa kekalahan (32 kemenangan diperoleh dengan TKO). Prestasi yang luar biasa ini menjadikan dia sebagai salah satu petinju terbaik di kelasnya pada saat ini.

Mungkin ada pertanyaan mengapa olah raga tinju yang menjadi salah satu olah raga favorit saya?. Tinju saya analogikan sebagai perjuangan secara individu dalam menghadapi kehidupan. Sedangkan Sepak Bola saya analogikan sebagai perjuangan organisasi atau bisnis dalam menghadapi kehidupan. Saat ini saya hanya akan membahas secara filosofis tinju saja ya, untuk Sepak Bola lain waktu saja. Seorang petinju untuk mendapatkan bakatnya perlu ada seorang pelatih yang jeli melihat potensi yang ada. Perlu disiplin dalam berlatih, bekerja keras, dan selalu belajar dari lawan yang akan dihadapi. Selain harus memiliki pukulan yang keras, petinju juga harus tahan pukulan. Seorang petinju harus memiliki kecerdasan, teknik, dan mampu membaca moment kapan harus menyerang atau menghindar. Seorang petinju harus memiliki politik untuk dapat mengintimidasi dan memainkan ritme sehingga sponsor dan penonton puas.

Apabila kita transformasikan kedalam kehidupan, seorang individu untuk mendapatkan bakatnya perlu bimbingan keluarga, guru, sebagai seorang pelatih/tauladan yang mampu menemukan bakat bawaan yang menjadi bekal anaknya untuk masa depannya. Orang tua yang baik akan mensupport potensi yang ada bukan mengarahkan anak mengikuti obsesinya. Individu untuk menjadi seorang ahli di bidangnya harus disiplin, terus berlatih, bekerja keras, dan mampu mempelajari nilai-nilai dari segala sesuatu yang dihadapinya. Kehidupan adalah hal yang tidak pasti, seseorang harus memiliki mental dan spiritual yang kuat apabila mendapatkan cobaan senantiasa dia bersabar dan apabila mendapatkan kebahagiaan dia tidak sombong. Manusia harus menentukan pilihan hidup dan sebaik-baiknya menjadi suri tauladan yang baik sehingga bermanfaat bagi sesama.

Baiklah saya akan kembali kepada pokok bahasan tentang Muhammad Ali sang fenomenal & kontroversial. Seperti yang rekan-rekan tahu bahwa Muhammad Ali lahir tanggal 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Nama kecilnya yaitu Cassius Marcellus Clay Jr. yang terlahir dari pasangan Cassius Marcellus Clay Sr. dan Odessa Grady Clay keluarga seorang pelukis billboard dan rambu lalu lintas serta ibunya seorang pencuci piring. Pada usia 12 tahun Cassius sangat sedih ketika sepedah kesayangannya hasil menabung sekian lama telah raib dicuri orang. Cassius mengadu kepada kedua orang tuanya mengenai masalah yang dihadapinya, namun karena masyarakat kecil tidak ada hasil yang menggembirakan. Karena tidak puas Cassius melaporkan kehilangan sepeda kesayangannya itu kepada Polisi bernama Joe Martin. Joe menerima laporan Cassius dan mengajarinya bagaimana bertahan hidup dengan bela diri boxing.

Cassius belajar tinju dengan sungguh-sunggu dengan harapan sepedahnya dapat direbut kembali dari sang pencuri. Saat pulang sekolah Cassius bertemu dengan pemuda yang sedang mengendarai sepeda miliknya, tanpa berfikir panjang Cassius menghentikan Sang Pemuda. Cassius menegur pemuda tersebut dan memintanya sepeda tersebut untuk dikembalikan. Namun Sang Pemuda malah mengejeknya, tanpa basa-basi Cassius melepaskan pukulannya tepat di rahang Sang Pemuda. Alhasil Sang Pemuda tersungkur dalam satu kali pukulan, Cassius pulang dengan membawa sepeda kesayangannya. Berita pemukulan ini sampai di telinga Joe Martin, Joe melihat potensi yang luar biasa dimiliki oleh Cassius kecil 12 tahun mampu mengkanvaskan pemudah usia 25 tahun.

Joe Martin terus mengasah kemampuan Cassius yang luar biasa tersebut, tahun 1960 merupakan tahun pertama pembuktian Cassius sebagai sosok yang luar biasa dengan merebut Medali emas kelas berat ringan di Olimpiade Roma – Italia. Cassius dengan tatapan optimis melanjutkan kariernya di ring professional dengan mengikuti pertandingan melawan Tunney Hunsaker pada tanggal 29 Oktober 1960, hasilnya Cassius mampu memenangkan pertandingan dengan angka mutlak. Pada tanggal 25 Februari 1964 Cassius mampu merebut gelar juara dunia kelas berat melawan Sonny Liston dengan kemenangan TKO pada ronde ke-7 dari 15 ronde pertandingan.

Pada tahun 1964 Cassius bergabung dengan Nation of Islam yang sekaligus merubah keyakinannya masuk Islam dengan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali. Masuknya Ali menjadi seorang Mualaf menjadi hal yang kontoversial dan menjadi kekhawatiran promotor akan turunnya kredibilitas dunia tinju internasional. Setahun berselang Ali memilih untuk memperdalam Islam dengan mengikuti berbagai aktivitas Jamaah Islam Sunni. Proses belajar Islam Ali tidak hanya di lingkungan Muslim Amerika melainkan Ali berkeliling Timur Tengah untuk memperdalam tingkat ke-Islamannya.

Hal lain yang kontroversial dari seorang Ali yaitu pada tahun 1967 – 1970 ketika Komisi Tinju menjatuhkan skorsing akibat Ali menolak wajib militer untuk membantu tentara Amerika yang sedang berperang melawan Vietkong. Ali menolak dengan mentah-mentah wajib militer tersebut, bahkan Ali menyampaikan protes dengan kalimat yang terkenal yaitu “Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger”.

Gelar tinju kelas berat harus Ali rela diberikan kepada Joe Faizer pada tanggal 8 Maret 1971 di New York. Ali terus berjuang untuk merebut kembali gelar juaranya, satu per satu gelarnya kembali ia dapatkan ketikan bertarung dengan George Foreman tahun 1974. Ali pun kembali menantang Joe Faizer pada tahun 1975 untuk membalas kekekalahannya. Berkat perjuangan dan kerja keras Ali mampu mengkanvaskan Faizer TKO pada ronde 14, pertandingan ini menghasilkan aksi jual-beli pukulan yang sangat menegangkan sehingga dianggap sebagai pertandingan terbaik abad 21.

Pada tanggal 15 September 1978, Ali mendapatkan gelar sebagai petinju pertama di dunia dengan memenangkan 3 kali juara kelas berat. Setahun kemudian Ali menyatakan diri untuk pensiun dari dunia tinju, sehingga gelar tinju kelas berat mengalami kekosongan. Gelar demi gelar telah diperoleh Ali, namun harus ditebus dengan kondisi fisik yang mengalami kerusakan. Dokter pribadi Ali dr. Fredie Pacheco menyatakan bahwa Ali terkena gejala sindrom Parkinson akibatnya tangan Ali sering gemetar diluar control, mengalami gagap dan lamban dalam berbicara, serta terdapat indikasi kerusakan selaput otak. Pacheco menyarankan Ali untuk beristirahat dan tidak terjun lagi ke dunia tinju.

Bukanlah Ali kalau tindakannya tidak kontroversional, tahun 1980 kembali dia ke ring tinju melawan Larry Holmes. Akibat pertandingan ini Pacheco mengundurkan diri sebagai Dokter Pribadi Ali yang sudah berpuluh-puluh tahun setia menemaninya, ini betuk kekecewaan dia sudah mengingatkan Ali namun tidak diindahkannya. Sebelum pertandingan ini Ali sempat dikabarkan mengalami kerusakan ginjal, bahkan mengalami kencing darah pada saat latihan. Walaupun kondisi keterbatasan Ali tetap melanjutkan pertandingan melawan Holmes. Pertandingan ini dianggap sebagai pertandingan yang berat sebelah, Ali menjadi bulan-bulanan Holmes dan harus menyerah di ronde 11.

Setelah hasil yang mengenaskan melawan Holmes Ali beristirahat selama 1,2 tahun. Kondisi fisik Ali sudah melai membaik namun lagi-lagi Ali kembali terjun ke ring tinju, kali ini lawan yang ditantangnya adalah Trevor Berbick. Pertatungan kali ini dilaksanakan di Bahama, pertandingan ini dijuluki “Drama ini Bahama”. Karena usia Ali sudah uzur (± 40 tahun), Ali kembali dikampaskan oleh Trevor pada ronde ke 10. Petandingan ini merupakan pertandingan terakhir Ali di ring tinju, Ali mulai sadar dengan kesehatan dan usia tidak dapat dipacu mengikuti ambisinya yang selalu membara.

Ali dan masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang cukup dekat, Ali pertama kali menginjakan kaki di Indonesia pada tahun 1973. Pada tahun ini pula Ali bertarung dengan Rudie Lubbers seorang petinju kelas berat asal Belanda. Pertandingan ini dilaksanakan di Istora Senayan Jakarta, pertandinan ini merupakan pertandingan non gelar yang dimenangkan oleh Ali. Terakhir kali Ali menginjakan kakinya di Indonesia pada tahun 1996, Ali merasa bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang bersahabat dan ramah sekalipun kepada orang asing.

Prestasi Ali tidak hanya di ring tinju melainkan sebagai seorang negosiator perang. Pada tahun 1990 ketika Iraq menginvasi Kwait dibawah pimpinan Saddam Hussain. Amerika, Inggris dan Prancis berkoalisi dengan Kwait untuk menggalang kekuatan melawan Iraq. Perang berakhir dengan kemenangan Iraq sehingga seluruh tentara Amerika, Inggris dan Prancis menjadi tawanan perang. Upaya pembebasan diupayakan oleh semua pikah salah satunya oleh Sang Ali. Ali berangkat ke Iraq untuk membebaskan ± 3,000 orang tentara Amerika, Inggris, dan Prancis. Ali bertemu langsung dengan Saddam Hussain untuk membicarakan pembebasan tawanan perang Amerika. Sekalipun sesama Muslim negosiasi Ali berlangsung alot, bahkan Ali sempat menyampaikan protes kepada Saddam Hussein, apabila tidak seorang pun tentara Amerika di bebaskan oleh Saddam Hussein maka dia akan tinggal selama-lamanya di Iraq.

Beberapa hari Ali tinggal di Iraq menunggu keputusan Saddam Hussein untuk membebaskan tawanan perang. Saddam Hussein mempelajari gerak-gerik Ali dan kebiasaanya dengan pengawasan ketat. Ali merupakan sosok yang taat beribadah, sehingga hal ini yang menyebabkan hati Saddam Hussein luluh untuk mengabulkan pembebasan tentara Amerika. Akhirnya disepakati 11 orang tentara Amerika dibebaskan untuk kembali ke negaranya. Ali pun tersenym lebar atas keberhasilannya membebaskan tentara sandraan Iraq walaupun tidak semua tentara dapat ia bawa pulang. (Tempo, 6 Juni 2016).

Pada tahun 2002 sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan, negara Amerika memberikan kepercayaan kepada Ali untuk menyematkan namanya di “Walk of Fame”. Hanya mengingatkan rekan-rekan “Walk of Fame” adalah sebuah trotoar sepanjang 15 blok Hollywood Boulevard dan 3 blok Vine Street di Hollywood, Los Angeles yang menampilkan lebih dari 2,400 keramik teras bergambar bintang yang bertuliskan nama artis dan karakter fiksi sebagai bentuk penghargaan dari Kamar Dagang Hollywood terhadap sumbangsih mereka bagi dunia industry hiburan. (Wikipedia, 2016).

Perdebatan penjang pun terjadi karena Ali menolak namanya untuk disematkan di blok trotoar Wall of Fame. Ali menyampaikan keberatannya bahwa nama dia sama dengan nama Nabi Muhammad SAW, sehingga beban berat ada dipundaknya. Ali tidak rela nama Nabi Muhammad SAW diinjak-injak oleh pejalan kaki yang melintas, karena “Muhammad” melambangkan kebesaran dan rasa cinta umat Islam. Akhirnya disepakat nama Ali tetap di buat namun ditempatkan di dinding deretan Walk of Fame.

Berbagai prestasi telah Ali peroleh, namun dari sisi keluarga Ali bukanlah sorang yang sukses menjaga keutuhan rumah tangganya. Dua kali keretakan keluarga telah Ali lewati, tahun 1964 Ali menikah dengan Sonji Roi usia pernikahanya hanya bertahan selama 2 tahun. Pada tahun 1966 Ali memutuskan untuk bercerai dengan Sonji dengan alasan istrinya tidak dapat berpakaian Islami. Tahun 1967 Ali menikah dengan Belinda Boyd, Ali dikaruniai 3 anak yaitu Jamilh - Rasheda (putri kembar) dan Muhammad Ali Jr. Pernikahan Ali dengan Belinda pun tidak bertahan lama hanya 10 tahun, hal ini terjadi karena Belinda menggungat cerai akibat Ali terbukti berselingkuh.

Pada tahun 1977 Ali menikah dengan Veronica Porche Anderson (dikenal dengan panggilan Veronica Ali), dari hasil pernikahannya dikaruniai 2 orang anak yaitu Hanna dan Laila Ali. Veronica Ali merupakan istri terakhir yang mendampinginya sampai akhir hayatnya. Bakat Ali sebagai seorang petinju turun kepada Laila Ali, Laila Ali berkiprah di dunia tinju kelas Super Middleweight sejak tahun 1999 – sekarang. Laila Ali mencatatkan rekor bertandingnya 24 kali pertandingan, tidak pernah kalah dan 21 pertandingan dimenangkan dengan KO. (Wikipedia, 2016).

Muhammad Ali saat melaksanakan solat, foto: www.google.com
Terdapat dua hal yang pasti dalam kehidupan ini yaitu kematian dan perubahan. Siapapun orangnya tanpa diketahui kapan akan terjadi kematian pasti akan datang. Sejak tahun 2014 Ali sering keluar masuk rumah sakit akibat penyakit pneumonia, infeksi saluran kemih, dan saluran pernapasan. Tanggal 2 Juni 2016, Ali mengalami komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan, pada tanggal 3 Juni 2016 Ali telah dipanggil oleh Tuhan untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama masa hidup di dunia. Seluruh dunia turut berduka atas kematian Ali, Sang Legenda yang Fenomenal dan Kontoversial.

Dari sekian banyak Kita bercerita di atas, tibalah saatnya untuk mengambil hikmah dari Sang Legenda.
  • Potensi Diri, setiap orang memiliki potensi yang luar biasa. Tuhan telah mempersiapkannya sejak alam kandungan hal ini semata-mata untuk modal kehidupan manusia tersebut dan kembali kepada-Nya. Ketika manusia mampu menemukan potensinya maka dia dapat dipastikan berhasil (berhasil disini sesuai dengan kapasitas masing-masing). Untuk menemukan potensi ini diperlukan orang-orang yang tepat apakah itu keluarga, sekolah, pelatih atau lingkungan. Maka temukanlah potensi diri yang positif sebagai kunci kesuksesan dan perbaikilah potensi negatif untuk menuju sekempurnaan.
  • Mental, tidak ada suatu kesuksesan yang diperoleh dengan mudah. Perlu pengorbanan dan bekerja keras untuk menuju kepada kesuksesan. Bekerja keras adalah proses untuk membentuk mental yang kuat. Tidak sedikit yang kaya, namun karena mentalnya rapuh akhirnya orang tersebut jatuh miskin. Tidak sedikit orang yang berpendidikan, namun karena mentalnya lemah maka dia terpuruk. Tidak sedikit orang yang cerdas namun karena mentalnya lemah maka di menjadi orang biasa-biasa saja.
  • Belajar, perubahan adalah suatu hal yang pasti dihadapi oleh seluruh mahluk di dunia. Kunci kesuksesan untuk menghadapi perubahan adalah beradaptasi. Adaptasi yang paling baik untuk manusia adalah belalui belajar dan inovasi. Belajar disini tidak hanya di bangku formal pendidikan SD – Perguruan Tinggi, melainkan pendidikan sepanjang hayat. Bisa belajar dari istri, anak, lingkungan bahkan lawan kita sendiri. Semakin banyak ilmu yang dipelajari maka manusia akan semakin mudah dalam menjalani hidup dan mengambil keputusan.
  • Ciri Khas (unik), Jumlah penduduk dunia tahun 2015 kurang lebih 7,2 miliar jiwa. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 kurang lebih 250 juta jiwa. Jumlah penduduk Pulau Jawa kurang lebih 136,3 juta jiwa. Julah penduduk Jakarta kurang lebih 9,6 juta jiwa. Sulit membedakan antara orang satu dengan lainnya karena saking banyaknya manusia. Oleh karena itu untuk mendapatkan perhatian, kita harus memiliki identitas/ciri khas sehingga dapat dibedakan satu dengan yang lainnya. Contoh dari seorang Ali dia memiliki ciri khas selalu sesumbar dan memiliki gerakan unik meliuk-liuk ketika menghindari pukulan. Jadilah seorang yang unik dari hal-hal positif untuk membedakan dengan orang pada umumnya.
  • Strategi, ini kaitannya dengan point 1 & 3 saya sependapat dengan Howard Gardner atau Prof. Yohanes Surya, PhD yang menyatakan tidak ada manusia bodoh, melainkan manusia memiliki potensi yang berbeda. Mampu dan tidaknya manusia berkembang baik dipengaruhi oleh lingkungan (seperti salah urus/salah mendidik). Pada initinya manusia pintar sesuai dengan potensinya, untuk mendapatkah tujuan yang ingin dicapai maka susunlah strategi dan ambil moment yang tepat. Strategi akan tercipta ketika kita mengetahui peluang dan tantangan yang dihadapi.
  • Ketegasan merupakan komitment yang dipegang terhadap keputusan. Didalam ketegasan terkandung keberanian dan keyakinan akan suatu hal yang dianggap penting. Ketegasan merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik.
  • Pengorbanan, tidak dapat dipungkiri perjuangan harus ditebus dengan pengorbanan. Tidak dapat dihitung berapa banyak waktu, tenaga, uang, bahkan kehidupan untuk mencapai suatu tujuan. Pengorbanan ini harus didasari oleh keihlasan, sehingga tidak akan ada beban dalam menghadapi situasi apapun.
  • Doa, Kita meyakini adanya Tuhan dalam kehidupan ini. Doa merupakan hubungan vertical antara manusia dan Tuhan, apabila komunikasi ini terjaga maka manusia akan mendapatkan ketenang lahir dan batin. Bagi seseorang yang memiliki ketenangan lahir dan batin maka kehidupan di dunia akan semakin mudah. Bahkan ada istilah 99% usaha, 1% doa, 1% mampu merubah semuanya sekalipun berbagai udaha telah dilakukan.

Post a Comment for "Muhammad Ali, Sosok yang Fenomenal dan Kontroversial"

Berlangganan