Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wawasan Kebangsaan, antara Ada dan Tiada

Seperti rutinitas biasa, setelah pulang kerja menyempatkan untuk membukan halaman media online. Dari sekian banyak topik yang disajikan saya sangat tertarik membaca tentang berita “ABG Berpose Injak Patung Pahlawan, Ketua MPR: Wawasan Kebangsaan Memudar”, DetikNews, Senin 9 Mei 2016. 

Saya sangat sependapat dengan Pak Zulkifli Hasan yang menyatakan bahwa kondisi masyarakat Indonesia saat ini berada di zona merah terkait dengan berkurangnya wawasan kebangsaan.

Pramuka yang dibina oleh TNI
Saya termasuk generasi muda walaupun sudah kepala 30, pernah merasakan pendidikan wawasan kebangsaan yang dituangkan dalam butir-butir P4, PMP, PPKN walaupun tidak seberapa apabila dibandingkan dengan para pejuang terdahulu yang merasakan bagaimana pahit getirnya perjuangan merebut kemerdekaan. 

Mengingat kembali 26 tahun yang lalu tepatnya tahun 1990, ketika pertama kali saya masuk SD dengan usia ketuaan 7,5 tahun. Guru saya membuka kelas dengan bertanya kepada para siswanya “Siapa yang tau Pancasila?”, suasana kelas hening. Karena tidak ada yang menjawab, saya memberanikan diri untuk mengangkat tangan. 

Yes, saya dipanggil kedepan. Ya Pak Guru mempersilahkan saya untuk menjelaskan apa itu Pancasila. Ya tanpa basa-basi dengan semangat 45, saya menjelaskan “Pancasila adalah beretika baik pada saat mau makan, Kita harus duduk bersila dengan baik”, dengan sigap saya pun langsung mempraktikan bersila dengan begitu khidmat. 

Beberapa saat kelas hening memperhatikan saya, ada sebagian teman kelas yang lupa kontrol mulutnya sehingga menganga tanpa sadar. Suasana berubah setelah Pak Guru memberikan komando kepada teman-teman untuk memberikan tepuk tangan kepada saya. Saya kembali duduk dan melihat kepada Pak Guru yang memberikan tepuk tangan dengan "senyum penuh makna".

Kembali lagi saya flash back pada saat saya SD saya harus menghapalkan jumlah bulu garuda beserta masing-masing maknanya. Pernah juga merasakan 1 bulan sebelum tanggal 17 Agustus saya disuruh oleh Kakek untuk menaikan bendera merah putih, namun talinya terlepas. 

Alhasil ceramah 4 SKS dengan materi mulai dari materi perjuangan melawan Kompeni, Penjajahan Jepang, dan penyelamatan G30 S/PKI. Menginjak masuk SMP, sejarah kembali terulang Guru saya bertanya “Siapa yang tahu Pancasila ?” kali ini saya lolos dengan lancar, kalau dinilai 99 point. Namun rupanya ada pertanyaan susulan, “Siapakah yang tahu P4?”

Waktu itu saya tidak memberanikan untuk menjadi sukarelawan menjawab P4, khawatir mendapatkan “senyuman penuh makna dari Sang Guru”.

P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yuup, inilah wawasan kebangsaan yang ditanamkan pada zaman Orde Baru, konon katanya tidak sesuai lagi dengan era milenium (era Repormasi). 

Kalau saya sendiri masih membutuhkan P4, karena saya termasuk segelintir orang yang percaya akan “Jasmerah”. Ayo rekan-rekan yang berusia diatas kepala 25 ada yang masih ingat butir-butir P4?. Yuk Kita kembali menerawang kepada pelajaran yang dulu pernah dikenyam di SMP & SMA, sambil menikmati kopi hitam kentalnya.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 
  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan Agama dan Kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 
  • Mengambangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 
  • Membina Kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 
  • Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. 
  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. 
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa 
  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. 
  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. 
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. 
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. 
  • Berani membela kebenaran dan keadilan. 
  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. 
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain. 

3. Persatuan Indonesia
  • Mampu menempatkan persatuan, keadilan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. 
  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlkan. 
  • Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. 
  • mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. 
  • Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 
  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhineka Tunggal Ika. 
  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. 

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
  • Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. 
  • Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. 
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. 
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. 
  • Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. 
  • Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. 
  • Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. 
  • Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. 
  • Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. 
  • Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercaya untuk melaksanakan permusyawaratan. 

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
  • Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. 
  • Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. 
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 
  • Menghormati hak orang lain. 
  • Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri. 
  • Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain. 
  • Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. 
  • Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepantingan umum. 
  • Suka bekerja keras. 
  • Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. 
  • Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Nah setelah rekan-rekan baca dan renungkan mungkin terdapat beberapa butir yang telah Kita abaikan selama ini, ini hanya butir-butir P4 buatan manusia belum lagi ayat-ayat Tuhan yang tercantum dalam Kitab Suci Kita, berapa banyak ayat yang Kita ingkari dan berapa banyak nikmat Tuhan yang Kita duskatan?.

Hanya Tuhan yang tahu dan Kita jawab masing-masing ya bagi mereka yang berfikir.

Mari kembali kepada pokok bahasan mengenai wawasan kebangsaan yang memudar. Selama ini Kita melihat dan mendengar beberapa orang yang melecehkan lambang negara, selebriti yang tidak tahu Pancasila, penyebaran dan penggunaan lambang PKI, ABG yang melecehkan pahlawan. 

Hal ini menunjukan bahwa saat ini Kita mengalami krisis moral. 18 tahun sejak era reformasi tidak membawa dampak yang positif terhadap perkembangan moral bangsa bahkan sedikit demi sedikit tergerus oleh perkembangan zaman. 

Saya perhatikan anak saya sendiri dan kadang iseng tanya-tanya sama ABG mengenai update kekinian, hampir 80% mereka paham apa itu Selfie, Wifi, Facebook, Instagram, Path, Video Call, bahasa-bahasa gaul, dll. 

Namun ketika ditanya sejarah dan wawasan kebangsaan (NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinek Tunggal Ika) hampir 80% mereka tidak tahu.

Kalau menurut Brigjen TNI Bibit Santoso, S.IP, MH menurunnya wawasan kebangsaan saat ini disebabkan oleh: (1) Pengaruh Lingstra yaitu adanya pengaruh globalisasi dalam hal kemajuan telekomunikasi, transfortasi, traveling, media cetak dan elektronik. 

Hal ini yang menyebabkan transfaransi informasi dan budaya sehingga mudah dipelajari dan diadopsi oleh masyarakat. (2) Pengaruh Nasional yaitu kebijakan oleh pemerintah terkait, baik presiden maupun kepala daerah sehingga merubah tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (www.madina-sk.com).

Ini salah Pemerintah, ini salah Kurikulum dan Guru, (orang tua tidak ada yang mau disalah kan ya), ini salah itu salah…STOP. Ini bukan forum Ibu-ibu arisan yang sedang membahas gosip, bukan pula politik lapo tuak. 

Mari Kita sama-sama mengosongkan pikiran tidak bicara salah siapa dan siapa yang bertanggungjawab, namun mari Kita bicara bagaimana solusinya. Saya sependapat dengan Ayah Edy (Praktisi MI & Holistic Learning) yang menggagas Program Keluarga “Indonesian Strong from Home”. 

Dimana Ayah Edy menyatakan bahwa Keluarga merupakan pondasi yang paling penting untuk menentukan generasi bangsa, apabila keluarga kuat maka Indonesia akan menjadi Bangsa dan Negara yang kuat. 

Untuk menjadi Insinyur, Dokter, Tentara, Pebisnis ada sekolah dan lembaga yang membentuk dan mencetak generasi tersebut. Sedangkan menjadi orangtua (ayah & ibu yang baik) tidak ada sekolah atau lembaga yang membetuk dan mencetaknya. 

Oleh karena itu menjadi orang tua yang memiliki moral, etika, mindset, dan pengetahun sangat penting untuk menciptakan generasi yang berlian.

Saya sendiri sedang berjuang kuliah dari alam, lingkungan sosial, sumber-sumber informasi menjadi orang tua yang bertanggung jawab “Strong from Home” katanya. Kami yakin sebaik-baiknya dimulai dari keluarga, sebelum anak minta perhatian kepada orang lain, sebaiknya orang tua lebih dahulu fokus dan memberikan perhatian. 

Sebelum anak meminta kasih sayang sama orang lain, orang tua terlebih dahulu memberikan kasih sayang yang maksimal. Sebelum anak curhat kepada orang lain, jadilah orang tua yang terbuka dan transfaran. Sebelum anak ditegur sama orang lain, sebaiknya orang tua terlebih dahulu menjadi teladan dan mengarahkan anak. 

Saya sendiri meyakini suatu nilai yang berharga buat anak dari orang tua adalah bukan seberapa banyak jumlah uang yang dikorbankan untuk anak, tapi seberapa besar perhatian dan kasih sayang yang dituangkan orang sebagai suri tauladan yang baik.

Tentunya tidak mudah bagi mereka yang memiliki aktivitas padat, ini pun kembali kepada prinsip dan tujuan dari masing-masing keluarga. Bagi Esmud, Head, atau Manager bagaimana mereka mewariskan kecerdasan kepada anak sambil memandikan anak, mengantar anak ke sekolah, dll.

Bagaimana menjadi seorang yang sukses memimpin orang-orang dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan Negara dengan tidak mengesampingkan wawasan kebangsaan. 

Mungkin bagi keluarga petani sambil menunggang kerbaunya menjelaskan penjajahan melawan VOC dengan cara bergrilya, menggunakan peralatan sederhana seperti panah, tombak, atau mungkin bambu runcing. 

Yang berkerja di kebunnya sambil minum kopi hitam kentalnya gimana dulu para pemuda & orang tua dipaksa bekerja paksa Rodi dan Romusa. Atau bagi muda-mudi yang sedang dilanda kasmaran, sambil berwisata ke monument perjuangan diskusi dan menjelaskan bagaimana perjuangan G30S/PKI, tidak kalah pentingnya bagaimana menjaga bukti sejarah sebagaimana pentingnya menjaga hubungan diantara mereka. 

Ini salah satu langkah demi menanamkan moral dan menghargai setiap usaha kepada generasi muda. Ah ini TEORI…yes bagi mereka yang pesimis dan tidak dewasa, tapi NO bagi mereka yang dewasa, berjiwa besar, serta memiliki visi dan misi untuk maju.

Perihal ke-2 adalah dari sisi Pemerintah, Pemerintah sangat berperan dalam menetapkan kebijakan. Diharapkan Pemerintah segera mensyahkan Pendidikan Kebangsaan, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah bahu-membahu menetapkan pendidikan Pendidikan Kebangsaan tersebut mulai dari Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. 

Bentuk Pendidikan Kebangsaan ini seperti Sejarah Perjuangan Bangsa, Pancasila, dan UUD 1945. Namun pendidikan ini tidak semata-mata kembali kepada kejayaan Orde Baru, namun sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman yang lebih bermoral dan bertanggung jawab.

Seperti yang telah disampaikan oleh Pak Zulkifli Hasan, bahwa MPR dan Presiden telah membahasnya mengenai program yang Berwawasan Nusantara. Nantinya akan ada lembaga yang menangani seperti zamannya Pak Soeharto yaitu Manggala BP7. 

MPR sejauh ini telah mensosialisasikan kepada 15 universitas yang ada di Indonesia untuk merumuskan haluan Negara. (DetikNews, 9 Mei 2016).

Perihal ke-3 adalah dari sisi Pendidik dan Lembaga Pendidikan. Ini adalah mesin produksi yang akan menciptakan barang dan jasa yang berkualitas atau tidak bagi masa depan masyarakat Indonesia. 

Ketika dimulai dengan Guru dan Dosen yang berkualitas baik, peraturan yang jelas/tegas, serta fasilitas yang mendukung. Dari sinilah akan tercipta produk yang berkualitas tinggi, yaitu generasi muda yang mampu menjalankan cita-cita pribadi, keluarga, dan perjuangan bangsa. 

STOP SARA terselubung seperti berbicara perbedaan IPA dan IPS, Swasta dan Negeri, Pintar dan Bodoh, dll. Semua itu tidak akan berjalan baik apabila tidak ada keseimbangan, sebagaimana pribahasa ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh, kecerdasan tanpa moral akan menghancurkan.

Berhubung Kopi saya sudah habis, sampailah Kita di penghujung oret-oretan mengenai kondisi kekinian. Dapat kita simpulkan bahwa kondisi mental dan moral bangsa berada pada tahap yang cukup memprihatinkan hal ini kita ketahui dari berbagai media yang menginformasikan perihal pembunuhan, korupsi, kekerasan remaja, pelecehan sexual, peleceha symbol dan lambang Negara, tingkat pemahaman kebangsaan yang rendah, dll. 

Mari Kita bersama-sama berjuang untuk menyelesaikan permasalah ini dimulai dari pondasi utama yaitu Keluarga, suarakan kepada Pemerintah untuk menetapkan kebijakan Pendidikan Moral yang berwawasan Kebangsaan yang ditanamkan dalam kurikulum pendidikan saat ini, dan Lembaga Pendidikan (termasuk pendidik dan fasilitas pendidikan) yang akan memproduksi generasi SDM yang cerdas, bermoral, beriman, dan memiliki tanggung jawab. 

Segregasi 3 dimensi ini diharapkan akan menyelesaikan krisis moral bangsa dengan baik.

Post a Comment for "Wawasan Kebangsaan, antara Ada dan Tiada"

Berlangganan