Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hasrat Subur, Moral Prematur

Setelah membaca beberapa informasi dari media cetak dan elektronik, saya jadi teringat ketika semester 2 kuliah. Ada tugas dari dosen untuk mencari headline dari berbagai surat kabar tentang informasi upate yang sedang berkembang di masyarakat. Topik tersebut akan didiskusikan di depan kelas minggu depan. Saya sibuk mencari beberapa surat kabar (tahun 2014, belum ada media elektronik di gadget) sehingga koran numpuk di kamar. Pada saat itu saya memilih tema update informasi ekonomi (biar sesuai dengan jurusan) yaitu "Indonesia Ekspor Karet ke Amerika, kedua terbesar setelah Malaysia".

Saatnya perkuliahan telah tiba, saya dan teman-teman kelas mempersiapkan materi headline yang sedang menjadi buah bibir di masyarakat. Perkuliahan pun dimulai, Bu Dosen mulai membuka wacana dengan metode diskusi kepada saya dan rekan-rekan. "Ayo informasi apa yang sedang update di masyakarkat saat ini?". Saya bergiliran menyampaikan informasi yang dipersiapkan sebelumnya, ada yang berkaitan dengan ekonomi makro, ekonomi mikro, masalah pemasaran, saya sendiri menyampaikan mengenai Ekspor Karet Indonesia tadi.

Alhasil apa yang saya dan teman-teman sampaikan hasilnya nihil, tidak sependapat dengan pemikiran Ibu Dosen. Saya dan teman-teman sangat penasaran apa sih yang menurut Si Ibu informsi yang paling "Hits" itu. Akhirnya ada teman perempuan saya menyampaikan headline yang berbeda dengan sekian banyak informasi yang disampaikan sebelumnya yaitu "Gantung Diri dan Pembunuhan". Kami sekelas terkejut, Ibu Dosen sumringah mengamini informasi tersebut, "YA ini lah informasi dan headline yang berkembang di masyakat saat ini, ini merupakan fakta yang harus kita waspadai".

Pendidikan adalah segala-galanya, sumber: www.google.com
Pada saat itu saya sedikit heran dan sempat mengatakan "Gak Nyambung", rupanya saat ini saya kembali tergelitik dengan headline dari media cetak dan elektronik dengan maraknya berita "Pembunuhan". Ya memang saat ini saya akui sependapat dengan Ibu Dosen dari sekian banyak informasi/berita di surat kabar atau media elektronik, berita kematian merupakan data yang paling faktual dan saya 100% percaya. Sedangkan tentang informasi seperti "Ketua Umum Partai Golkar, Ibu Ditilang karena bonceng anaknya menggunakan Helem Ember, Sophia Latjuba bungkam ditanya tentang Ariel, Demo warga DKI di depan KPK untuk menurunkan Ahok, atau tentang Sipul Jamil selfie di depan Ruang Sidang, dll". Saya cukup tahu saja karena banyak bumbu yang bertebaran, dikhawatirkan mengganggu kesehatan jiwa dan raga.

Berbicara soal kematian, saat ini berbagai media menginformasikan fakta-fakta seperti Pembuhunan Angeline, Kasus Kopi Maut Mirna, Pembunuhan Dosen UMSU Medan, pemerkosaan & pembunuhan anak di lampung, Pembunuhan Eno, dll. Setelah saya telusuri dan renungkan dari sekian banyak kasus yang berujung kematian kemudian saya tarik benang merahnya, semua kasus berawal dari "HASRAT" yang tidak terpenuhi dengan baik.

Kok hasrat sih? Apa itu hasrat? Ya memang disinilah letak permasalahannya. Hasrat menurut KBBI, yaitu keinginan (harapan) yang kuat. Pertama, bisa terjadi akibat adanya pengenalan (kognitif: seperti pengamatan, tanggapan, ingatan, asosiasi, fantasi, berfikir, dan intelegensi). Kedua, bisa terjadi akbiat adanya perasaan (emosi: seperti perasaan keindahan, sexual, perasaan sosial, kesusilaan, ketuhanan, perasaan diri dan intelektual). Ketiga, bisa berasal dari kehendak (konasi: seperti refleks, insting, kebiasaan, kecenderungan). Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhinya apabila salah satu Hasrat ini tidak dapat dipenuhi maka akan menyebabkan frustasi, stress, bahkan defresi, dll (ahli psikologi yang lebih tahu ya).

Apakah Hasrat itu harus terpenuhi? Ya, namun harus disesuaikan dengan kapasitas masing-masing. Selain itu Hasrat ini adalah motor penggerak untuk menuju kesempurnaan yang telah Tuhan Lapangkan di dunia sehingga setiap orang dapat berlomba-loma mendapatkannya dengan caranya masing-masing. Perlu kita ketahui Hasrat ini sangat mahal harganya, ini adalah salah satu bentuk Kebesaran dan Kasih Sayang Tuhan agar manusia berkembang dengan baik dan sempurna. Memang saya akui Hasrat gagal itu SAKIT, dulu ketika saya SD di kampung orang pakai sepatu NB saya Buterfly (sepatu kelinci) --- nangis, mengadu sama orang tua. Dulu mau masuk ke SMP & SMA favorit karena nilai pas-pas an ditolak, uring-uringan. Dulu nembak gadis SMA yang jadi incaran orang-orang, ditolak merajuk. Dulu mau kuliah jadi Akuntan di STAN tapi gagal, murung sampai sakit dan harus menunggu selama 1 tahun untuk masuk SNMTP (kalau sekarang SBMPTN). Kalau sekarang lain lagi nich baru belanja gelas dan piring kaca, sampai di rumah hancur sama anak-anak, elus dada. Dinding baru dicat, akhirnya dilukis habis sama anak-anak, elus dada....lantai setiap hari harus di pel 5x akibat berantakan, elus dada dll. Itu lah sebagian contoh hasrat/harapan dengan kenyataan.

Bersukurlah bagi rekan-rekan yang memiliki keteguhan hati pada saat Hasrat tidak tercapai, ingat ya itu adalah anugrah tak terhingga dari Tuhan. Saya sangat kaget sekaligus empati, sakitnya seperti bayi kesedak susu atau nenek-nenek kesedak nasi yang sulit dikunyah, nyelekit di dada. Setelah membaca kasus pembunuhan yang sangat keji seperti kasus Eno di Bekasi, Kasus Dosen UMSU, kasus di Lampung. Ini adalah salah satu bentuk kegagalan generasi muda yang tidak seimbang antara Hasrat dan Moral. Hasrat/nafsunya tumbuh subur namun Mental dan Moral Prematur.

Kok bisa terjadi Hasrat Subur, Moral Prematur? Kalau menurut saya jawabannya adalah akibat LALAI. Lalai bagaimana ? Ya lalai dari keluarga, lalai dari lembaga pendidikan, dan lalai dari Pemerintah. Kok bisa semuanya lalai? memang demikian adanya. Saya tidak perlu menjelaskan jawabannya, karena yakin sudah ada di diri masing-masing. Tapi saya mau bertanya sama diri sendiri saja. Kalau mau ikutan ayo Kita sama-sama merenungkannya ya, tapi jangan bergumam (nanti dianggap orang gila...heheh).

Lalai dalam Keluarga. Apakah anak-anak kita diberikan contoh yang baik oleh Kita? Apakah anak-anak sudah diberikan peluk kasih sayang dan perhatian? Apakah anak sudah kita arahkan mana yang baik dan benar? Apakah anak-anak sudah diajarkan tatakrama dan etika? Apakah Kita sudah menjadi orang yang terbuka dengan permasalahan mereka? Apakah anak sudah diberikan basic pengetahuan agama: solat bareng, ngaji bareng, ke gereja bareng, ke vihara bareng? Apakah anak sudah disekolahkan di tempat yang sesuai dengan potensinya? Atau sebaliknya, anak yang harus menghargai Kita? Kita asik dengan Serial Utaran, Sinetron Anak Jalanan, olah raga jari main gadget. (dalam hati anak/istri/suami --- yang dilihat hanya TV, kapan saya dilihat? Yang dipeluk bantal dan guling sambil kaki seperti kalajengking ketawa-ketawa lihat gosip dan sinetron. Gadget selalu dipegang kemanapun dan dimana pun --- anak/istri/suami iri mereka jarang disentuh dan diperhatikan ketimbang gadget).

Lalai dalam Pendidikan. Saya membatasi disini tidak semua sekolah dan universitas yang buruk, namun mengingat banyaknya pemberitaan saat ini Kita bahas hal-hal yang dianggap lalai saja. Kita miris setelah mendengar Ibu Nurmayani dari Bantaeng - Sulawesi Selatan, dipenjara akibat mencubit seorang anak Polisi, sedih kan? Ada lagi Guru di Tambun Bekasi yang mencabuli 10 siswanya, sedih lagi? Masih di Bekasi siswa SMP di rumah kosong melakukan hubungan intim, kurang ajar kan? Ini lah sisi gelap pendidikan saat ini, beda dengan zaman dulu saya SD (mungkin akibat di Kampung kali ya). Saya kena hukum guru dengan penggaris dan berdiri di depan kelas akibat kesiangan. Kemudian saya mengadu sama orang tua, eh malah dapat bonus cubitan. Esok harinya saya diantar ke sekolah kemudian dititipkan ke guru yang menghukum saya. Ibu saya bilang, "Terimakasih banyak telah membantu pendidikan anak saya, kalau besok mengulang kesalahannya dihukum lagi aja". Begitulah nasib siswa pada zaman orde baru.

Dari materi pelajaran nya juga kita mengabaikan pendidikan agama dan moral. Pendidikan sekarang lebih kepada pendidikan quantitatif, daripada kualitatif. Kemarin saya mencoba membuka soal Try out UN SD dari lembaga kurus terkenal di Indonesia, karena saya sendiri tahun ini akan menyekolahkan anak ke SD. Setelah dibukan dan dipelajari, waduh diluar dugaan soalnya bikin mual dan mata berkunang-kunang, materi pelajarannya setara SMA dulu saya dikampung. Super sekali memang, jujur saya pusing mungkin karena saya sudah mulai tua dan tingkat kecerdasannya tidak setara dengan anak millennial sekarang.

Dapat disimpulkan terdapat 3 hal yang mempengaruhi kelalian, yaitu: Pertama, Payung Hukum. Pendidikan harus memiliki hukum yang tegas yang mengatur tentang code of conduct pengajar, siswa, dan lembaha penegak hukum. Hukum ini harus tajam ke semua pihak, guru yang melanggar kena hukum, siswa yang melanggar kena sanksi, orang tua yang kekanakan tidak semena-mena, dan semua pihak yang benar mendapatkan perlindungan hukum yang adil dari penegak hukum. Kedua, Pendidik. Seharusnya untuk menjadi seorang guru/dosen itu adalah orang yang paling berkualitas, universitas nya dibatasi, kelasnya dibatasi, kesejahteraannya ditingkatkan. Coba kita lihat sekarang, terdapat sekolah tinggi/universitas yang abal-abal bahkan fiktif lulusan terbanyaknya adalah keguruan. Mau dibawa kemana? (...nyengir sambil nyanyi lagu Armada). Ketiga, Seleksi. Kan selama ini sudah dilakukan seleksi terhadap siswa? Ya memang, tapi untuk kedepannya kita harus anti mainstream sebelum masuk sekolah orang tuanya pun harus di seleksi dong. Seleksi apa sih, ribet amat? Seleksi semuanya mulai dari interview sampai dengan wawancara, untuk apa? Ya untuk menentukan komitment, masa depan anak, dan sekolahnya.

Sekolah dan Orang Tua harus belajar dari sistem sharing ekonomi, dimana sekolah harus tahu latar belakang orang tua dan siswa dengan jelas dan transfarant, mulai dari tujuan menyekolahkan anak, kemampuan finansial, tingkat pendidikan keluarga, dan komitment orang tua. Waaah sekolah mau memeras nich? TIDAK, justru sekolah akan menjadi fasilitator untuk menjembatani antara proses pembelajaran dan masa depan siswanya. Bagi orang tua yang mampu, dapat menjadi orang tua asuh bagi siswa yang lain yang berprestasi namun kurang mampu. Sekolah harus meluruskan obsesi orang tua terhadap anaknya dimana orang tua pengen masa depan anaknya A sedangkan siswa nya sendiri berpotensi B. Dari sisi orang tua terhadap sekolah, dengan budaya transfaransi maka orang tua menjadi kontrol terhadap proses pembelajaran di sekolah. Orang tua dapat meminta komitment kepada pihak guru untuk memberikan pendidikan yang tepat kepada anaknya.

Lalai dari Pemerintah. Tidak ada kata terlambat dalam berusaha, itu adalah harapan bagi kita semua untuk menghadapi keterpurukan moral bangsa. Pemerintah lalai mengeluarkan peraturan yang tegas dah tajam kesemua pihak. Coba bayangkan kasus di Surabaya dimana anak di bawah umur telah melakukan pemerkosaan namun karena tidak ada hukum yang tegas, dimana hasil keputusannya "Dikembalikan kepada orang tua, hanya dikenakan wajib lapor". Saya sedih sekali...hukum ini mandul dengan alasan tidak ada pasal yang mengatur anak-anak di bawah umur. Ya saya tak habis pikir, selama anak kecil itu sudah tertarik sama lawan jenis, bisa melakukan hubungan sexual, bahkan merugikan orang lain, ini harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Ini sangat kontradiktif, coba kita bayangkan keluarga si perempuan menangis tersedu-sedu, masa depan anaknya hancur, tidak ada keadilan. Sedangkan keluarga si laki-laki/pemuda pemerkosa kipas-kipas di kursi goyang, sambil ngomong dari Sabang sampai Merauke "Ha..ha..akhirnya Anak kita selamat". Bagi si pemerkosa, "Aduh selamat-selamat, enak....besok lagi ah". (ini bukan baper ya, karena anak-anak saya semuanya laki-laki).

Kalau begitu solusinya bagaimana dong? Kalau saya sendiri sangat yakin dan percaya ini dia obatnya:
  • Keluarga, saya tidak akan bercerita banyak sebaiknya dibaca saja ya (dibagian akhir): Wawasan Kebangsaan, antara Ada dan Tiada
  • Agama, Kenapa agama yang ke-2, bukannya yang pertama? Di dunia ini proses agama dimulai diluar keluarga. Ya semunya berawal dari keluarga, apakah itu memang mengikuti keluarga, atau sengaja keluar dan menentang kebiasaan keluarga yang diluar nalar) sehingga diperoleh wahyu/hidayah. 
  • Saya sependapat dengan Dr. Dzakir Naik, dimana manusia akan sempurna apabila mendapatkan jalan Tuhan. Apabila manusia diibaratkan sebagai mesin yang paling canggih dan paling kompleks di dunia ini, dimana mesin ini memiliki kemampuan unuk menghasikan apapun. Tentunya mesin tersebut perlu buku manual agar pada saat ada kendala dapat diselesaikan dengan baik. Buku manual ini yaitu Kitab Suci (Al-Quran) dan Al Hadis, atau Kitab Suci lainnya yang diyakini oleh manusia yang bersumber dari Tuhan. Saya yakin apabila kita kembali kepada sumber yang utama yaitu kitab suci, kita faham dan mengamalkannya niscaya hal-hal yang merugikan akan berkurang. Mari Kita sama-sama kembali kepada buku manual kehidupan (Kitab Suci) kita jalankan roda kehidupan dengan mengikuti prosedur sehingga menghasilkan kinerja mesin yang baik. Apabila membutuhkan informasi lebih lengkap kan ada Al-Hadis yang menjelaskan dengan detail mengenai khidupan. Mungkin sebagian orang beranggapan Hadis ini tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, tidak. Hadis juga ada yang kontemporer, berdasarkan ijtihad pada Ulama untuk menyesuaikan dengan kehidupan saat ini. Contoh, hadis kontemporer tentang aturan pada saat solat HP berdering. Untuk point nomor 2 ini intinya adalah Iqro (bacalah, belajar sepanjang hayat tentang agama niscaya selamat).
  • Pendidikan, Pendidikan pun sebaiknya dilihat ya disini (bagian akhir): Wawasan Kebangsaan, antara Ada dan Tiada
  • Pemerintah, Aduh ini juga sama, kebanyak nulis nanti (bagian akhir juga ya): Wawasan Kebangsaan, antara Ada dan Tiada. Selain bertugas untuk menetapkan peraturan dan kebijakan pemerintah harus berhasil menciptakan stabilitas ekonomi. Ketika kondisi ekonomi baik, maka tingkat kesejahteraan akan meningkat, ketika kesejahteraan meningkat maka tingkat pendidikan meningkat, ketika tingkat pendidikan meningkat maka tingkat kriminalitas akan berkurang.Sebagai contoh di negara maju dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang baik seperti Finlandia dan Swis, masyarakatnya bersih, sejahtera, disiplin, toleransi, tingkat kriminalitas rendah, harapan hidupnya tinggi. Kalau saya ibaratkan mereka (penduduk) di negara maju sudah betul-betul manusia yang tegak berdiri. Posisi kehidupanya sudah ada di seputar kepala, yaitu bagaimana memaknai kehidupan. Lain halnya dengan masyarkat dengan tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang masih lemah. Saya ibaratkan posisinya masih membungkuk, posisi kebutuhanya berada di posisi perut. Kebanyakan dari mereka masih berfikir mengenai bagaimana urusan ekonomi, sexual, dan aktualisasi diri belum memikirkan tangungjawab moral dan sosial. Apabila kaitannya dengan urusan perut, mungkin saja masyarakat ini bertindak bar-bar. Bagaimana dengan Indonesia saat ini? Hahaha...saya tidak perlu menjawab, Anda lebih tahu jawabannya ya.
  • Lingkungan, Lingkungan disini dibatasi yaitu lingkungan bermasyarakat berdasarkan tempat tinggal. Lingkungan yang gimana yang baik? Dimanapun tempatnya sebaik-baik lingkungan bermasyarkat adalah lingkungan yang CARE, yaitu lingkungan yang memiliki perhatian lebih kepada keharmonisan keluarga, bermasyarakat, beragama, dan bernegara.

Post a Comment for "Hasrat Subur, Moral Prematur"

Berlangganan