Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebun Binatang Bandung, Apa Kabarmu?

Kebun Binatang Bandung, 22 tahun yang lalu disinilah salah satu tempat favorit saya berwisata pada saat ikut kakak pertama kali ke Bandung. 13 tahun yang lalu disini pula salah satu tempat jalan-jalan dengan pacar saya ketika pertama masuk kuliah. 4 tahun yang lalu disini pula anak-anak menikmati liburan, tahu beragam binatang, dan belajar mencintai lingkungan. Disanalah terakhir Kami merasakan Kebun Binatang Bandung kondisinya masih bersih, nyaman, indah, binatangnya lengkap dan arena bermainnya cukup banyak. Namun sekitar 2 minggu yang lalu saya membaca kabar dari media elektronik santer memberitakan bahwa Kebun Binatang Bandung kondisinya memprihatinkan. Bahkan saya sendiri sempat memposting status di FB “Mari Benahi…Kondisi Kebun Binatang Bandung Saat Ini, Banyak Kandang Rusak dan Kotor, DetikNews.com”.

Kang Emil - Walikota Bandung, sumber: www.detik.com
Status FB ini sebetulnya merupakan salah satu protes mengapa bisa terjadi seperti ini? Ada masalah apa dengan pengelola? Apakah warga Bandung sudah tidak cinta lagi dengan binatang? Sudah sejauh mana upaya yang dilakukan Kang Emil sebagai Walo Kota Bandung? Bla…bla…bla, banyak lagi pertanyaan saya mengapa kondisi ini bisa terjadi. Belum selesai pertanyaan tersebut terjawab, hari ini saya mendapat kabar bahwa Yani (Gajah Sumatera Penghuni Kebun Binantang Bandung) mati pada usia 37 tahun. DetikNews.com, 20 Mei 2016. Penyebab kematian Yani masih dipelajari oleh team Dokter Hewan Bandung, bangkai Yani akan di outopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Ada apa dengan Kebun Binatang Bandung? Tidak afdol kiranya apabila Kita menerka-nerka, sebaiknya Kita pelajari terlebih dahulu sejarahnya. Kebun Binatang Bandung berdiri tahun 1930 dikenal oleh warga Bandung sebagai Derenten (dalam Bahasa Sunda) yang artinya Kebun Binatang (Bandung Zoological Park). Pendiriannya dipelopori oleh Direktur Bank Dennis, Hoogland yang telah ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dalam keputusan tanggal 12 April 1933 No. 32. Pada tahun 1956 Bandung Zoological Park (BZP) dibubarkan dan diganti namanya menjadi Yayasan Margasatwa Tamansari, www.wikipedia.org/Kebun Binatang Bandung.

Yayasan Margasatwa Tamansari merupakan pihak swasta yang mengelalo Kebun Binatang Bandung dengat 4 fungsi utama:
  • Fungsi Kebudayaan, Kebun Binatang Bandung sebagai tempat rekreasi yang didalamnya terdapat wahana pergelaran seni budaya yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran dan rasa cinta tanah air melalui pengamatan dan pemahaman kekayaan budaya, kekayaan flora dan fauna Indonesia.
  • Fungsi Pendidikan dan Iptek, merupakan sebuah wahana yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan edukatif untuk menghasilkan riset dan pengetahuan baru yang berguna bagi masyarakat.
  • Fungsi Perlindungan dan Pelestarian Kekayaan Alam, sebagai wahana untuk melestarikan flora dan fauna Indonesia sebagai asset yang berharga.
  • Fungsi Rekreasi, Kebun Binatang merupakan tempat untuk rekreasi yang dapat dinikmati oleh warga Bandung dan sekitarnya, www.wikipedia.org/Kebun Binatang Bandung.

Seiring berjalannya waktu keempat fungsi tadi mulai tergerus akibat masalah manajerial dari pihak mengelola. Informasi terbaru bahwa Yayasan Margasatwa Tamansari telah menunggak biaya sewa lahan kepada Pemkot Bandung sebesar 2,4 M selama periode 2007 - 2016. Perihal sewa dan masa depan Kebun Binatang Bandung ini menjadi rumit karena pihak Yayasan sendiri menganggap tidak ada kontrak/dokumen sewa antara Yayasan dengan Pihak Pemko Bandung. Pihak Pemko Bandung sendiri sudah mengupayakan memanggil pihak Yayasan bahkan telah membawa ke DPRD untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sampai sejauh ini belum ada perkembangan yang signifikan di antara keduanya.

Sungguh sayang asset yang sangat berharga ini terbengkalai, perlu tindakan yang nyata dari berbagai pihak terkait untuk menyelesaikannya. Geliat perhatian dan rasa prihatin mengenai kondisi Kebun Binatang sudah mulai disuarakan oleh masyarakat Bandung dengan menyuarakan Petisi “Save Bandung Zoo” pada pertengahan Bulan April 2016. Petisi ini ditujukan kepada pihak Pengelola dan Pemko Bandung. Sampai sejauh ini berdasarkan informasi yang berkembang Petisi ini masih ditanggapi dingin oleh pihak pengelola. Sedangkan pihak Pemko Bandung menanggapinya dengan positif. Sehari yang lalu Kang Emil menjenguk Yani pada saat kondisinya sedang kritis. Sudah 1 tahun ini pihak kebun binatang tidak memiliki Dokter Hewan, sehingga hewan-hewan yang sakit ditangani alakadarnya bahkan harus ditebus dengan kematian Yani.

Lantas updaya apa yang harus Kita lakukan?. Karena tujuan utama Kebun Binatang Bandung ini 4 fungsi seperti di atas, maka solusinya pun 4 pihak yang bertanggungjawab menyelesaikan permasalahan ini:

Investor, dalam hal ini adalah pihak Swasta maupun Pemerintah yang dapat menanamkan investasinya di Kebun Binatang, seperti:
  • Pemerintah, dalam hal ini adalah Pemko Bandung. Apabila jalur komunikasi tidak membuahkan hasil, segeralah membawa ke jalur hukum. Buatlah kebijakan dan peraturan yang tegas dalam pengelolaan Kebun Binatang ini, apakah akan dikelola oleh pihak Yayasan itu sendiri (swasta) atau akan dikelola oleh Pemko (asset negara). Diharapkan siapapun pihak pengelola dapat menjalankan amanah dengan baik yaitu pro kepada SDA dan masyarakat tidak hanya mementingkan bisnis semata.
  • Selesaikan permasalahan dengan pihak pemerintah daerah mengenai regulasi pengelolaan Kebun Binatang itu sendiri
  • Perbaiki sarana dan fasilitas Kebun Binatang (termasuk meningkatkan SDM pengelola
  • Promosi kepada berbagai pihak terkait
  • Evaluasi dan perbaiki hal-hal yang menjadi kelemahan
Pengelola, dalam hal ini adalah Yayasan Margasatwa Tamansari. Sudah saatnya terbuka dengan kondisi saat ini. Apa yang disuarakan masyarakat, panggilan pemerintah daerah, atau tatapan orang utan yang sakit akibat kurang makan dan pengelolaan. Mulailah merevolusi diri memperbaiki tata kelola Kebun Binatang.
  • Laboratorium penelitian SDA
  • Galeri Binatang
  • Sekolah alam
  • Hotel alam
  • Area permainan yang berwawasan alam, dll
Masyarakat, dalam hal ini adalah masyarakat sebagai subjek maupun sebagai objek dari Kebun Binatang. Sebagai subjek masyarakat harus menetapkan betapa pentingnya SDA Kita harus menjaga dan melestarikannya. Selain jalan-jalan ke Mall, Bioskop, Luar Negeri, sempatkan jalan-jalan ke Kebun Binatang. Sebagai objek, masyarakat harus mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari Pihak Pengelola, sehingga tercipta simbiosis mutualisma antara Pengelola dan Masyarakat. Masyarakat mendapatkan benefit kenyamanan dan pengetahuan, sedangkan Pengelola dapat menjalankan management sehingga Yayasannya berkembang dengan baik.

Post a Comment for "Kebun Binatang Bandung, Apa Kabarmu?"

Berlangganan