Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menguak Fenomena SNMPTN Tahun 2009

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) merupakan seleksi untuk masuk perguruan tinggi negeri melalui tes secara nasional. 

Tes ini memang diadakan setiap tahun ajaran baru yaitu bulan Juli – Agustus. Tes nasional ini sebelumnya bernama Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) kemudian berubah nama menjadi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), berubah lagi menjadi SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) dan yang terakhir yaitu SNMPTN. 

Semuanya sama yaitu tes untuk masuk perguruan tinggi negeri, tetapi perubahan tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi pendidikan nasional.


Ilustrasi Tes SNMPTN

SNMPTN merupakan salah satu jembatan yang harus ditempuh oleh para calon mahasiswa untuk menjemput cita-citanya di perguruan tinggi negeri. Setiap siswa SMA/SMK/MA dapat mengikuti tes ini tanpa harus mengeluarkan banyak biaya seperti jalur khusus. 

SNMPTN berbeda dengan jalur khusus, SNMPTN merupakan tes nasional sedangkan jalur khusus diadakan oleh masing-masing universitas. Jalur khusus ini diantaranya yaitu Ujian Saringan Masuk (USM), Ujian Masuk (UM), SMUP (Seleksi Masuk Universitas Padjajaran), dan sebagainya.

Jalur SNMPTN merupakan jalur yang paling ringan bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah, asalkan mampu bersaing tes secara nasional mereka dapat menikmati bangku perguruan tinggi. 

Namun fenomena itu mulai bergesar bahkan telah dirusak oleh oknum panitia dan calon mahasiswa yang tidak bertanggung jawab. SNMPTN ini dijadikan sebagai alat untuk memperkaya diri atau mendapatkan cita-cita dengan jalan pintas.

“Joki” merupakan istilah yang digunakan bagi orang-orang yang memberikan jasa untuk meloloskan siswa ke perguruan tinggi dengan mendapatkan pembayaran sejumlah uang sebagai balas jasa. 

Kasus joki SNMPTN ini akan merusak moralitas dan kualitas pendidikannya di Indonesia. Asalkan punya uang ratusan juta mereka bisa menikmati bangku perkuliahan yang diinginkan. Bagaimana dengan nasib masyarakat kecil yang mengandalkan otak saja ?

Menurut Pikiran Rakyat Jumat 3 Juli 2009 kasus perjokian ini calon mahasiswa berani membayar 100 juta agar masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Berbagai modus dilakukan oleh para joki dan para calon mahasiswa agar cita-citanya bisa tercapai. 

Ada yang menggunakan Handpon, Handsfree dan dengan menggunakan isyarat-isyarat tertentu. Kasus perjokian SNMPTN di Bandung yang berhasil dibongkar yaitu berhasil ditangkap sebanyak 15 calon mahasiswa, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Sontekan dalam kasus perjokian ini bisa dalam bentuk SMS (Short Message Servic), lisan, dengan lambang atau bunyi tertenu. Hal yang paling sederhana untuk mengetahui kasus kecurangan peserta SNMPTN dapat diketahui dari gerak-geriknya. 

Panitia dapat memperhatikan gerak-geriknya seperti selalu mencuri pandang kepada panitia, gerak-gerak, berbicara sendiri, atau seakan menyembunyikan sesuatu; apabila terjadi hal tersebut mungkin calon mahasiswa tersebuk sedang melakukan kecurangan. 

Sedangkan untuk bunyi tertentu diantaranya menggunakan istilah ayam untuk jawaban “A”, bebek untuk “B”, cacing untuk “C”, dodol untuk “D”, dan enak untuk “E”.

Fenomena perjokian ini memang sulit untuk dikendalikan, tetapi bukan tidak mungkin untuk segera dicegah. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kasus perjokian diantaranya:

A. Percetakan:
  • Memilih percetakan yang jujur dan dapat dipercaya, 
  • Menandatangani perjanijian di atas materai atas kerahasiaan dokumen (apabila melanggar dapat dituntut pidana atau denda), 
  • Proses pengiriman dokumen dengan benar (jumlah dokumen sebelum dikirim dan jumlah dokumen setelah diterima). 
B. Bagi panitia:
  • Panitia SNMPTN menandatangani perjanjian untuk kejujuran dan pertanggungjawaban di atas materai, 
  • Pada saat pelaksanaan panitia tidak diperkenankan untuk menggunakan HP (harus dititipkan ke panitia bagian tata tertib), untuk komunikasi dapat menggunakan radio phone atau HT (Hand Talk), 
  • Panitia pengawas tidak diperkenankan untuk meninggalkan ruangan (kecuali ke toilet selama 5 menit), 
  • Jumlah soal sudah sesuai dengan jumlah peserta SNMPTN yang ada dalam ruangan, 
  • Panitia pengawas dapat mengawasi calon mahasiswa secara cermat dan seksama apabila terdapat gejala-gejala yang mencurigakan, 
  • Apabila terbukti melanggar panitia dapat dikeluarkan, skorsing, atau dipenjara.

C. Bagi calon mahasiswa:
  • Tidak diperkenankan membawa HP, Handsfree, berbicara, 
  • Alat yang diperkenankan untuk dibawa yaitu ballpoin, pensil, dan penghapus, 
  • Tas, jaket atau benda lainnya disimpan di dekat meja pengawas, 
  • Diperkenankan ke luar ruangan selama 5 menit.
Di atas merupakan langkah-langkah sederhana untuk mengantisipasi kecurangan SNMPTN. Sehingga kualitas pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik; masyarakat lebih objektif, jujur, dan bertanggung jawab.

Pendidikan adalah hak semua warga Indonesia baik si kaya atau si miskin semua mendapatkan hak yang sama. Bagi mereka yang memiliki harta, jabatan, dan kemampuan manfaatkanlah di jalan yang benar. 

Bagi mereka yang kurang beruntung harta dan jabatannya persilahkanlah untuk merubah hidupnya dengan pendidikan. Sehingga masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sehat, cerdas, jujur, bertanggung jawab, dan berahlakul karimah.

Post a Comment for "Menguak Fenomena SNMPTN Tahun 2009"

Berlangganan