Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Melihat Realita Sepak Bola Indonesia, Mungkin Akan Maju Pada Tahun 2116

Beberapa menit lalu saya kaget setelah membaca berita chaos-nya pertandingan Persija melawan Sriwijaya FC dalam laga lanjutan Torabika Indonesia Soccer Championship (ISC)

Kerusuhan ini berawal akibat penonton menerobos masuk ke stadion sehingga terjadi baku hantam dengan petugas keamanan. Selain itu penyebab lainnya adalah ulah penonton yang menyulut kembang api sehingga menyesakan seluruh pemain di lapangan. 

Pertandingan dihentikan pada menit ke-77 dengan skor sementara 1-0 untuk keunggulan Sriwijaya FC.
Foto: Divisi Humas Polri, 2016
Lagi-lagi kerusuhan ini memakan korban, kali ini yang menjadi korbannya adalah pihak keamanan yaitu Brigadir Hanafi dan rekan-rekannya yang sedang berjaga. Brutalnya supporter Jakmania menyebabkan Brigadir Hanafi babak belur dan harus kehilangan sebelah matanya akibat disiram Air Keras. (Divisi Humas Polri, 25 Juni 2016).

Jujur saya mengelus dada (sayang gitu loh), betapa sedihnnya apabila musibah ini terjadi pada saya atau anggota keluarga saya. Sangat disayangkan olahraga yang paling populer dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia ini harus tercoreng oleh ulah oknum supporter yang arogan. Pertanyaan saya kalau kondisinya terus seperi ini kapan majunya Sepak Bola Indonesia?.

Bagi yang rusuh, berantam, membuat onar mau gak keberaniannya itu dimanfaatkan ke hal-hal positif. Ayo berani gak membantu TNI menjaga Pantai Natuna atau membantu bencana longsor di Desa Caok Purworejo – Jawa Tengah?. 

Hahaha --- cukup direnungkan sambil menikmati kolak pisang buka puasa hari ini. Kondisi seperti ini tidak dapat disalahkan kepada salah satu pihak saja (hanya supporter atau team pengamanan saja), melainkan seluruh pihak harus instrospeksi diri dong. Pihak-pihak yang paling bertanggung jawab disini adalah Penyelenggara, Pihak Keamanan, dan Penonton itu sendiri (supporter).

Panitia yang baik, sepertinya sedang kejar target dan demam Euro juga. Mereka mengadakan pertandingan sore hari di Bulan Puasa, mungkin biar tidak terlewat jadwal antara Swis vs. Polandia. Padahal kan tidak semua pemain Sriwijaya FC dan Persija itu Non Muslim, kadang saya berfikir sederhana kalaupun pertandingan ini harus tetap digelar pada bulan Puasa ini, alangkah baiknya jadwalnya di undur setelah buka puasa saja. Atau lebih bijak lagi apabila jadwal ISC ini diundur setelah bulan Puasa.

Panitia tidak serta merta melihat situasi persepakbolaan saat ini lagi happening, namun harus meninjau lebih dalam dinamika yang berkembang di masyakarat. Banyak orang yang berpuasa tentunya kondisi fisiknya lemah dan pada umumnya saat lapar orang cenderung akan mudah tersinggung. Hal-hal seperti ini merupakan point-point yang perlu diperhitungkan dalam mengambil suatu keputusan.

Untuk team pengamanan, khususnya pihak Kepolisian/TNI. Sebelum membahasnya, saya secara pribadi berterimakasih banyak kepada team pengamanan (Polisi/TNI) yang selama ini telah berjasa mensukseskan event-event yang telah berjalan. 

Namun masih ada saja oknum yang melakukan pengamanan dengan tindakan coercive (tindakan kekerasan/memaksa) untuk mengikuti aturan yang berlaku. Kadang mengatur massa dengan suara halilintar, pentungannya menyambar dijidat, sepatu PDL bersarang di pinggang, dll. Maaf Pak kami ini bukan maling ayam, yang diperlakukan dengan kasar dan tanpa ampun.

Tindakan kekerasan ini apabila sudah masuk ke ranah emosi massa, maka akan timbul kerusuhan (saling balas). Daripada satu/dua orang pengaman dengan kekerasan mampu mengamankan, lebih baik jumlah personel ditambah dech untuk membuat pagar betis tanpa adanya kekerasan. Walaupun UUD (Ujung-Ujungnya Duit) bikin kantong panitia jebol...hehe, namun team pengaman dan penonton dapat dikondisikan dengan baik.

Penonton (Supporter), mereka ini lah yang paling menentukan maju dan mundurnya persepakbolaan Kita nich. Membahas para perusuh tadi, niat amat sih bawa parang (senjata), kembang api (petasan), bahkan air keras. Coba pikirkan ketika mereka membawa barang gituan, cocoknya jadi apa? 

Tukang atau Peladang kan?. Hancurkan --- korosi dengan air keras dan babat rumput sampai akar-akarnya, ini malah sebailknya dijadikan alat untuk men-dzolimi orang-orang yang dianggap musuh-musuhnya.

Walaupun takdir dunia ramai akibat adanya perusuh (kejahatan), namun kerusuhan ini dapat diminimalisir apabila masing-masing individu memiliki kedewasaan dan prinsip yang kuat. Coba kalau para penonton berangkat untuk menikmati hiburan dengan tertib, sportif, dan mencintai perdamaian. Niscaya pertandingannya akan berjalan lancar, manajemen sukses menjalankan event, dan aparat keamanan mudah dalam menjalankan tugasnya.

Foto: www.msport.net
Mari kita memajukan Sepak Bola Indonesia! Saya bukan dukun, tidak ahli dalam sulap atau sihir, jujur saya tidak dapat menentukan Sepak Bola Indonesia akan maju kapan kalau begini terus, mungkin 2116 nanti ya. 

Ini hanya ungkapan satire saja terhadap oknum yang disengaja ataupun tidak mengacaukan Sepak Bola Indonesia. Saya yakin tidak harus menunggu 100 tahun untuk memajukan Sepak Bola Kita, asal Kita sama-sama dewasa dalam mengikuti setiap pertandingan.

Adili mereka yang telah merusak dan membuat kerusuhan sesuai dengan aturan yang berlaku, berikan sanksi yang tegas untuk supporter yang melanggar. Pembubaran group atau supporter bukan lah solusi yang tepat, namun pembinaan & kaderisasi yang dewasa dibutuhkan untuk menciptakan generasi persepakbolaan yang lebih baik. 

Saya pribadi mendoakan Brigadir Hanafi dan rekan-rekannya agar lekas sembuh. Semoga semuanya bisa lebih baik lagi. Aamiin!

2 comments for "Melihat Realita Sepak Bola Indonesia, Mungkin Akan Maju Pada Tahun 2116"

  1. Agree with you in terms of fans indonesia yg geblek atas kejadian Brigadir Hanafi. But let me tell you kalau Sepakbola Di afrika banyak muslim juga tetap bertanding saat puasa, di eropa juga, amerika juga.
    Bukan hanya fans, pihak keamanan, voluntir, tapi pemain dan official juga banyak yg tetap bertanding. Tp hampir tidak ada kerusuhan.
    So, this is just a game kang. Bukan soal kejar target krn EURO tp kejar target agar competisi yg sudah jalan tetap bisa selesai ontime.

    ReplyDelete
  2. Super sekali, cerdas! Sangat setuju bro, kalau bicara individu yang dewasa itu tidak dibatasi siapa dia apakah itu orang islam, keristen, hindu, budha, dll. Kita selaku orang yang komitment untuk mengikuti role yang ada, tentunya pertandingan kapanpun dimana pun harus diikuti. Soal Euro adalah cerita satire atas perkembangan sepak bola Indonesia, rasanya pengen kita seperti supporter Irlandia Utara yang menunjukan sifat positif.

    ReplyDelete

Berlangganan